Minggu, 03 November 2019

Joko Pinurbo dan Haus Hujannya

   

    Joko Pinurbo atau sering disapa Jokpin adalah penyair yang memiliki gaya kepenulisan yang unik. Kesederhanaannya dalam berpuisi selalu membuat kita merasa getir ketika membaca puisinya, puisi-puisi yang memang menggambarkan sebuah kehidupan nyata yang sering dan tidak akan asing kita lihat atau kita alami. 

     Tidak hanya tentang kegetiran hidup yang ia suguhkan, Jokpin pun sering memunculkan humor dalam puisi-puisi yang ia buat. Dalam sebuah diskusi tentang berpuisi beliau pernah menjelaskan bahwa humor yang sering ia suguhkan itu terinspirasi dari humornya Alm. Gusdur. Di mana humor yang Gusdur sendiri sering lontarkan yaitu sebuah humor yang menurut Jokpin merupakan permainan logika tingkat tinggi. begitupun humor yang ia suguhkan dalam puisi-puisinya "Humor dalam puisi saya adalah hasil belajar di mana isinya tentang permainan logika." Jelas beliau.


     Salah satu puisi Jokpin yang menarik menurut penulis adalah puisi Haus Hujan. Di mana puisi tersebut secara sepintas menggambarkan seseorang yang malah sering tidur di waktu hujan tiba, Dalam puisi tersebut hujan seolah menjadi makhluk hidup yang kesepian yang malah mendengar derainya sendiri tanpa ada seorangpun yang peduli. yang menggelitik dalam puisi tersebut ketika ang hujan berbicara "Segala yang dingin dan menggiurkan berasal dariku dan harus kembali kepadaku. sudah bekukah hatimu? jauh-jauh aku datang hanya untuk kau tinggal tidur." 


     Dalam puisi Haus Hujan yang ditulis Jokpin bukan hanya sindiran tentang orang-orang yang tidur saat hujan, tapi dapat kita liat di bait keduanya terdapat sebuah penyesalan si Ia. Ia yang saat hujan tiba malah tidur mendengkur, tetapi pada saat si tokoh Ia bangun ia mencari hujan, dan hujan tersebut tidak ia temukan terkecuali sebuah tapak-tapak hujan di halaman buku.


     Puisi tersebut menggambarkan ironisnya sebuah kenikmatan hidup yang manusia sia-siakan dan berujung dengan sebuah penyesalan. Hal tersebut memang sebuah peristiwa yang memang rawan terjadi. Tetapi Jokpin mampu mengemasnya dalam sebuah karya yang menawan dan memiliki kesan tersendiri. Dalam puisi tersebut kita diajak berimajinasi, hujan yang memiliki tingkah laku seperti manusia seolah benar-benar hidup dan ada sebagai manusia. Mungkin dari hal tersebut kita bisa memikirkan bagaimana jika saja benda mati memiliki tingkah laku dan terutama memiliki perasaan seperti manusia.

     Sebagai seorang penyair Joko Pinurbo merupakan seseorang yang memiliki peran perubahan besar dalam kesusatraan di Indonesia. Gaya menulis puisi yang khas ia lakoni bukan seolah-olah hanya menulis, tetapi jauh dari sana ia telah memberi sebuah keoptimisan hidup melalui sajak-sajaknya yang tak lepas dari sebuah humor menggelitik yang menjadi identitas setiap karyanya.




Jumat, 09 Agustus 2019

Lelaki Jadulku #Tamat

     

     Diana terbangun dari tidurnya, dari mimpi indah yang mengobati lelahnya mengerjakan tugas sekolah. Notifikasi dengan kata “Malam!,” sang kekasih di handphone perempuan itupun masih menyembul, sebelum beberapa detik muncul pesan baru kekasihnya “Selamat pagi!”

      Jam 7 senin pagi Diana masih saja berbaring di atas ranjang, bersama demam dan lamunan yang baru saja terjadi di alam mimpinya. Ia memutuskan untuk izin tidak sekolah hari ini dengan alasan sakit, dan menghabiskan satu hari penuh untuk menatap tiap tetes hujan yang memantul dari dedaunan ke muka kaca jendela kamarnya.

      Ia baru benar-benar sadar bahwasanya semua hal indah yang ia rasakan ternyata sekedar mimpi. Dan ternyata Arga pun hanya bagian dari mimpi perempuan itu.
Seketika Diana meloncat dari kasurnya dan mengambil seragam sekolahnya. Saku 
kemeja seragam sekolah itu ia masukan tangannya, seperti sedang mencari sesuatu, entah uang atau apa. Dan hasilnya nihil, Diana tak menemukan apapun.

