Rabu, 08 Juli 2020

Di Pangkalan

     Malam pun memulai perjalanan, dan satu batang kretek telah dibakar seorang laki-laki paruh baya. Kini ia mengepulkan asapnya, berharap semua endapan yang menumpuk di kepalanya ikut terbakar dan ikut mengasap keluar.

     Hamid seorang ojek pangkalan tengah memerhatikan wujud kehidupannya sendiri yang kian purnama sengsara. Ia sekarang menggarisbawahi bahwa sebuah keutuhan keluarga mustahil ada dengan keberadaan sengsara. Dan itulah yang membuat istrinya sendiri baru-baru ini pergi meninggalkannya utuh sebatang kara. Malam ini hamid hanya ditemani motor bebek peninggalan almarhum ayahnya, motor sekaligus inventarisnya sendiri agar kretek yang selalu dibakarnya senantiasa ada. 

     Tengah malam yang sepinya semakin utuh kini tiba-tiba pecah dengan seseorang yang lari sembari menjingjing tas dari jalanan gelap tepat dibelakang pangkalan yang Hamid tengah berada di sana sendiri. Pria itu seperti terburu-buru entah karena apa, dan langsung meminta Hamid untuk mengantarkannya. Tak butuh waktu lama, Hamid langsung menyelah motor dan keduanya pergi meninggalkan pangkalan yang sepinya kini utuh kembali. Di tengah perjalanan Hamid begitu bingung, dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi dengan peumpangnya. Ia menerka-nerka jangan-jangan laki-laki itu adalah maling yang sengaja kabur dari kampung warga, atau mungkin pelaku kejahatan yang hendak pergi meninggalkan tkp agar tidak diketahui dan dijadikan tersangka. Tanpa basa-basi ia pun menanyakannya.

     “Pak, ada apa? kenapa tadi lari dan terlihat seperti terburu-buru?”

     “Kamu gak perlu tahu, antarkan saja saya secepatnya ke alamat ini!” suruh pria itu sambil menyodorkan alamat yang tertera di sobekan kertas lusuhnya. 

     Tanpa pikir Panjang, Hamid pun langsung menancap gas secepatnya. Kini ia paham, mungkin pria ini buru-buru menghampiri anggota keluarganya yang sedang di rawat di rumah sakit terdekat. 

     Gerimis kini memulai gemerciknya, yang seolah menyuruh berteduh kepada siapa saja yang menghadangnya. Hamid menepi sejenak ke bahu jalan untuk mengenakan jas hujan, dan menyuruh pria yang bersamanya mengenakan jas hujan untuk penumpang yang Hamid sodorkan. Keduanya pun kembali bergegas. Di tengah perjalanan Hamid baru sadar, bahwa pria ini belum pernah ia lihat di kampungnya. Tapi karena rumah sakit kini sudah di depan mata, Hamid pun tak menghiraukannya. Toh yang penting menurutnya sekarang ia dapat bayaran dari pekerjaan sebagai ojeknya.

     Pria itu pun turun, tetapi bukannya membayar Hamid, kini ia justru meminta hamid untuk menemaninya masuk ke rumah sakit yang ia tuju. Dengan berat hati seorang ojek yang bertubuh  kurus kering itu pun mengiyakan permintaan penumpanya tersebut, ia berpikir mungkin saja ia lupa membawa uang dan akan dibayar oleh sanak keluarga yang ada di sana. Keduanya langsung berjalan menyusuri Lorong-lorong rumah sakit yang begitu gelap dan sama sekali tidak ada pencahayaan lampu di sana. Dan hamid di bawa masuk ke sala satu ruangan oleh pria tersebut dan langsung menguncinya, ketika pria itu menyalakan lampu. Hamid amat terkejut dengan apa yang ada di ruangan itu.

     Di depan mata tukang ojek itu jelas terlihat, potongan-potongan tubuh manusia, dan ia langsung lemas tak berdaya dan jatuh begitu saja melihat semuanya. Penumpang prianya kini membuka tas yang tadi dijinjingnya, dan Hamid kini amat terkejut untuk kedua kalinya melihat satu persatu potongan anggota tubuh manusia diambil oleh pria penumpangnya tersebut dari tas jinjingnya. Tanpa pertanyaan pria di depan Hamid tersebut sperti menjawab tanda tanya yang ada dalam kepala hamid. 

     “Aku Dokter di rumah sakit ini, tak usah cemas, kalua mau pingsan, pingsan saja, nanti kusembuhkan.”

   Tanpa kata, Hamid langsung berteriak dan berdiri berusaha mebuka pintu, tapi seolah tak ada seoang pun di luar yang menghiraukan pertolongannya. Kini penumpang pria itu menghampiri Hamid sembari membawa pisau yang kini ada tepat di tangan kanannya. 

     “Nanti ku bayar, tak usah berisik di sini.” Suruh pria itu dengan senyuman dan suara berbisik. 

     Hamid hanya bisa terengah-engah dan membiarkan hidupnya selesai setelah pisau yang kini tepat ada di lehernya menggerek habis waktu dan membuatnya purnama abadi dalam kematian. Kini ia sama sekali tak berdaya dan memejamkan mata, mengingat kenangan-kenangan rekaman hidupnya sendiri, kesengsaraan yang setia menemani sampai mati, wajah istri yang beberapa minggu meninggalkannya, dan nama tuhannya yang sudah lama ia lupa menyebutnya dan baru kali ini lagi muncul di kepalanya. Ia meneteskan air mata. Betapa mengenaskan kehidupannya sendiri, sampai mati tak da seorang pun yang mengetahui kecuali tuhannya sendiri. 

