Rumania 1479
Seorang
remaja yang hanya terbaring lemah itu cuma bisa meratapi dan menahan sakit di
jantung yang kian hari kian memperparah keadaanya. Seorang perempuan paruh baya
yang merupakan sang Ibu dari remaja tersebut tak berhenti menangis setelah
mendengar perkataan orang pintar di wilayah tersebut memberi tahu, bahwasanya
putra semata wayangnya tersebut tak lama lagi akan menemukan ajal.
Kapan
ayah pulang bu? Anak remaja itu tak henti-hentinya mempertanyakan pertanyaan
yang sama,
Seorang
yang dianggapnya ayah belum pernah terlihat kembali mendekap rumah setelah ia
memutuskan pergi dalam aksi peperangan yang diperintahkan raja rumania 10 tahun
sebelumnya.
Başrov
dini hari mampu menerkam siapa saja dengan dinginnya suhu bagi orang yang
berjalan di luar rumah tanpa sekain pakaian pun. Di tengah degup yang kiab menyakitkan rasanya, remaja malang itu
beranjak keluar dari rumah yang telah lama mendekap sakitnya. Ia menyusuri
kabut yang menebal sampai seperti tak ada celah sedikitpun untuk ia melihat. Tak
jauh di depan dari tempat ia berjalan, samar-samar ada seseorang yang tengah
terdiam menunggangi kuda. Sosok tersebut terlihat seperti tengah menunggu
seseorang yang hendak menghampirinya. Dengan tertatih-tatih remaja malang yang
kian mengkhawatirkan berjalan mendekati sosok penunggang kuda tersebut dan
dengan raut wajah memelasnya berusaha memandang wajah penunggang kuda yang
sekarang ada di depan matanya.
“Pangeran Vlad! Iya, itu kau kan
sang pangeran Wallachia itu?” teriak remaja malang itu sambil terengah-engah.
Sang penunggang kuda hanya terdiam
sembari menatap mata remaja malang tersebut.
“Iya itu kau, aku jelas mengenali
rupamu yang seringkali ku lihat wajahmu di tengah bingkai lukisan yang
terpampang di kamar ayahku, tetapi kau sudah mati kan?”
“Siapa namamu anak manusia?” Gema
suara dari pertanyaan yang dilontarkan sang penunggang kuda seolah terdengar
dari segala arah.
“Denver Benedikte putra Andrea Benedikte
salah seorang prajurit di kerajaanmu. Kembalikan ayahku!” teriakan remaja itu seolah
melemah di tengah degup jantung dan dingin yang menghujam suaranya.
Pagi hari yang tak terlihat
sedikitpun matahari telah mendatangkan hujan tiba-tiba, darah mengalir di atas
genangan air yang menyusuri jalan di Başrov. Warga sekitar berkerumun
menyaksikan seorang remaja yang kini terkapar dengan luka-luka gigitan di sekitaran
tubuhnya. Seorang ibu berteriak menyebut nama remaja tersebut sembari menangis dengan
air mata yang menyatu bersama air hujan yang sedihnya kian menderas kala itu.
Tubuh Denver begitu dingin,
jantungnya tak lagi berdegup menandakan sakit yang ia deritapun akhirnya
hilang. Begitu juga dengan nafasnya, tak ada engah penderitaan kali ini. warga membawa
sang ibu yang pingsan, dan jasad Denver yang mengenaskan. Pagi itu bukan tiba
untuk menyambut matahari, melainkan untuk peti mati yang hendak membawa Denver dalam
keabadian.
Tak lama perjalanan mengantar Denver
menuju pemakaman pun di lakukan seluruh warga, sebagai anak salah seorang
prajurit yang begitu dipandang masyarakat tak ada satupun orang yang tidak ikut
mengantarkan Denver hari itu di tengah hujan. Sang ibu tak henti-hentinya lagi menangis.
Di tengah-tengah perjalanan dan
hujan yang mereda, terdengar suara kuda-kuda dari beberapa prajurit yang
tiba-tiba menghampiri rombongan pemakaman teresebut. Prajurit-prajurit berkuda
kuda yang kian mendekat kini jelas begitu terlihat asing. Masing-masing dari
mereka mengacungkkan pedang sampai salah satu dari mereka memberi komando tegas
di tengah gerimis.
“Bunuh semua orang ini!”
Semua warga yang ikut mengantar Denver
tak ada yang berkutik seorang pun, kecuali sang ibu yang tengah menangisi
kematian anaknya di tengah kondisi yang mengancam tersebut. Sang ibu menghampiri
salah seorang prajurit yang tengah mengepung seolah memohon untuk memberi
kesempatan untuk mengantar anak semata wayangnya. Tanpa sepatah kata pun sang
prajurit mendaratkan tusukan pedangnya ke tubuh sang ibu tersebut, sampai semua
prajurit bergerak membunuh siapapun yang berada di sana.
Di salah satu jalan Başrov yang katanya begitu indah, kini
hanya menyisakan mayat-mayat warga yang terbunuh tanpa dosa pagi itu. Tak ada
lagi suara terkecuali hembusan angin yang seolah menghilangkan hujan di tengah hari
yang bergerak menuju petang itu. Peti Denver tergeletak begitu saja di tengah
mayat-mayat yang mati mengenaskan. Peti yang hitam kelam, yang seolah menyanyikan
nyanyian burung-burung kematian.
Peti yang sedari tadi tergeletak itu,
entah apa yang terjadi. Tiba-tiba seperti terbuka dengan sendirinya, semakin
terbuka semakin jelas terlihat jasad Denver yang kian pucat. Senja yang
mengintip dari balik dedaunan tak sengaja menyorot mata jasad tersebut. Beberapa
luka-luka yang terdapat dibagian lengan dan leher Denver kini terlihat menghilang,
diiringi membukanya mata dan hela-hembus nafas yang perlahan muncul dari jasad
remaja yang sudah dipastikan mati kala itu.
Bayang-bayang peristiwa masa lalu
tersebut menemani Dudung dalam perjalanannya menuju suatu tempat yang ia tuju malam
ini. Semakin lama, bayang-bayang tersebut semakin jelas di benak Dudung. Semua hal
ia coba untuk melupakan awal mula semua ini terjadi sampai ia mengganti
identitas dirinya dari seorang yang bernama Denver.
Tak lama berselang, Dudung pun Kembali
membenamkan pandangannya ke dalam sebuah kertas lusuh yang bertuliskan.
“You just come to a place called
Bandung. -Rosseti ”