      Kini benak Diana mengualang kembali ingatannya tentang mimpi semalam. Mimpi di waktu pertama kali ia bertemu laki-laki aneh di ruang UKS yang memberinya kertas bertliskan “OBAT.” Ia ingat-ingat laki-laki itu, bagaimana wajahnya, bagaimana gondrong rambutnya, bagaimana kucel penampilannya, dan bagaimana kesederhanaan seorang Arga membuat perempuan itu pelan-pelan jatuh cinta.

      Perlahan ia pun mulai mengingat bahwa dalam mimpinya, Diana memutuskan hubungan dengan Randi. Dari sana ia mulai mengingat beberapa hari ke belakang ia melihat notifikasi di HP kekasihnya tersebut terdapat sapaan mesra dari pengirim yang bernama Bunga, terlebih akhir-akhir ini diana merasa ada yang berbeda dari Randi.

      Suasana semakin membuat Diana larut dalam dilema, ia benar-benar membutuhkan sosok Arga sekarang juga. Laki-laki aneh yang siap membuat perempuan itu tertawa kapan saja. Sayang, sosok Arga hanya mampir dalam mimpi perempuan itu tanpa benar-benar hadir dalam kehidupan nyatanya.

      Pelan-pelan Diana meneteskan air matanya, entah apa penyebabnya, yang jelas ia seperti ingin sesekali menangis sembari menatap tetes hujan yang kian menderas. Ia seperti melihat sosoknya sendiri dalam deras hujan, terlihat begitu mengkhawatirkan, terlihat begitu bodoh, cengeng hanya karena memikirkan ulah laki-laki. Sampai akhirnya Diana sadar bahwa kehidupannya memang bukan melulu cinta-cintaan, bukan melulu soal pasangan.

      Perempuan itu sadar bahwa sekarang ia sudah cukup larut dalam sebuah cerita percintaan yang klise, sampai akhirnya muncul sebuah angan yang begitu besar yang hendak mengubah semuanya dari sekarang.

      Diana sadar, ia sudah cukup lama melupakan tentang mimpinya jadi seorang penulis ternama. Aktivitas akademik di sekolah seolah mengekang waktunya, ditambah Randi yang justru sekarang malah ikut menimbun masalah di pikirannya. 

      Ia memandang sebuah piala di antara piala-piala akademik yang berjejer yautu piala yang bertuliskan Juara 1 lomba cipta puisi.

      Ia sekarang ingat bahwa sebagian kebiasaan Arga adalah kebiasaan dirinya sendiri waktu sekolah dasar dan SMP, kebiasaan yang agak sedikit buruk tapi ia benar-benar menikmatinya. Tidur di UKS sambil baca buku puisi, kesiangan setiap hari karena setiap malam berusaha mengirim naskah ke media cetak walaupun tidak satupun berhasil. Tanpa menunduk setiap hari memandang layer HP. Dan hanya menghabiskan waktu libur untuk menonton doraemon, sampai ia benar-benar hapal lagu doraemon tersebut.

      Perempuan itupun sekarang tahu akan kehadiran Arga si penulis amatir dalam mimpinya yang tak lain mengingatkan Diana akan mimpinya tersebut. 

      Arga memang sekedar dari bagian mimpi, tapi perempuan itu percaya bahwa mencintai sosok Arga adalah tak lain yaitu mencintai dirinya sendiri dalam mewujudkan sebuah mimpi.

      Tak lama berselang waktu Diana membuka dan menyalakan laptopnya, sebuah judul ia ketik dengan perlahan seiring dengan tetes hujan yang kian mereda dan senyuman di wajahnya yang kian merona “Lelaki Jadulku”








Tamattt……………………………….

Jumat, 05 Juli 2019

Lelaki Jadulku #10



Saling berbalas pesan antar sejoli adalah salah satu bagian cerita klasik di kalangan remaja. Dan hal itulah yang baru saja Arga alami malam ini, mungkin ini adalah kali pertamanya ia berbalas pesan lewat Email dengan seorang perempuan. Kolom pesan yang tadinya dipenuhi konfirmasi dari pihak media cetak, sekarang seolah dihiasi oleh beberapa pesan yang berisi kalimat "Sedang apa?"

Makan memang tidak melulu untuk tubuh, kadang hatipun perlu nutrisi. Terlebih bagi penyair amatir seperti arga, setidaknya puisi laki-laki itu tidak melulu tentang aspirasi dari kekacauan negeri. Ada baiknya mungkin sekali-kali romantis seperti Aan Mansyur. Toh Widjie Tukul tidak akan marah juga kalau salah satu penggemar beratnya mengidolakan penyair lain.

Tema kirim pesan Arga dan Diana kian larut,

“Kamu tahu gak mobil yang romantis itu apa?”

“Nggak, emangnya mobil apa?”

