Selasa, 26 Maret 2019

Lelaki Jadulku #3



            Suatu ketika di taman kota, Diana duduk dengan seorang laki-laki yang tidak lain ialah Randi pacarnya. Ramai kendaraan memenuhi telinga keduanya, sedangkan sepi keadaan hinggap pada pertemuan mereka sabtu sore itu. Dress putih yang dilapisi Cardigan sewarna membuat perempuan itu terlihat anggun dari sudut manapun, tapi tidak dengan hatinya. Kini ia membawa sejuta kecewa yang akan ia lantunkan melalui surat pendek yang sudah ia persiapkan dari kemarin hari.

            “Aku minta maaf,” Randi memulai pembicaraan.

            “Iya, sebelum kamu minta maaf aku udah maafin,” Jawab Diana.

            Ada sebuah sobekan kertas pada genggaman tangan kiri perempuan itu, ada juga satu kertas yang telah ia lipat dan berada pada genggaman tangan kanannya.

            “Aku pulang!”Diana berdiri, tangan kanannya menyodorkan kertas yang sudah ia lipat kepada pacarnya.

                        Lelaki itu bingung, ”Ini apa?” Tanyanya.

Diana tak bergeming, ia mulai membalikkan badannya dan melangkah pergi menjauh dari tempat di mana sang kekasih senantiasa melihatnya dari belakang. Kertas yang baru saja ia berikan adalah surat yang berisi keputusan dirinya, yaitu tentang hubungannya dengan Randi. Kertas itu di tulis semalam, sebelum besoknya ia berikan.

                                        Kita
                Aku ingat pertemuan pertama kita, yang diawali dengan ketidak sengajaan dan dilanjutkan dengan sebuah perasaan, perpustakaan adalah tempatnya. Di mana pada saat itu aku sedang di suruh mencari kakak kelas yang akan membimbingku untuk mengikuti olimpade Biologi tingkat Nasional.  Tepat di depan pintu perpustakaan aku menabrak seorang pria yang baru saja hendak keluar dari sana, itulah pertama kali aku merasakan rasa suka kepada seorang pria. Iya kaulah pria itu, sekaligus kakak kelas yang akan membimbingku belajar untuk olimpiade. Perbincangan yang kita lakukan di sela pembelajaranku kian membuka hati untuk menjatuhkannya pada seseorang untuk pertama kalinya. Tepat sekali, waktu ke waktu cinta mulai tumbuh ketika kita sering bersama.
            Terimakasih, aku begtu berterima kasih. Berkat bimbinganmu juga akhirnya aku menjadi juara pertama olimpiade tersebut. Terimakasih juga, denganmu aku pernah merasakan bahagia. Sebelum akhirnya lara memakan habis semuanya. Terimakasih atas semuanya termasuk alasan kenapa kita sekarang harus usai.
            Aku Diana tanpa terdesak oleh siapapun, tanpa mewakili apapun, mengucapkan PUTUS!


            Jingga mulai menghiasi mata seorang perempuan yang kala itu ia tertegun dan melamun di sebuah angkutan umum tepatnya di kursi paling belakang sembari menatap kaca jendela kendaraan tersebut, ia memikirkan apa yang baru saja terjadi dengannya. Air dari matanya mulai membasahi pipi tetes-pertetes, ia tak tahan menahan hal itu. Tak lama dari sana tangan Diana mengambil sesuatu dari saku cardigannya. Sebuah sobekan kertas yang bertuliskan OBAT kini ditatap perempuan itu. Ia tersenyum, sambil tangannya ia pakai mengusap air yang membasahi pipi chubinya itu. 

            Senja semakin senja, Diana percaya semua hal, apapun itu pasti akan maengalami senja dan tiba pada malam hari sebagai tanda bahwa waktu di hari itu akan berakhir. Begitupun dengan luka yang terdapat pada hatinya, ia masih berharap hal yang sama tentang senja akan tiba pada lukanya itu.




            Bersambung.........

Senin, 25 Maret 2019

Lelaki Jadulku #2




            Terik mentari senantiasa mengeringkan genangan hujan yang ada. Tepat di pinggir jalan seorang siswa berjalan santai menuju gerbang sekolah yang sudah digembok penjaga.

            “Assalamualaikum!” Salam siswa laki-laki sambil mendekati dua orang satpam sekolah di balik gerbang.

