Mentari baru saja mengintip dari balik awan hujan yang kini terhenti. Entah siapa yang menyuruhnya berhenti, entah suara burung entah gersang di tempat lain yang memanggilnya untuk hadir di sana.
Karena kejadian seorang guru yang dirampok, semua guru yang berada di sekolah menengok pak Sardi yang sekarang sedang trauma di rumah. Semua siswa bubar, membawa kesenangan yang mendadak tiba. Seperti suara jatuhnya ratusan uang receh di tengah keheningan, suara motor dan sorak pun mulai memecah tengah hari yang cerah itu.
Diana berjalan menuju gerbang bersama teman-temannya, mereka ketawa-ketiwi. Mungkin sedang senang karena hari ini pulang lebih pagi. Dan di tengah perbincangan mereka, seketika temannya menanyakan tentang Arga kepada Diana. Tema obrolan pun kini berubah. (Maklum gelagat calon-calon ibu gosip)
Di tengah perjalanan dan perbincangan yang bertemakan Arga. Satu pertanyaan timbul seolah menjadi lonceng di kepala Diana. Ia baru sadar belum punya no telp/ WA Arga, padahal sudah lumayan agak lama ia kenal. Apa benar cinta itu bisa melupakan segalanya, sampai-sampai lupa bahwa hubungan cinta pun seharusnya diimbangi dengan komunikasi. Ah cinta, Diana sendiri pun tidak tahu-menahu apa dia sedang mengalami jatuh cinta atau tidak. Mungkin sekadar suka. Dan kemudian dalam pikirannya ia berjanji, jika saja bertemu dengan seekor Arga dia akan meminta no telp/wa nya.
Seorang siswa laki-laki tiba-tiba lari kencang dari belakang, tangannya mengarah ke belakang. Larinya menyerupai ninja-ninja di film Naruto. Ia lari menuju kerumunan laki-laki yang berada di depan warung sebrang sekolah sambil teriak. "Kagebunshin No Jutsu." Teriaknya begitu kencang, membuat siswa-siswi yang ia lewati kaget mendengarnya.
Diana tersenyum melihat laki-laki itu. Entah lucu, entah karena laki-laki itu sedang bermekaran di hatinya. Arga memang selalu bersikap hangat, tapi kadang juga receh.
"Cieeeeeeeeee punya gebetan Naruto tuh." Ucap pindi yang sambil mengangkat kedua alisnya dan menatap kawanannya.
Diana berlari ke arah laki-laki yang lari tadi, ia memanggil namanya sampai laki-laki itu menghampiri Diana. Perempuan itu hendak meminta no telp/Wa Arga, tapi laki-laki itu malah menggelengkan kepalanya. Sembari menyodorkan kertas yang bertuliskan sebuah alamat email.
Perempuan itu kini tau, kenapa tidak ada nama laki-laki itu di media sosial. Ternyata Arga sendiri pun sama sekali tidak memiliki HP android seperti manusia lainnya, bahkan belum pernah memiliki barang tersebut. Arga hanya memiliki satu perangkat komputer di rumahnya yang ia pakai untuk kirim naskah ke media cetak. Dan ia hanya memiliki akun Google guna berkirim pesan dengan pihak media cetak lewat email.
Melihat keadaan sosial yang semakin suram karena teknologi canggih yang bernama Handphone, Arga seolah menjadi bibit unggul yang tidak terkena virus tersebut. Mungkin Arga adalah salah-satunya manusia yang tidak menunduk setiap waktu untuk memandang layar Handphone untuk saling hujat di media sosial, untuk menghabiskan waktunya hidup dalam game online, untuk berkirim pertanyaan "Udah makan?" Dalam WA. Di masa sekarang, handphone seolah menjadi kebutuhan pokok. Seolah manusia tanpa Handphone itu manusia yang tidak bisa hidup. Tapi pernyataan tersebut tidak berlaku bagi makhkuk bernama Arga. Ia sudah terbiasa dengan hal tersebut dari jauh-jauh dulu.