“Mobil Ayla,”

“Kenapa Ayla?”

“Iya,Ayla, AYLA PYU.”

“HHHHaaaaaa”

  Hari minggu pagi besok keduanya berencana untuk pergi bersama, berniat menyusuri sudut-sudut kota. Jalan-jalan tanpa kendaraan, dan hanya bermodalkan sepatu.

Malam begitu singkat, akhirnya pagi pun tiba bersama embun yang hinggap di tiap daun pohon cemara. Diana bersiap-siap untuk menghabiskan hari ini dengan teman laki-laki anehnya itu dengan pakaian kasual, yaitu celana hitam dan baju putih dengan outwear kemeja planel kotak-kotak putih hitam ditambah sneakers putihnya. Sekalipun terlihat agak tomboy, anggun perempuan itu tidak pernah hilang dari wujudnya sendiri.

Ketika Diana membuka pintu rumahnya, terlihat seorang laki-laki berdiri di pagar rumahnya, meluncurkan senyum dan lambaian tangan yang membuat perempuan itu seketika tersipu. Rambut gondrong laki-laki itu terhibas angin, dia terlihat begitu memesona di mata Diana. Arga memang terlihat begitu keren dengan kaos putih bercorak bercak-bercak hitam yang dibalut jaket denim hitam (jaket lepis ceuk batur mah), ditambah celana jeans gelap yang robek-robek di bagian lutut dan sepatu hitam putih conversenya. Ya sekalipun agak terlihat seperti gembel, tapi lumayan lah.

Pagi itu keduanya berjalan meninggalkan pagar rumah Diana, dengan cekikikan tawa keduanya. Mencari makan pagi adalah misi pertama yang mereka rencanakan. Keduanya sepakat mengadakan jalan-jalan murah dan sederhana saja, tak ada mall dan cafe/restoran mewah.

Tiba di perempatan jalan, Arga mengajak teman perempuannya itu ke arah gerobak tukang bubur ayam. Mereka memesan masing-masing satu porsi.

“Minggu pagi ini enak banget yah, bisa sarapan sama kamu, rasanya kek sarapan sama istri  hhhhhhhaaaa,”

“Jangan pake ketawa dong, kali aja jadi do’a, ehhh, hhhhhha.” Jawab Diana sambal ketawa.

“Aamiin” balas Arga.

Sebelum semangkok bubur hinggap di masing-masing tangan keduanya, mereka terlihat begitu gembira, sampai kegembiraannya menular ke tukang bubur yang mendadak jadi senyum-senyum karena mendengar obrolan sepasang anak muda tersebut.

Lekas memakan bubur, keduanya pamitan kepada si bapak bubur itu. Tentunya sesudah proses administrasinya selesai.

Arga menjabat tangan bapak tukang bubur itu seraya melontarkan kalimat “Mang, doain supaya kami jadi sepasang suami istri, nanti kami nikahan perasmanannya pake bubur emang aja.”. Sontak bapak bubur dan Diana mengamininya dengan nada kencang.

“Doain juga, biar emang nanti bisa punya istri lagi. hhhhhhaa” Jawab si bapak tukang bubur itu yang membuat Arga dan Diana lekas mengamininya juga dengan sedikit tertawa.

 Tidak ada hari yang buruk, sebab pagi selalu menyuguhkan lembar baru di dalam buku kehidupan setiap orang. Kita hanya perlu mengisinya, dengan susunan kata-perkata, agar kita tahu bahwa sebuah kenangan bisa kita baca kapan saja.




Bersambung………………………………………………………………….

Minggu, 09 Juni 2019

Lelaki Jadulku #9


          Mentari baru saja mengintip dari balik awan hujan yang kini terhenti. Entah siapa yang menyuruhnya berhenti, entah suara burung entah gersang di tempat lain yang memanggilnya untuk hadir di sana.

          Karena kejadian seorang guru yang dirampok, semua guru yang berada di sekolah menengok pak Sardi yang sekarang sedang trauma di rumah. Semua siswa bubar, membawa kesenangan yang mendadak tiba. Seperti suara jatuhnya ratusan uang receh di tengah keheningan, suara motor dan sorak pun mulai memecah tengah hari yang cerah itu.

          Diana berjalan menuju gerbang bersama teman-temannya, mereka ketawa-ketiwi. Mungkin sedang senang karena hari ini pulang lebih pagi. Dan di tengah perbincangan mereka, seketika temannya menanyakan tentang Arga kepada Diana. Tema obrolan pun kini berubah. (Maklum gelagat calon-calon ibu gosip)

          Di tengah perjalanan dan perbincangan yang bertemakan Arga. Satu pertanyaan timbul seolah menjadi lonceng di kepala Diana. Ia baru sadar belum punya no telp/ WA Arga, padahal sudah lumayan agak lama ia kenal. Apa benar cinta itu bisa melupakan segalanya, sampai-sampai lupa bahwa hubungan cinta pun seharusnya diimbangi dengan komunikasi. Ah cinta, Diana sendiri pun tidak tahu-menahu apa dia sedang mengalami jatuh cinta atau tidak. Mungkin sekadar suka. Dan kemudian dalam pikirannya ia berjanji, jika saja bertemu dengan seekor Arga dia akan meminta no telp/wa nya.

