Suatu
ketika di taman kota, Diana duduk dengan seorang laki-laki yang tidak lain
ialah Randi pacarnya. Ramai kendaraan memenuhi telinga keduanya, sedangkan sepi
keadaan hinggap pada pertemuan mereka sabtu sore itu. Dress putih yang dilapisi
Cardigan sewarna membuat perempuan itu terlihat anggun dari sudut manapun, tapi
tidak dengan hatinya. Kini ia membawa sejuta kecewa yang akan ia lantunkan
melalui surat pendek yang sudah ia persiapkan dari kemarin hari.
“Aku
minta maaf,” Randi memulai pembicaraan.
“Iya,
sebelum kamu minta maaf aku udah maafin,” Jawab Diana.
Ada
sebuah sobekan kertas pada genggaman tangan kiri perempuan itu, ada juga satu
kertas yang telah ia lipat dan berada pada genggaman tangan kanannya.
“Aku
pulang!”Diana berdiri, tangan kanannya menyodorkan kertas yang sudah ia lipat
kepada pacarnya.
Lelaki
itu bingung, ”Ini apa?” Tanyanya.
Diana tak bergeming, ia
mulai membalikkan badannya dan melangkah pergi menjauh dari tempat di mana sang
kekasih senantiasa melihatnya dari belakang. Kertas yang baru saja ia berikan
adalah surat yang berisi keputusan dirinya, yaitu tentang hubungannya dengan
Randi. Kertas itu di tulis semalam, sebelum besoknya ia berikan.
Kita
Aku ingat pertemuan pertama kita,
yang diawali dengan ketidak sengajaan dan dilanjutkan dengan sebuah perasaan, perpustakaan
adalah tempatnya. Di mana pada saat itu aku sedang di suruh mencari kakak kelas
yang akan membimbingku untuk mengikuti olimpade Biologi tingkat Nasional. Tepat di depan pintu perpustakaan aku menabrak
seorang pria yang baru saja hendak keluar dari sana, itulah pertama kali aku
merasakan rasa suka kepada seorang pria. Iya kaulah pria itu, sekaligus kakak
kelas yang akan membimbingku belajar untuk olimpiade. Perbincangan yang kita
lakukan di sela pembelajaranku kian membuka hati untuk menjatuhkannya pada seseorang
untuk pertama kalinya. Tepat sekali, waktu ke waktu cinta mulai tumbuh ketika
kita sering bersama.
Terimakasih, aku begtu berterima
kasih. Berkat bimbinganmu juga akhirnya aku menjadi juara pertama olimpiade
tersebut. Terimakasih juga, denganmu aku pernah merasakan bahagia. Sebelum akhirnya
lara memakan habis semuanya. Terimakasih atas semuanya termasuk alasan kenapa
kita sekarang harus usai.
Aku Diana tanpa terdesak oleh siapapun,
tanpa mewakili apapun, mengucapkan PUTUS!
Jingga mulai
menghiasi mata seorang perempuan yang kala itu ia tertegun dan melamun di
sebuah angkutan umum tepatnya di kursi paling belakang sembari menatap kaca
jendela kendaraan tersebut, ia memikirkan apa yang baru saja terjadi dengannya.
Air dari matanya mulai membasahi pipi tetes-pertetes, ia tak tahan menahan hal
itu. Tak lama dari sana tangan Diana mengambil sesuatu dari saku cardigannya.
Sebuah sobekan kertas yang bertuliskan OBAT kini ditatap perempuan itu. Ia
tersenyum, sambil tangannya ia pakai mengusap air yang membasahi pipi chubinya
itu.
Senja
semakin senja, Diana percaya semua hal, apapun itu pasti akan maengalami senja
dan tiba pada malam hari sebagai tanda bahwa waktu di hari itu akan berakhir. Begitupun
dengan luka yang terdapat pada hatinya, ia masih berharap hal yang sama tentang
senja akan tiba pada lukanya itu.
Bersambung.........
Bersambung.........