            “Cik atuh ari maneh Ga, jam sabelas karek datang. Ek sakola mah tadi ti isuk-isuk datangna,” Jawab salah seorang satpam yang artinya ehhhh kamu Ga, jam sebelas baru dateng, kalo mau sekolah tadi pagi-pagi datengnya.

            “Pak jawab heula atuh salamna, nanti bapak dosa,” Tegur siswa yang masih berdiri sambil memegang besi gerbang yang berarti Pak jawab dulu dong salamnya, nanti bapak dosa.

            “Waalaikumsalam,” Kedua satpam menjawab salam dengan keras, dan salah seorang dari mereka membuka kunci gerbang.

            Tak lama setelah gerbang dibuka mereka tertawa kencang bersama-sama, entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas begitulah setiap kali kedua orang satpam itu  jika bertemu seorang siswa bernama Arga.

            Arga Trisno, seorang siswa laki-laki bertubuh tinggi kurus dengan kulit sawo matang. Entah kapan terakhir kali ia pangkas rambut ikalnya, potongan rambut laki-laki itu memang bukan teladan bagi siswa-siswa yang ada di negara ini. Terlebih kebiasaan datang siang ke sekolah. Tas kosong adalah beban punggung setiap kali ia hendak ke sekolah, setiap kali ditanya kenapa cuma bawa tas kosong,  pasti dia jawab “Kan ke sekolah mau menimba ilmu, jadi ilmu dari sekolah saya bungkus dan masukin ke tas biar bisa dibawa pulang.” Dan tidak lupa tanganya pasti tidak terlepas dari buku sastra baik itu novel atau puisi lama.

            “Arga nilai matematikamu seratus tuh,” Ujar seorang wanita yang tengah berdiri di depan pintu kelas.  

            “ Iya makasih Vin. Kalau ada guru bilangin, aku sakit lagi di UKS,” Jawab Arga yang terlihat begitu cuek dengan hasil ulangannya sembari menyerahkan tas kepada wanita di depannya yang bernama Vina.

            “Karep ah ieuh, rudet ngabanungan maneh mah.” Jawab Vina sambil pergi ke dalam kelas.

            Tidak seperti biasanya ruang UKS terbuka. Arga sedikit heran, tapi dengan kecuekannya dia masuk seolah seperti penghuni sejati ruangan tersebut. Buku berjudul Latihan Tidur  karya Joko Pinurbo, ia buka halaman yang baru saja kemarin ia baca. Sambil melangkah menuju kasur khusus siswa sakit, ia baca satu persatu kata yang tertera di atas kertas buku yang ia pegang. Ketika tangannya hendak memegang tepi kasur, ia malah memegang tangan seorang wanita yang lelap tertidur.

            “Astagpiruloh!” Kaget Arga ketika menyentuh tangan siswi yang tertidur.

            Perempuan itu bangun dan hampir teriak, ketika matanya terrbuka melihat seorang pria tiba di depan matanya.”Huuuuuuuuuhhhh, aku kira penjahat, kamu siswa penjaga UKS yah?” Tanya perempuan itu dengan jantung yang masih berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi kaget.

            “Aku dokter di sini. Ada yang bisa bantu saya, eh ada yang bisa saya bantu?” Jawab Arga sambil berlagak seperti dokter yang hendak mengobati pasiennya.

            Wanita yang tadinya kaget kini lekas tertawa “Hahahahaha, masa dokter kucel?” Tanya perempuan itu sambil tertawa.

            “Sebentar,” Jawab Arga sambil berjalan untuk mengambil pena dan buku yang ada di meja UKS.

            Wanita itu tertawa kecil, ketika pria yang satu ruangan dengannya sedang menulis sesuatu di atas meja dengan muka yang sangat serius.

            “Nih, obat buat kamu.”Arga menghampiri wanita yang lekas duduk di kasur sembari menyodorkan sobekan kertas yang bertuliskan ”OBAT”.

            “Dok, ini obatnya diminum apa dimakan?” Tanya wanita itu sambil berpura-pura percaya pada laki-laki di depannya.

            “Simpan saja di saku, nanti kalau kamu sakit lagi tinggal ambil dan liat aja obat itu, pasti langsung sembuh,” Jawab Arga dengan muka sok serius.

            “Diana Astiradya, biasa dipanggil Dian atau Diana,” Ucap perempuan itu sambil menyodorkan tangan sebagai tanda pernikahan. Eh perkenalan.

            Arga menjabat tangannya ”Dokter, biasa dipanggil Pak dokter atau Dok,” Sahut Arga yang masih berlagak menjadi dokter.