          Seorang siswa laki-laki tiba-tiba lari kencang dari belakang, tangannya mengarah ke belakang. Larinya menyerupai ninja-ninja di film Naruto. Ia lari menuju kerumunan laki-laki yang berada di depan warung sebrang sekolah sambil teriak. "Kagebunshin No Jutsu." Teriaknya begitu kencang, membuat siswa-siswi yang ia lewati kaget mendengarnya.

          Diana tersenyum melihat laki-laki itu. Entah lucu, entah karena laki-laki itu sedang bermekaran di hatinya. Arga memang selalu bersikap hangat, tapi kadang  juga receh.

          "Cieeeeeeeeee punya gebetan Naruto tuh." Ucap pindi yang sambil mengangkat kedua alisnya dan menatap kawanannya.

          Diana berlari ke arah laki-laki yang lari tadi, ia memanggil namanya sampai laki-laki itu menghampiri Diana. Perempuan itu hendak meminta no telp/Wa Arga, tapi laki-laki itu malah menggelengkan kepalanya. Sembari menyodorkan kertas yang bertuliskan sebuah alamat email.

          Perempuan itu kini tau, kenapa tidak ada nama laki-laki itu di media sosial. Ternyata Arga sendiri pun sama sekali tidak memiliki HP android seperti manusia lainnya, bahkan belum pernah memiliki barang tersebut. Arga hanya memiliki satu perangkat komputer di rumahnya yang ia pakai untuk kirim naskah ke media cetak. Dan ia hanya memiliki akun Google guna berkirim pesan dengan pihak media cetak lewat email.

          Melihat keadaan sosial yang semakin suram karena teknologi canggih yang bernama Handphone, Arga seolah menjadi bibit unggul yang tidak terkena virus tersebut. Mungkin Arga adalah salah-satunya manusia yang tidak menunduk setiap waktu untuk memandang layar Handphone untuk saling hujat di media sosial, untuk menghabiskan waktunya hidup dalam game online, untuk berkirim pertanyaan "Udah makan?" Dalam WA. Di masa sekarang, handphone seolah menjadi kebutuhan pokok. Seolah manusia tanpa Handphone itu manusia yang tidak bisa hidup. Tapi pernyataan tersebut tidak berlaku bagi makhkuk bernama Arga. Ia sudah terbiasa dengan hal tersebut dari jauh-jauh dulu.

          Diana sedikit tercengan dengan pernyataan Arga yang tidak memiliki handphone. Ia hampir tidak percaya hal tersebut.

          Selang beberapa waktu akhirnya Arga pamit untuk menghampiri teman-temannya di warung sebrang. Ia menanggalkan senyuman di benak perempuan yang usai menjadi lawan bicaranya. Menanggalkan seberkas kenangan yang hendak malam ini Diana pikirkan dengan hati yang kasmaran.

          Matahari saat itu semakin meninggi, siswa-siswi kembali ke rumah dan kembali mengheningkan sekolah.


Bersambung....................


Lelaki Jadulku #8

        Pembicaraan beberapa siswa-siswi mengisi lorong yang sebelumnya hening. Diana yang baru tiba agak merasa aneh dengan situasi yang ia lihat, terlebih di ruang guru begitu banyak kerumunan siswa-siswi dan guru-guru. Dengan perasaan penasaran ia menghampiri kerumunan itu, dan kini pandangannya tertuju pada siswa laki-laki yang bonyok habis wajahnya ditambah kusut baju putihnya. Tidak lain itu adalah Arga, yang entah telah berbuat apa sampai begitu.

        Diana menembus kerumunan dan menghampiri laki-laki itu, dengan hati yang penuh khawatir ia bertanya setengah memarahi laki-laki di depannya.
"Jadi laki-laki itu dewasa dong, berantem aja bisanya. Gak bisa mikir pake otak dingin dulu apa? Atau mau sok jadi jagoan?"

        Arga diam tak bergumam satu kata pun.

        "Lho, lho tenang geulis. Enggak kayak yang kamu pikir Diana." Seorang guru tiba dari ruangan uks kantor, sambil menenangkan Diana.

        "Lahhh, terus kenapa bu Dina? Dia kan tukang bikin onar."

