Jumat, 05 Juli 2019

Lelaki Jadulku #10



Saling berbalas pesan antar sejoli adalah salah satu bagian cerita klasik di kalangan remaja. Dan hal itulah yang baru saja Arga alami malam ini, mungkin ini adalah kali pertamanya ia berbalas pesan lewat Email dengan seorang perempuan. Kolom pesan yang tadinya dipenuhi konfirmasi dari pihak media cetak, sekarang seolah dihiasi oleh beberapa pesan yang berisi kalimat "Sedang apa?"

Makan memang tidak melulu untuk tubuh, kadang hatipun perlu nutrisi. Terlebih bagi penyair amatir seperti arga, setidaknya puisi laki-laki itu tidak melulu tentang aspirasi dari kekacauan negeri. Ada baiknya mungkin sekali-kali romantis seperti Aan Mansyur. Toh Widjie Tukul tidak akan marah juga kalau salah satu penggemar beratnya mengidolakan penyair lain.

Tema kirim pesan Arga dan Diana kian larut,

“Kamu tahu gak mobil yang romantis itu apa?”

“Nggak, emangnya mobil apa?”

“Mobil Ayla,”

“Kenapa Ayla?”

“Iya,Ayla, AYLA PYU.”

“HHHHaaaaaa”

  Hari minggu pagi besok keduanya berencana untuk pergi bersama, berniat menyusuri sudut-sudut kota. Jalan-jalan tanpa kendaraan, dan hanya bermodalkan sepatu.

Malam begitu singkat, akhirnya pagi pun tiba bersama embun yang hinggap di tiap daun pohon cemara. Diana bersiap-siap untuk menghabiskan hari ini dengan teman laki-laki anehnya itu dengan pakaian kasual, yaitu celana hitam dan baju putih dengan outwear kemeja planel kotak-kotak putih hitam ditambah sneakers putihnya. Sekalipun terlihat agak tomboy, anggun perempuan itu tidak pernah hilang dari wujudnya sendiri.

Ketika Diana membuka pintu rumahnya, terlihat seorang laki-laki berdiri di pagar rumahnya, meluncurkan senyum dan lambaian tangan yang membuat perempuan itu seketika tersipu. Rambut gondrong laki-laki itu terhibas angin, dia terlihat begitu memesona di mata Diana. Arga memang terlihat begitu keren dengan kaos putih bercorak bercak-bercak hitam yang dibalut jaket denim hitam (jaket lepis ceuk batur mah), ditambah celana jeans gelap yang robek-robek di bagian lutut dan sepatu hitam putih conversenya. Ya sekalipun agak terlihat seperti gembel, tapi lumayan lah.

Pagi itu keduanya berjalan meninggalkan pagar rumah Diana, dengan cekikikan tawa keduanya. Mencari makan pagi adalah misi pertama yang mereka rencanakan. Keduanya sepakat mengadakan jalan-jalan murah dan sederhana saja, tak ada mall dan cafe/restoran mewah.

Tiba di perempatan jalan, Arga mengajak teman perempuannya itu ke arah gerobak tukang bubur ayam. Mereka memesan masing-masing satu porsi.

“Minggu pagi ini enak banget yah, bisa sarapan sama kamu, rasanya kek sarapan sama istri  hhhhhhhaaaa,”

“Jangan pake ketawa dong, kali aja jadi do’a, ehhh, hhhhhha.” Jawab Diana sambal ketawa.

“Aamiin” balas Arga.

Sebelum semangkok bubur hinggap di masing-masing tangan keduanya, mereka terlihat begitu gembira, sampai kegembiraannya menular ke tukang bubur yang mendadak jadi senyum-senyum karena mendengar obrolan sepasang anak muda tersebut.

Lekas memakan bubur, keduanya pamitan kepada si bapak bubur itu. Tentunya sesudah proses administrasinya selesai.

Arga menjabat tangan bapak tukang bubur itu seraya melontarkan kalimat “Mang, doain supaya kami jadi sepasang suami istri, nanti kami nikahan perasmanannya pake bubur emang aja.”. Sontak bapak bubur dan Diana mengamininya dengan nada kencang.

“Doain juga, biar emang nanti bisa punya istri lagi. hhhhhhaa” Jawab si bapak tukang bubur itu yang membuat Arga dan Diana lekas mengamininya juga dengan sedikit tertawa.

 Tidak ada hari yang buruk, sebab pagi selalu menyuguhkan lembar baru di dalam buku kehidupan setiap orang. Kita hanya perlu mengisinya, dengan susunan kata-perkata, agar kita tahu bahwa sebuah kenangan bisa kita baca kapan saja.




Bersambung………………………………………………………………….