            Diana yang tersenyum, kini tertawa lagi ”Kamu lucu.”

            “Kamu cantik, eh keceplosan maaf.” Sahut Arga yang sebenarnya memang disengaja.

.           Pipi Diana tiba-tiba memerah dan mulutnya seperti sulit lagi untuk berkata-kata. Tak lama dari sana suara beberapa perempuan dari luar terdengar memanggil mengajak Diana ke kelas “Dian, hayu ke kelas!” Hayu dalam bahasa Indonesia berarti ayo.

            Diana beranjak berdiri dari kasur, dengan sigap dia memang selalu terlihat senang jika teman-temannya memanggil nama perempuan itu. Ketika hendak pergi, Diana tersenyum kepada Arga yang melihatnya heran karena langsung sehat walafiat.

            “Dadah, makasih obatnya yah.”  Diana beranjak pergi sambil memasukan sobekan kertas ke saku bajunya.

            Arga hanya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan semangat, karena sekarang ia bisa mulai tidur lelap di UKS. 

            Teman-teman Diana menyambutnya di luar dengan pelukan persahabatan, “Akhirnya kamu bangun dari kubur.” Ucap salah satu seorang temannya yang membuat semua tertawa.

            Sekumpulan wanita itu beranjak pergi meninggalkan halaman UKS dengan hangatnya gelak tawa di antara mereka. Cerahnya hari menjadi latar waktu di mana hati Diana mulai gembira.

            “Dian, maaf yah kita gak sempet nemenin kamu, soalnya bu Siti masuk. Kamu tadi di UKS sendirian yah?” Tanya salah seorang teman sambil memita maaf.

            “Iya tenang aja, lagian tadi aku ada yang nemanin kok Rin.” Jawab Diana sambil senyum-senyum pada salah seorang temannya bernama Karin.

            “Randi si brengsek itu udah berani lagi nemuin kamu, waduh kurang ajar tuh orang, gak tau diri, bisanya cuma maenin perasaan cewek aja. Playboy g&bl*k tuh orang,” Gerutu Karin yang didukung oleh emosi teman lainnya.

            “Ihhhh bukan Randi kok.” Sahut Diana.

            “Lah terus siapa?” Tanya Pindi yaitu salah seorang temannya yang tepat berada di samping kiri Diana.

            Langkah Diana terhenti, ia sadar kalau saja tadi ia lupa menanyakan siapa nama laki-laki itu. 



          Bersambung..........

Lelaki Jadulku #1

     



        Mata cokelat baru saja dipejamkan dengan sengaja, setelah tubuh seorang perempuan
mendarat di kasur yang dia anggap surga. Baru saja ia selesai berurusan dengan tugas-tugas sekolah. Ditemani suara kendaraan di malam hari, ia setengah terlelap sebelum akhirnya notifikasi WhatsApp menjadi perhatian utama telinga perempuan itu.

       “Diana!” Sapa sesorang via WhatsApp yang bernama Randi.

       Perempuan itu, langsung terbangun dari posisi tidurnya. Ia duduk di atas kasur sambil cengengesan menatap pesan yang baru saja tiba. Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas lelah yang seolah menjadi musim kemarau seketika hilang terkena hujan gembira.

       “Iya, apa?” Balas perempuan itu.

       “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang telah menjadikannya abu,”

       Seketika wajahnya berubah menjadi lesu kembali, dan melanjutkan posisi tidur yang sempat ia jeda karena pesan dari pacarnya.

       Puisi kutipan dari sang pacar adalah hal yang memang terlalu sering bahkan bosan ditemui perempuan itu. Ia mungkin tidak membutuhkan kutipan kata-kata romantis,  ia hanya butuh perlakuan tulus dan nyata tanpa dramatis.

       Diana Astiradya adalah nama perempuan itu, wajah kuning langsatnya adalah idaman setiap perempuan seumurannya. Halis hitam yang begitu jelas, terlihat begitu serasi dengan mata yang berbulu centik, ditambah warna cokelat bulat matanya yang mampu membuat siapa saja mendadak terpana.

       Perempuan yang lahir pada pertengahan Agustus tahun 2000 itu berasal dari orang tua yang memiliki latar budaya yang berbeda, Ibunya keturunan jawa, sedang Ayahnya keturunan sunda. Mungkin itu adalah salah satu faktor kenapa ia begitu mencintai Indonesia yang berbhineka tunggal ika. Sampai titik antusiasnya mengantarkan pada jiwa sosial yang sangatlah melekat pada dirinnya.