        "Bentar dulu yah," Guru itu berjalan menuju kerumunan siswa yang menyaksikan percakapan di dalam kantor tersebut, dan tidak lama dari sana semua siswa pun bubar.

        "Di tengah perjalanan ke sekolah, Pak Sardi disergap rampok di gang. Entah bagaimana ceritanya Arga pun ada di sana, dan Pak Sardi terselamatkan, tapi tas dan barang-barangnya diambil rampok itu dan Arga sendiri habis dikeroyok 3 perampok itu. Kalau saja Tidak ada Arga di sana, bisa-bisa pak Sardi yang tua itu yang habis dikeroyok." Jelas Ibu guru itu.

        "Badai menggemuruh di ruang tidurmu. Hujan menderas, lalu kilat, petir, dan ledakan-ledakan waktu dari dadamu. Sebegitu hidupnya yah bait puisi Jokpin di kamu." Ucap mulut laki-laki yang tengah babak-belur sambil sedikit tersenyum menatap Diana.

        "Walah-walah guru matematika kayak Ibu gini mana ngerti maksud dari kata-kata kamu itu." Gumam candaan Ibu guru yang tengah membersihkan luka di muka Arga.

        Perempuan yang tengah berdiri itu lekas tersenyum, matanya terlihat berkaca-kaca. Entah perasaan apa yang telah membuatnya masuk dalam keadaan seperti itu, dalam kondisi yang terlalu melankolis.

        "Bu dina masih jadi obat nyamuk nihh!" Teriak guru-guru yang tengah lalu lalang di ruang guru waktu itu sambil tertawa pekikikan.

        Arga dan Diana Tersenyum.

        "Lah bu, aku kira ibu nyamuknya." Ujar Arga sambil setengah tertawa.

        "Wahh kurang ajar, mau Ibu kasih soal khusus hah nanti ulangan?" Balas Ibu guru itu sambil mencubit pinggang siswa laki-laki yang duduk didepannya.

        Suasana seketika berubah menjadi begitu hangat, di waktu gerimis menyelimuti pagi. Dua pasang mata saling menatap, berharap tidak ada yang berpaling di antara keduanya yang terpisah udara dan Ibu Matematika.

        "Udah nih tatap-tatapannya? Masuk gih nanti malah dimarahin guru yang masuk lho." Gumam Ibu Dina yang beranjak dari duduknya sambil menepuk bahu Arga.

        "Lahh bu, aku kayak gini masa masuk kelas. Harusnya ibu anter yuk ke UKS." Mohon siswa laki-laki itu kepada Ibu guru yang tengah membantunya berdiri.

        Diana hanya tersenyum melihat dua manusia di depannya. Arga dan Bu Dina terlihat seperti ibu dan anaknya sendiri. Ya memang, bu Dina sendiri adalah guru yang begitu dekat dengan Arga, dekat karena Arga sendiri sering membuat onar sehingga bu Dina sendiri yang bertanggung jawab ketika Arga dipanggil ke ruang BP.

        "Ya sudah bu, saya permisi duluan ke kelas." Dengan sedikit terburu-buru Diana pamit meninggalkan seberkas senyum, takut kalau ada guru yang sudah masuk kelas. 

        "Iya iya, ibu juga ini mau anter anak kucing ke rumah sakit." Balas Bu dina dengan candaannya dengan setengah tertawa.

        "Lohh kok anak kucing bu?" Tanya arga

        "Lah tadi juga kamu bilang Ibu nyamuk," jawab si Ibu.

        Keduanya kemudian saling berbalas tawa yang suaranya mengabaikan hujan yang kian deras. Deras akan omong kosong pelaku politik yang baru saja turun dari mimbar perdebatan. (Naha jadi kana politik.)





Bersambung.............................

Senin, 03 Juni 2019

Lelaki Jadulku #7

     
   
         Keluarga selalu menjadi alasan di balik kata pulang setiap orang. Tapi bagi sebagian orang yang tidak merasakannya, mungkin pulang cuma kata yang menyimpan segudang perasaan malang. 

          Orang tua Arga berpisah saat ia menginjak umur 11 tahun. Entah apa yang menjadi latar belakang keduanya, yang pasti Arga hanya anak laki-laki yang masih membutuhkan pelukan hangat keluarga, terlebih ia anak tunggal.

          Arga tidak ikut ke salah satu dari dua orang tuanya tersebut, ia hanya mengikuti sepi dan entah yang akan menggiringnya pada sebuah perjalanan hidup. Anak laki-laki itu tinggal sendiri di rumah peninggalan orang tuanya tersebut, dengan uang yang selalu orang tuanya kirim tiap bulan. Dasar, mungkin sebagian orang pikir uang adalah buah kasih sayang. 