Diana sedikit tercengan dengan pernyataan Arga yang tidak memiliki handphone. Ia hampir tidak percaya hal tersebut.
Selang beberapa waktu akhirnya Arga pamit untuk menghampiri teman-temannya di warung sebrang. Ia menanggalkan senyuman di benak perempuan yang usai menjadi lawan bicaranya. Menanggalkan seberkas kenangan yang hendak malam ini Diana pikirkan dengan hati yang kasmaran.
Matahari saat itu semakin meninggi, siswa-siswi kembali ke rumah dan kembali mengheningkan sekolah.
Bersambung....................
Pembicaraan beberapa siswa-siswi mengisi lorong yang sebelumnya hening. Diana yang baru tiba agak merasa aneh dengan situasi yang ia lihat, terlebih di ruang guru begitu banyak kerumunan siswa-siswi dan guru-guru. Dengan perasaan penasaran ia menghampiri kerumunan itu, dan kini pandangannya tertuju pada siswa laki-laki yang bonyok habis wajahnya ditambah kusut baju putihnya. Tidak lain itu adalah Arga, yang entah telah berbuat apa sampai begitu.
Diana menembus kerumunan dan menghampiri laki-laki itu, dengan hati yang penuh khawatir ia bertanya setengah memarahi laki-laki di depannya.
"Jadi laki-laki itu dewasa dong, berantem aja bisanya. Gak bisa mikir pake otak dingin dulu apa? Atau mau sok jadi jagoan?"
Arga diam tak bergumam satu kata pun.
"Lho, lho tenang geulis. Enggak kayak yang kamu pikir Diana." Seorang guru tiba dari ruangan uks kantor, sambil menenangkan Diana.
"Lahhh, terus kenapa bu Dina? Dia kan tukang bikin onar."
"Bentar dulu yah," Guru itu berjalan menuju kerumunan siswa yang menyaksikan percakapan di dalam kantor tersebut, dan tidak lama dari sana semua siswa pun bubar.
"Di tengah perjalanan ke sekolah, Pak Sardi disergap rampok di gang. Entah bagaimana ceritanya Arga pun ada di sana, dan Pak Sardi terselamatkan, tapi tas dan barang-barangnya diambil rampok itu dan Arga sendiri habis dikeroyok 3 perampok itu. Kalau saja Tidak ada Arga di sana, bisa-bisa pak Sardi yang tua itu yang habis dikeroyok." Jelas Ibu guru itu.
"Badai menggemuruh di ruang tidurmu. Hujan menderas, lalu kilat, petir, dan ledakan-ledakan waktu dari dadamu. Sebegitu hidupnya yah bait puisi Jokpin di kamu." Ucap mulut laki-laki yang tengah babak-belur sambil sedikit tersenyum menatap Diana.
"Walah-walah guru matematika kayak Ibu gini mana ngerti maksud dari kata-kata kamu itu." Gumam candaan Ibu guru yang tengah membersihkan luka di muka Arga.
Perempuan yang tengah berdiri itu lekas tersenyum, matanya terlihat berkaca-kaca. Entah perasaan apa yang telah membuatnya masuk dalam keadaan seperti itu, dalam kondisi yang terlalu melankolis.
"Bu dina masih jadi obat nyamuk nihh!" Teriak guru-guru yang tengah lalu lalang di ruang guru waktu itu sambil tertawa pekikikan.
Arga dan Diana Tersenyum.
"Lah bu, aku kira ibu nyamuknya." Ujar Arga sambil setengah tertawa.
"Wahh kurang ajar, mau Ibu kasih soal khusus hah nanti ulangan?" Balas Ibu guru itu sambil mencubit pinggang siswa laki-laki yang duduk didepannya.
Suasana seketika berubah menjadi begitu hangat, di waktu gerimis menyelimuti pagi. Dua pasang mata saling menatap, berharap tidak ada yang berpaling di antara keduanya yang terpisah udara dan Ibu Matematika.
"Udah nih tatap-tatapannya? Masuk gih nanti malah dimarahin guru yang masuk lho." Gumam Ibu Dina yang beranjak dari duduknya sambil menepuk bahu Arga.