       “Kok gak dibales?” Tanya sang pacar di kolom chat.

       “Aku mau tidur, dah!” Balas Diana.

       “Malam,” Sebuah pesan balasan masuk

       Begitulah yang perempuan itu dapati setiap malam, sebelum akhirnya ia terlelap masuk dalam dunia mimpi, dan terbangun kembali karena rutinitas pendidikan yang wajib ia lakukan selaku pelajar yang teladan.

       “Teeeeetttttttttttttttttt!” Bunyi bel baru saja berdengung di telinga pelajar SMA 1 Tasikmalaya, memecah rintik hujan yang sedang kebanyakan siswa-siswi nikmati di pertengahan bulan musim kemarau tepatnya Juni.

       Perempuan berambut sebahu, setengah berlari buru-buru karena tidak ingin terlambat masuk kelas. Hampir saja Diana ditahan satpam penjaga gerbang. Di koridor menuju kelas, 
tiba-tiba salah seorang perempuan sengaja menabrak Diana. Entah apa maksudnya, yang jelas perempuan itu seperti terlihat kesal pada perempuan anggun yang ditabraknya.

       “Kalo jalan liat-liat dong! Pake nabrak segala,” Solot  perempuan yang sengaja 
menabrak Diana.

       “Iya maaf, soalnya aku buru-buru lagi jalan ke kelas” Jawab Diana sambil meminta maaf.

       “Maaf, maaf, makannya kalo jalan liat-liat, dasar  tukang rebut pacar orang, gak tau diri banget sih jadi cewek murahan,”

       Diana kaget mendengar ucapan perempuan di depannya, sebelum akhirnya ia merasa kepalanya begitu pusing, dan mulai lemas sampai ia jatuh pingsan di koridor sekolah.




Bersambung.....

Minggu, 10 Maret 2019

Titik Lemah


     Apa mesti kita menilai seseorang dari nilai matematika? Fisika? Atau kimia atau yang lainnya? Orang yang selalu mendapat nilai 90 ke atas dianggap orang yang bagus, baik, dan teladan. Sedangkan yang mendapat nilai biasa-biasa saja ataupun lebih kecil sering tidak dianggap sama sekali bahkan mungkin dianggap orang bodoh dan nakal saja yang ada pada diri mereka.
     Aku pikir akademik bukan satu-satunya cara menilai seseorang. Sebab tidak semua orang mahir dan selalu mendapat nilai bagus di bidang akademik. Nilai akademik seseorang pun menurutku bukan penentu apa orang tersebut akan sukses atau tidak, toh rezeki sudah diatur tuhan tanpa perlu hapal rumus trigonometri.
     Iya, aku mengungkapkan hal seperti ini karena akulah salah satu orang yang buruk dalam bidang akademik itu. Entah apa yang menjadi latar belakangnya, yang pasti otakku sendiri sulit bahkan sangat sulit sekali memahami pelajaran, terutama hitungan; matematika, fisika, atau kimia. Sudah bisa kutebak, kalau saja ulangan, nilai yang kudapat pasti tidak pernah lebih dari 40. "Belajar sudah, berdoa sudah, mendengarkan guru sudah, terus kenapa dapat nilai besar masih susah?" Kadang pertanyaan itu selalu saja muncul di kepalaku, seolah-olah seperti ribuan anak panah yang menyerang dari dari arah musuh yang datang tiba-tiba. Tapi bagiku hal tersebut bukan titik penyesalan, melainkan awal berpikir untuk tidak memaksakan diri pada hal yang memang bukan untuk dipasangkan pada diri kita.
     "Hmmmm, mungkin fisika bukan jodoh, mungkin matematika juga, mungkin kimia juga, mungkin hampir seluruh pelajaran pun juga bukan jodoh." Begitu caraku berpikir, sampai akhirnya aku sadar akan beberapa hal penting yang ada pada diriku. "Lho, aku kan bisa main musik, kenapa tidak bercita-cita jadi musisi saja? Lho, aku kan hobi olahraga karate, kenapa tidak bercita-cita jadi atlet saja? Lho, aku juga kan hobi menulis, kenapa tidak bercita-cita jadi penulis saja? Untuk apa juga aku bercita-cita jadi arsitek kalau memang bukan cita-citaku." Cara berpikir seperti itulah yang selalu mengajakku untuk belajar cara bersyukur dan memahami bahwa tuhan pasti selalu memberi harapan kepada setiap makhluknya.
     Saya pertegas, saya tidak setuju untuk menilai seseorang dari nilai akademiknya. Banyak jalan menuju masa depan dan kebaikan. Bukan berarti bagiku pendidikan tidak penting, pendidikan penting kok. Dari sarana pendidikan yaitu sekolah, sekalipun ilmu yang didapat tidak seberapa tapi begitu banyak kawan, relasi, ataupun kenalan yang bisa kita dapatkan. Toh mendapatkan teman tidak serumit mendapatkan nilai X pada aljabar. Maka dari itu aku bersyukur bisa bersekolah, ya karena dari sana juga aku mendapatkan kawan-kawan yang begitu banyak. Teman memang bukan segalanya, tapi teman bisa jadi awal dari segalanya.
     Kembali ke pokok bahasan. Memang benar, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mungkin ini lah yang disebut bahwa manusia bukan makhluk yang sempurna, selalu ada titik lemahnya. Kalau semua siswa sama pintarnya, lantas siapa yang ranking pertamanya? Kalau semua orang adalah bos, lantas siapa bawahannya? Percayalah tuhan selalu menciptakan keseimbangan yang begitu harmoni.