          Di malam itu, seperti biasa Arga baru selesai membuat beberapa puisi dan mengirimnya ke media cetak. Bakat menulisnya mungkin adalah warisan dari sang ayah. Entah berapa karya yang sudah dipublikasi, itulah rutinitas dan cara laki-laki itu menyambung hidupnya selain dari uang orang tuanya. (Arga cuma mengirim puisinya ke media cetak, ya maklum dia jomb.)

          Puisi seolah menjadi rumah bagi laki-laki itu. Tempat keluh kesah lika-liku hidupnya, sekaligus tempat sumber penutup rasa keroncong laparnya. Arga memang tidak pernah menyebut dirinya bercita-cita jadi penulis atau penyair, tapi kesehariannya tidak pernah terlepas dari dunia sastra. Bahkan di kamarnya, terpampang poster seperti Chairil Anwar, Marah Rusli, dan banyak lainnya. Kamarnya mungkin lebih pantas disebut gudang buku, buku di mana-mana. Bahkan etalase besar pun masih tidak cukup untuk menyimpan buku. Di kasurnya selalu saja ada buku yang terbuka lembarannya, buku yang belum tuntas ia baca.

          Laki-laki itu mungkin bisa dibilang kuno. Ia hanya bergelut dengan buku saja di saat remaja sekarang sedang musimnya bergelut dengan media sosial di smartphone nya. Ia hanya berkirikm e-mail dengan pihak media cetak saja di saat remaja sekarang saling kirim pesan dengan pasangannya. 

          Entah apa yang sedang terjadi dengan orang tuanya sekarang, Arga sama sekali tidak tahu. Dia sudah hampir kehilangan komunikasi selama satu bulan lebih dengan keduanya. Dan Arga sekarang sekedar menjadi rumput liar yang menjalar sendiri di pemukiman sepi.


     Bersambung.............


Rabu, 17 April 2019

Lelaki Jadulku #6



“Assalamualaikum, assalamualaikum!” Salam seorang dari luar pintu rumah.

“Waalaikumsalam,” Jawab perempuan paruh baya sembari membuka pintu rumah.

“Apa benar ini rumah Diana?” Tanya laki-laki yang baru saja mendapati sang pemilik rumah.

            Ibu-ibu di depannya mengangguk sambil mengerutkan dahi “Ini apa yah?” Tanyanya sambil menunjuk sebuah kotak berukuran kardus minuman.

            “Ini bu, saya kurir dari JNE sini mengantarkan paketan ini untuk seorang yang benama Diana, apa Diana itu nama ibu?” Jelas laki-laki tersebut.
            “Ohhhhh gitu, bukan pak bukan, Diana itu anak perempuan saya, udah tua gini masa paket-paketan, gak ngerti lah.” 

            “Oh iya Bu, ini saya buru-buru mau anter barang lain. Bisa Ibu tanda tangan di sini?” Laki-laki itu menyodorkan sobekan kertas dan pulpen pada seorang ibu-ibu di depannya.

            Sebuah coretan tanda tangan pun sudah berada si atas sobekan kertas tersebut. Hal itu seolah menjadi syarat seorang kurir kalau saja hendak meninggalkan rumah penerima paket. Tak lama suara motor sudah saja ia nyalakan, dan beranjak pergi meninggalkan halaman yang masih terdapat seorang perempuan paruh baya di terlasnya.

            “Wihhhh apa tuh mah?” Suara berat seorang pria berumur dengan ibu di rumah itu baru saja mengagetkannya.

            “Ehhh Bapak aya ngareureuwas,” (Ehh bapak, kaget tau!)

            “Paket dari mana mah?”

            “Gak tau, katanya buat Diana. Yuk ah masuk pak, Ibu mau ngasih ini ke Diana nya,” Ajak si Ibu pada suaminya tersebut. 

            Seekor gadis, ehhh seorang gadis cantik baru saja terbangun dari tidur, sinar mentari menembus jendela dan kini hinggap di wajahnya, ia menggeliat sebelum akhirnya dahi perempuan itu ia kerutkan.

            “Diana, ada paket nih buat kamu!” Sang ibu memanggilnya dari arah ruang keluarga.

            Diana sontak bingung, karena dirinya tidak memesan barang atau membeli barang online. Ia beranjak pergi ke arah suara sang ibu.

            “Paket dari siapa bu?” Perempuan itu betanya pada ibunya.

            “Lhoo, kirain kamu mesen barang, ibu juga gak tau. Tapi tadi kata kurirnya ini buat kamu.” Jawab sang Ibu, dengan wajah bingung.

            “Jangan-jangan bommmm!” Ucap sang ayah yang baru saja masuk rumah.

“Ihhhhhhhh Pak, jangan gitu takut. Yaudah Diana buka aja sok paketnya.” Suruh sang Ibu yang penasaran atas apa yang ada di dalamnya.