"Lahh bu, aku kayak gini masa masuk kelas. Harusnya ibu anter yuk ke UKS." Mohon siswa laki-laki itu kepada Ibu guru yang tengah membantunya berdiri.
Diana hanya tersenyum melihat dua manusia di depannya. Arga dan Bu Dina terlihat seperti ibu dan anaknya sendiri. Ya memang, bu Dina sendiri adalah guru yang begitu dekat dengan Arga, dekat karena Arga sendiri sering membuat onar sehingga bu Dina sendiri yang bertanggung jawab ketika Arga dipanggil ke ruang BP.
"Ya sudah bu, saya permisi duluan ke kelas." Dengan sedikit terburu-buru Diana pamit meninggalkan seberkas senyum, takut kalau ada guru yang sudah masuk kelas.
"Iya iya, ibu juga ini mau anter anak kucing ke rumah sakit." Balas Bu dina dengan candaannya dengan setengah tertawa.
"Lohh kok anak kucing bu?" Tanya arga
"Lah tadi juga kamu bilang Ibu nyamuk," jawab si Ibu.
Keduanya kemudian saling berbalas tawa yang suaranya mengabaikan hujan yang kian deras. Deras akan omong kosong pelaku politik yang baru saja turun dari mimbar perdebatan. (Naha jadi kana politik.)
Bersambung.............................
Keluarga selalu menjadi alasan di balik kata pulang setiap orang. Tapi bagi sebagian orang yang tidak merasakannya, mungkin pulang cuma kata yang menyimpan segudang perasaan malang.
Orang tua Arga berpisah saat ia menginjak umur 11 tahun. Entah apa yang menjadi latar belakang keduanya, yang pasti Arga hanya anak laki-laki yang masih membutuhkan pelukan hangat keluarga, terlebih ia anak tunggal.
Arga tidak ikut ke salah satu dari dua orang tuanya tersebut, ia hanya mengikuti sepi dan entah yang akan menggiringnya pada sebuah perjalanan hidup. Anak laki-laki itu tinggal sendiri di rumah peninggalan orang tuanya tersebut, dengan uang yang selalu orang tuanya kirim tiap bulan. Dasar, mungkin sebagian orang pikir uang adalah buah kasih sayang.
Di malam itu, seperti biasa Arga baru selesai membuat beberapa puisi dan mengirimnya ke media cetak. Bakat menulisnya mungkin adalah warisan dari sang ayah. Entah berapa karya yang sudah dipublikasi, itulah rutinitas dan cara laki-laki itu menyambung hidupnya selain dari uang orang tuanya. (Arga cuma mengirim puisinya ke media cetak, ya maklum dia jomb.)
Puisi seolah menjadi rumah bagi laki-laki itu. Tempat keluh kesah lika-liku hidupnya, sekaligus tempat sumber penutup rasa keroncong laparnya. Arga memang tidak pernah menyebut dirinya bercita-cita jadi penulis atau penyair, tapi kesehariannya tidak pernah terlepas dari dunia sastra. Bahkan di kamarnya, terpampang poster seperti Chairil Anwar, Marah Rusli, dan banyak lainnya. Kamarnya mungkin lebih pantas disebut gudang buku, buku di mana-mana. Bahkan etalase besar pun masih tidak cukup untuk menyimpan buku. Di kasurnya selalu saja ada buku yang terbuka lembarannya, buku yang belum tuntas ia baca.
Laki-laki itu mungkin bisa dibilang kuno. Ia hanya bergelut dengan buku saja di saat remaja sekarang sedang musimnya bergelut dengan media sosial di smartphone nya. Ia hanya berkirikm e-mail dengan pihak media cetak saja di saat remaja sekarang saling kirim pesan dengan pasangannya.
Entah apa yang sedang terjadi dengan orang tuanya sekarang, Arga sama sekali tidak tahu. Dia sudah hampir kehilangan komunikasi selama satu bulan lebih dengan keduanya. Dan Arga sekarang sekedar menjadi rumput liar yang menjalar sendiri di pemukiman sepi.
Bersambung.............