Kamis, 07 Maret 2019

Rokok

                    
   Rokok membunuhmu, begitu kata pepatah baligo kesehatan di tembok-tembok tempat umum. Hmmmmm yang salah itu rokok atau pembelinya sih? Atau produsen rokoknya. Heran, kalo begiitu berarti rokok itu pembunuh, kalo pembunuh kok rokoknya gak dipenjara? Apa susahnya?
   Terakhir aku merokok itu sejak SD kelas 6, ya waktu itu rokok buat kita laki-laki seumuranku bukan kebutuhan, tapi gaya biar gaul katanya. Orang yang tidak ikut merokok di antara kami pasti akan diejek laki-laki lemah, lucu yah. Padahal lebih lemah laki-laki yang merokok tapi belinya pake uang orang tua. Hahhah iya gak sih? Ehh maaf bukannya menasihati, aku juga sempat mengalaminya kok.
   Menginjak bangku sekolah menengah pertama aku mulai berhenti, entah apa yang membuatku berhenti waktu itu, yang jelas aku lupa. Kalau tidak salah waktu itu sepertinya gara-gara aku dengar ceramah dari guru agama di sekolah. Secara tidak sadar ternyata itu sangat berpengaruh besar, di mana jaman sekarang banyak anak SMA seumuranku yang begitu ketergantungan dengan rokok. Hmmm coba kalau waktu itu aku tidak sempat mendengar ceramah guru di sekolah, pasti aku salah satunya.
   Alasanku berhenti dan tidak merokok sekarang tidak lain karena berpikir sepertinya terlalu percuma kalau uang yang kita punya berubah menjadi asap. Kalau mau asap, kenapa tidak beli korek saja, lalu membakar sampah? Mudahkan, ditambah murah meriah kok. Mending aku belikan yang lain saja, sepertinya martabak lebih sehat dari marlboro.
   Tanpa embel-embel kesehatan, sepertinya ini sekedar sudut pandang setiap orang saja kok. Kata kawan-kawanku sekarang rokok buat mereka bukan gaya, tapi kebutuhan. Katanya mereka bisa baru tenang kalau sudah menghisap tembakau itu. Ternyata seberpengaruh itu ya rokok bagi kehidupan mereka.
   Kata kawan-kawanku sangatlah sulit berhenti tidak merokok, tiga hari saja mereka tidak merokok, rasanya sama seperti tidak makan. Haduhhhhh. Kalau aku, tiga hari saja tanpa kabar darimu, rasanya sama seperti tidak hidup. Hahahahaha, percayalah hidup tidak selebay itu kok. Eh maaf.
   Kembali ke topik pembicaraan, hmmmm mungkin merokok atau tidak itu bukan masalah ya. Terlebih hal tersebut merupakan kebiasaan masing-masing setiap orang. Orang yang sering tidak mandi mungkin bisa terbiasa dengan hal tersebut, berbeda dengan orang yang rajin mandi mungkin mereka tidak akan nyaman dan terbiasa dengan kebiasaan tidak mandi. Yang salah itu justru ketika kita saling mempeedebatkan mana yang lebih baik antata perokok dan yang tidak. Toh rokok itu makruh, lebih baik merokok yang makruh daripada menjalani kehidupan yang makruh.