Tanpa berpikir panjang Gadis itu membuka satu persatu bungkus plastik yang menutupi kardus tersebut. Kini ia tengah mendapati kardus yang siap di buka untuk mengetahui apa isinnya.

“Ohhhhhhhhhhh mahh pak, ini tas Diana. OHH iya kemaren tas aku ketinggalan di angkot,” Ucap Diana yang kelihatan begitu senang mendapati tasnya kembali.

“Hmmmmmm, tapi yang balikinnya siapa ya, kok bisa tau rumah kamu?” Tanya sang ayah.
“Iya yah pak, sampe bisa tau alamat kita.” Ujar Ibu.

“Hhhhhee kamaren aku pulang bareng sama temen aku, namanya Arga. Kayaknya dia deh,” Jawab sang putri.

Tanpa aba-aba Diana langsung beranjak pergi dari ruang keluarga menuju kamar tidurnya dengan membawa kardus dan tasnya tersebut dengan sumringah. Kini kasur adalah tujuannya lagi. Sepasang suami-istri terlihat begitu bingung mendapati putri tunggalnya langsung pergi ke kamar kembali dengan begitu mendadak gembira.

Seorang gadis yang baru saja duduk di atas kasur langsung mengorek-ngorek isi kardus yang sudah dibawanya. Tepat di bagian ujung kardus ia mendapati dua amplop yang berwarna hitam dan pink. Tanpa berkata-kata ia langsung membuka keduanya.

Salah satu amplop berwarna pink berisi surat, tapi satu amplop lagi yang berwarna hitam berisi uang logam Rp.100. Gadis itu kebingungan apa arti keduanya, hingga ia sepertinya harus membaca surat dengan cermat untuk memahami apa maksud seseorang yang telah mengirimnya itu, walaupun tulisannya akan tampak buruk di mata manusia yang membacanya.

Assalamualaikum,

Waalaikumsalam.

Salam sejahtera,

Dengan surat ini saya mewakili bangsa Indonesia, untuk menyampaikan beberapa informasi terkait penemuan barang seseorang yang tertinggal di angkutan umum. kamu pasti lagi serius baca surat ini. Saking seriusnya sampe hampir lupa  jawab salam. Hhhhaa, ini tas kamu ketinggalan di angkot pas pulang sekolah. Dasar masih muda kok pelupa. Pelupa itu bahaya, apalagi kalo sampe lupa bernafas. Hhee garing yahhh.

Hmmmmm, kamu pasti lagi cari tau yah apa maksud surat satunya lagi yang isinya uang logam. Jangan dipikirin apa maksudnya, simpen aja di celengan kamu, buat kumpul-kumpul nanti kita beli rumah berdua. Hhhhhaaaa becanda kok Sizuka.

Kamu pernah gak berpikir, kalo kita nanti bakal kayak uang logam seratus rupiah itu. Semakin sedikit yang mempergunakannya, semakin kurang juga populasinya hhhhe. Tapi di suatu saat di masa depan uang logam itu bakal dicari karena banyak yang bilang itu antik, itu langka, itu unik, dan memiliki nilai sejarah. Ya seperti manusia yang memiliki peran besar dalam suatu peradaban, seperti tokoh sejarah, pahlawan, ilmuwan, dan penemu. Mereka memiliki andil besar dalam kehidupan, tapi perlahan mereka mulai dilupakan, selang beberapa waktu lama kemudian mereka baru dicari-cari lagi sekalipun sudah mati, setidaknya banyak orang yang mengenang mereka di masa depan. Dan ya, setiap orang pasti mempunyai uang logam antiknya masing-masing, entah siapa yang menjadi uang logamnya, yang pasti uang logam tersebut pernah berperan dalam kehidupan mereka.

Udah dulu ahh, aku mau berkomunikasi sama tuhan dulu.

Dadahhhhh, jangan lupa bernafas

Waalaikumsalam.

Eh wassalamualaikum.

Ingatan Diana kini kembali menyusuri masa lalunya, surat yang baru saja ia baca membuat dia ingat akan Randi. Kenangan memang tidak tau sopan santun, mereka hadir di mana saja, lewat apa saja, dan kapan saja. Surat itu membawa gadis itu tenggelam pada ingatan akan ucapan mantan kekasihnya kalau nanti kita cuma jadi masa lalu, jangan dilupain yah, masa depan itu kurang indah kalo gak ada kenangan. Tapi logika Diana membantah hal tersebut, apanya yang indah toh dia sendiri yang sudah memperburuk ceritanya. Hubungan anak manusia memanglah rumit, begitulah mungkin lamunan yang sedang hingap pada benak Diana.