     Detak jantung hamid kini berdetak sepeti mesin waktu yang seolah akan meledak, keringat bercucuran deras, ia hanya pasrah. Dan seketika ia pun terbangun dari mimpi malamnya, ia kini tersadar di pangkalan ojek yang masih utuh kesepiannya. Hamid begitu terkejut, dan itu semua ternyata mimpi. Untuk menangkan alam pikirannya, ia pun mulai membakar satu batang kretek dan mengepulkan asap, mengepulkan rasa lega terbangun dari mimpi buruknya.

     Berselang beberapa waktu, Hamid pergi dengan motornya dari pengkalan ojek. Malam yang begitu sepi kini menyalakan bulan di atasnya dan seolah-olah berkata sepiku tak pernah benar-benar ada bagi makhluk-Nya yang ditemani sengsara.


Minggu, 19 April 2020

Bapak


Bapak,
Anak laki-lakimu yang sekarang besar
Tak lebih besar daripada doa yang berisi sarung dan rokok-rokokmu.
Ia kadang lupa cara mengingat kumis, rambut, dan wajahmu.

Bapak, 
kali ini kau menjelma ilalang panjang di kepalanya.

4 April 2019

Senin, 13 April 2020

Melestarikan Budaya dengan Pola Pikir Pralogis , Haruskah?


     Selamat datang di beranda yang menjelma bukan sebagai makalah,, artikel ilmiah, essai, kritik, ataupun itu. Ini hanyalah halaman yang berisi pemikiran subjektif saja dan hanya diberi bumbu-bumbu objektif sebagai penyedap rasanya. Ngomong naon sih.

     Jika sebuah budaya merupayakan kehidupan sekelompok masyarakat yang
tercipta atas proses peradaban yang Panjang, lantas apa bisa budaya tersebut disebut masiha da dengan pola pikir masyarakat sendiri yang sudah berbeda? Di halaman ini saya bukan bermaksud untuk berspekulasi bahwa budaya-budaya bangsa kita sudah tidak berlaku. Tapi dengan kondisi dimana cara berpikir pralogis selalu saja dibantah dengan Ilmu Pengetahuan yang konon katanya merupakan hal yang empiriris bagaimana cara budaya tersebut bisa utuh jiwanya? Terlebih budaya sendiri hakikatnya bukan objek visual saja, tapi juga melibatkan pemikiran dan tingkah laku sosial masyarakat tersebut. Heuheuh teu? Sok geura tilik-tilik. 

     Okeh, disini kita kesampingkan dulu yah pertautan terhadap agama. Karena jujur saya bukan ustad, aslina.

     Kita ambil contoh, ketika masyarakat pesisir pantai selatan mengadakan pesta laut, mereka mempercayai kegiatan tersebut ialah ritual untuk meminta keselamatan nelayan terhadap tokoh mitos Nyi Roro Kidul. Jika saja pola berpikir pralogis tersebut hilang dari masyarakat pesisir pantai, otomatis pesta laut hanya akan menjadi acara rutin tahunan saja atau mungkin ditinggalkan. Lantas apa masih bisa salah satu ritual yang sudah menjadi budaya dari dulu tersebut menjadi budaya yang seutuhnya dengan hanya mengandalkan proses visualnya saja. Bisa, ganti saja tokoh Nyi roro kidul Tersebut dengan tuhan. Heeh kela kan tadi ge, mengesampingkan pertautan terhadap agama, jang contoh ieu mah, kalem lur da lain ateis di dieu ge. 

     Levy-Bruhl dalam bukunya yang berjudul Les Fonctions mentales dans les societies inferieures menegaskan bahwa menurutnya orang-orang primitif (masyarakat tradisional yang masih menjunjung tinggi kebudayan-kebudayaannya)  tak memiliki kapasitas untuk berefleksi yang bisa dibandingkan dengan orang barat dan secara khusus, tak mengindahkan asas nonkontradiksi dalam menyusun penalaran. Di mana kejadian-kejadian senantiasa dilekatkan dengan penyebab yang sejatinya tidak berhubungan dengannya. Seperti contoh kematian bagi mereka bukanlah hal yang alami, melainkan memiliki satu penyebab yang harus diwaspadai. Kalem urang kampung ulah ngegas pedah disebut primitif, sayah ge cicing di kampung da. 

     Yang ditegaskan Pak Levy di sana secara langsung disebutkan ada dua pola pikir, yaitu pralogis dan modern/barat. Kalem asa teu ngenah da ai kudu disebut pola pikir primitif mah. Keterangan keduanya bisa dibaca lagi di paragrap sebelumnya. Nah yang mesti kita khawatirkan ialah jika cara berpikir modern sudah bertabrakan dengan cara berpikir pralogis. Dan datang banyak orang, lagi tabrakan bukannya ditolongin eh malah bikin pidio sama dipoto-poto “Innalilahi, sudah terjadi kecelakaan.”. oke sorry kita balik lagi bertabraknya kedua pola pikir ini dampak buruknya yaitu ketika kita sudah mulai menyalah-nyalahkan pola pikir pralogis, di mana pola pikir tersebut yang sudah secara tidak langsung menciptakan budaya sekaligus menggerakan dan menggiatkan kehidupan sosial yang ada pada bangsa kita (Geger,2018) .

     Bimbi, tak mau kenal lagi kampungnya. Tah cek Titiek Puspa ge, ngeri kan mun nepi ka kitu? Tapi akan menjadi sebuah tanda tanya besar dalam benak kita untuk melestarikan budaya kita sendiri. Apa masih harus kita melestarikan budaya seutuhnya dengan cara berpikir pralogis melihat modernisasi dan pengetahuan yang konon katanya empiris tidak bisa dipungkiri lagi adanya. 

Sok siah kumaha tah?