Saling
berbalas pesan antar sejoli adalah salah satu bagian cerita klasik di kalangan
remaja. Dan hal itulah yang baru saja Arga alami malam ini, mungkin ini adalah
kali pertamanya ia berbalas pesan lewat Email dengan seorang perempuan. Kolom
pesan yang tadinya dipenuhi konfirmasi dari pihak media cetak, sekarang seolah
dihiasi oleh beberapa pesan yang berisi kalimat "Sedang apa?"
Makan
memang tidak melulu untuk tubuh, kadang hatipun perlu nutrisi. Terlebih bagi
penyair amatir seperti arga, setidaknya puisi laki-laki itu tidak melulu
tentang aspirasi dari kekacauan negeri. Ada baiknya mungkin sekali-kali
romantis seperti Aan Mansyur. Toh Widjie Tukul tidak akan marah juga kalau
salah satu penggemar beratnya mengidolakan penyair lain.
Tema
kirim pesan Arga dan Diana kian larut,
“Kamu
tahu gak mobil yang romantis itu apa?”
“Nggak,
emangnya mobil apa?”
“Mobil
Ayla,”
“Kenapa
Ayla?”
“Iya,Ayla,
AYLA PYU.”
“HHHHaaaaaa”
Hari
minggu pagi besok keduanya berencana untuk pergi bersama, berniat menyusuri
sudut-sudut kota. Jalan-jalan tanpa kendaraan, dan hanya bermodalkan sepatu.
Malam
begitu singkat, akhirnya pagi pun tiba bersama embun yang hinggap di tiap daun
pohon cemara. Diana bersiap-siap untuk menghabiskan hari ini dengan teman
laki-laki anehnya itu dengan pakaian kasual, yaitu celana hitam dan baju putih
dengan outwear kemeja planel kotak-kotak putih hitam ditambah sneakers
putihnya. Sekalipun terlihat agak tomboy, anggun perempuan itu tidak pernah
hilang dari wujudnya sendiri.
Ketika
Diana membuka pintu rumahnya, terlihat seorang laki-laki berdiri di pagar
rumahnya, meluncurkan senyum dan lambaian tangan yang membuat perempuan itu
seketika tersipu. Rambut gondrong laki-laki itu terhibas angin, dia terlihat
begitu memesona di mata Diana. Arga memang terlihat begitu keren dengan kaos
putih bercorak bercak-bercak hitam yang dibalut jaket denim hitam (jaket lepis
ceuk batur mah), ditambah celana jeans gelap yang robek-robek di bagian lutut
dan sepatu hitam putih conversenya. Ya sekalipun agak terlihat seperti gembel,
tapi lumayan lah.
Pagi
itu keduanya berjalan meninggalkan pagar rumah Diana, dengan cekikikan tawa
keduanya. Mencari makan pagi adalah misi pertama yang mereka rencanakan.
Keduanya sepakat mengadakan jalan-jalan murah dan sederhana saja, tak ada mall
dan cafe/restoran mewah.
Tiba
di perempatan jalan, Arga mengajak teman perempuannya itu ke arah gerobak
tukang bubur ayam. Mereka memesan masing-masing satu porsi.
“Minggu
pagi ini enak banget yah, bisa sarapan sama kamu, rasanya kek sarapan sama
istri hhhhhhhaaaa,”
“Jangan
pake ketawa dong, kali aja jadi do’a, ehhh, hhhhhha.” Jawab Diana sambal
ketawa.
“Aamiin”
balas Arga.
Sebelum
semangkok bubur hinggap di masing-masing tangan keduanya, mereka terlihat
begitu gembira, sampai kegembiraannya menular ke tukang bubur yang mendadak
jadi senyum-senyum karena mendengar obrolan sepasang anak muda tersebut.
Lekas
memakan bubur, keduanya pamitan kepada si bapak bubur itu. Tentunya sesudah
proses administrasinya selesai.
Arga
menjabat tangan bapak tukang bubur itu seraya melontarkan kalimat “Mang, doain
supaya kami jadi sepasang suami istri, nanti kami nikahan perasmanannya pake
bubur emang aja.”. Sontak bapak bubur dan Diana mengamininya dengan nada
kencang.
“Doain
juga, biar emang nanti bisa punya istri lagi. hhhhhhaa” Jawab si bapak tukang
bubur itu yang membuat Arga dan Diana lekas mengamininya juga dengan sedikit
tertawa.
Tidak ada hari yang buruk, sebab pagi selalu
menyuguhkan lembar baru di dalam buku kehidupan setiap orang. Kita hanya perlu
mengisinya, dengan susunan kata-perkata, agar kita tahu bahwa sebuah kenangan
bisa kita baca kapan saja.
Bersambung………………………………………………………………….