Dua buah amplop kembali gadis itu menatapnya, kini ia merasa heran. Padahal dengan Arga dia baru saja kenal, tapi lewat surat ini Arga seolah memahami apa yang sedang di alami perempuan itu.




Bersambung....................................

Lelaki Jadulku #5



“Diana! Aku bisa jelasin kok!” Laki-laki itu memohon pada perempuan yang sedang duduk di tengah teman perempuan lainnya. Ia kemudian duduk di kursi tepat berhadapan dengan Diana.

Karin menarik tangan Diana ”Yuk ah balik ke kelas,” Ajaknya kepada teman perempuan lainnya. Kawanan perempuan itu lantas berdiri dan beranjak membelakangi laki-laki yang baru saja menghentikan hangat suasana mereka.

Keadaan hening menghampiri Randi yang baru saja perhomohonannya ditolak keras oleh seorang perempuan. Ia menarik napas panjang, dan kembali melangkah pergi menuju Kelasnya.

Randi, ia adalah siswa laki-laki populer di SMA 1 Tasikmalaya. Tidak hanya tampan yang bisa membuat siapa saja jatuh hati, tapi ia juga juara kelas berturut-turut dari kelas unggulan. Ditambah Randi adalah kapten dalam team basket sekolahnya yang selalu saja menjuarai tiap pertandingan antar sekolah. Ia adalah bintang di sekolah, tapi tidak di hati Diana kali ini.

Ditengah lorong Randi berjalan dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya menabrak seorang siswa didepannya yang tengah diam berdiri membaca buku.

“Eh mang, kade atuh leumpang teh ah. Hayoh ngahuleng, bisi kasurupan Suharto,” Tegur siswa laki-laki yang tertabrak Randi yang artinya eh, hati-hati kalo jalan. Ngalamun mulu, takut kesurupan Suharto.

  Tanpa bergumam apapun Randi melangkahkan kakinya seolah tidak terjadi apa-apa.

Bel bunyi sebagai tanda pembelajaran sekolah sudah berakhir menjadi alasan kenapa semua siswa bersorak bahagia. Biru langit menghiasi sore di mana seorang siswa laki-laki baru saja menaiki angkutan umum.

“Ehhh kamu, Diana Sriradyasastro Diningrat Sultan Hamengkubuwono, selamat pagi!” Ucap siswa itu yang tak lain adalah Arga.

Tanpa sengaja Diana dan Arga berada pada satu angkutan umum yang sama. Diana terlihat begitu senang, seolah melihat badut yang siap kapan saja menghiburnya.

“Nama aku pendek, lagian sekarang itu sore!” Perempuan itu menjawab ucapan Arga.

“Oh nama kamu pendek, kalo gitu haiii Pendek!” Balas laki-laki itu.

Diana memasang muka cemberut, yang seolah siap melahap apa saja yang ada di depan matanya. Dan kebetulan yang di depannya adalah muka Arga. “Kamu kok nyebelin banget yah?”

Laki-laki itu malah lirik kiri kanan, seolah tidak mendengar apa yang perempuan itu ucapkan kepadanya.

“Ihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!” Perempuan itu seolah habis kesabaran sampai mencubit paha Arga.

“Ehhhhhhhh kamu, dari kapan di sini? Udah lama?” Laki-laki itu malah balik bertanya sambil senyum, dan seolah baru mendapati Diana di sana.

“Euhhhh kamu, eh emang rumah kamu di mana?” Tanya Diana.

“Di planet ini, hhhhe, becanda, itu deket perempatan di depan, dari situ belok kiri, abis itu belok kanan, terus luruuuusssssss, nah itu taman kota,”

“Ihhhhhh serius!” Diana menyela penjelasan Arga.

“Eh dengerin dulu, itu rumah aku deket situ tau.” Ujar Arga.

“Ohhhh gitu hhhe, maaf soalnya dari tadi becanda mulu sih. Eh rumah aku deket tuh di situ. Udah yahhh, dahhhhhh!” Diana beranjak dari tempat duduk angkutan sembari menyetop abang supir dan lalu turun dari angkutan tersebut.

“Dahhhhhhh, sampai ketemu besok, ehhhh Rabu, besok kan libur ya,” Ucap Arga sambil melihat Diana yang senantiasa tersenyum menghiasi sore itu.

 Arga yang masih dalam angkutan umum tersebut menatap Diana dari dalam dan melambaikan tangan seiring dengan laju kendaraan yang meninggalkan tempat perempuan itu berdiri. Duduk di paling ujung tempat duduk, Arga membenamkan matanya pada langit sore yang siap mengakhiri hari tersebut.  Perlahan tatapannya kini beralih pada tas di depannya, ia baru sadar ternyata tas Diana tertinggal di kendaraaan itu.



Bersambung.................................