Selasa, 28 Juni 2022

The Man Who Called "D" #2

 

Rumania 1479

Seorang remaja yang hanya terbaring lemah itu cuma bisa meratapi dan menahan sakit di jantung yang kian hari kian memperparah keadaanya. Seorang perempuan paruh baya yang merupakan sang Ibu dari remaja tersebut tak berhenti menangis setelah mendengar perkataan orang pintar di wilayah tersebut memberi tahu, bahwasanya putra semata wayangnya tersebut tak lama lagi akan menemukan ajal.

Kapan ayah pulang bu? Anak remaja itu tak henti-hentinya mempertanyakan pertanyaan yang sama,

Seorang yang dianggapnya ayah belum pernah terlihat kembali mendekap rumah setelah ia memutuskan pergi dalam aksi peperangan yang diperintahkan raja rumania 10 tahun sebelumnya.

Başrov dini hari mampu menerkam siapa saja dengan dinginnya suhu bagi orang yang berjalan di luar rumah tanpa sekain pakaian pun. Di tengah degup yang kiab menyakitkan rasanya, remaja malang itu beranjak keluar dari rumah yang telah lama mendekap sakitnya. Ia menyusuri kabut yang menebal sampai seperti tak ada celah sedikitpun untuk ia melihat. Tak jauh di depan dari tempat ia berjalan, samar-samar ada seseorang yang tengah terdiam menunggangi kuda. Sosok tersebut terlihat seperti tengah menunggu seseorang yang hendak menghampirinya. Dengan tertatih-tatih remaja malang yang kian mengkhawatirkan berjalan mendekati sosok penunggang kuda tersebut dan dengan raut wajah memelasnya berusaha memandang wajah penunggang kuda yang sekarang ada di depan matanya.

“Pangeran Vlad! Iya, itu kau kan sang pangeran Wallachia itu?” teriak remaja malang itu sambil terengah-engah.

Sang penunggang kuda hanya terdiam sembari menatap mata remaja malang tersebut.

“Iya itu kau, aku jelas mengenali rupamu yang seringkali ku lihat wajahmu di tengah bingkai lukisan yang terpampang di kamar ayahku, tetapi kau sudah mati kan?”

“Siapa namamu anak manusia?” Gema suara dari pertanyaan yang dilontarkan sang penunggang kuda seolah terdengar dari segala arah.

“Denver Benedikte putra Andrea Benedikte salah seorang prajurit di kerajaanmu. Kembalikan ayahku!” teriakan remaja itu seolah melemah di tengah degup jantung dan dingin yang menghujam suaranya.

Pagi hari yang tak terlihat sedikitpun matahari telah mendatangkan hujan tiba-tiba, darah mengalir di atas genangan air yang menyusuri jalan di Başrov. Warga sekitar berkerumun menyaksikan seorang remaja yang kini terkapar dengan luka-luka gigitan di sekitaran tubuhnya. Seorang ibu berteriak menyebut nama remaja tersebut sembari menangis dengan air mata yang menyatu bersama air hujan yang sedihnya kian menderas kala itu.

Tubuh Denver begitu dingin, jantungnya tak lagi berdegup menandakan sakit yang ia deritapun akhirnya hilang. Begitu juga dengan nafasnya, tak ada engah penderitaan kali ini. warga membawa sang ibu yang pingsan, dan jasad Denver yang mengenaskan. Pagi itu bukan tiba untuk menyambut matahari, melainkan untuk peti mati yang hendak membawa Denver dalam keabadian.

Tak lama perjalanan mengantar Denver menuju pemakaman pun di lakukan seluruh warga, sebagai anak salah seorang prajurit yang begitu dipandang masyarakat tak ada satupun orang yang tidak ikut mengantarkan Denver hari itu di tengah hujan. Sang ibu tak henti-hentinya lagi menangis.

Di tengah-tengah perjalanan dan hujan yang mereda, terdengar suara kuda-kuda dari beberapa prajurit yang tiba-tiba menghampiri rombongan pemakaman teresebut. Prajurit-prajurit berkuda kuda yang kian mendekat kini jelas begitu terlihat asing. Masing-masing dari mereka mengacungkkan pedang sampai salah satu dari mereka memberi komando tegas di tengah gerimis.

“Bunuh semua orang ini!”

Semua warga yang ikut mengantar Denver tak ada yang berkutik seorang pun, kecuali sang ibu yang tengah menangisi kematian anaknya di tengah kondisi yang mengancam tersebut. Sang ibu menghampiri salah seorang prajurit yang tengah mengepung seolah memohon untuk memberi kesempatan untuk mengantar anak semata wayangnya. Tanpa sepatah kata pun sang prajurit mendaratkan tusukan pedangnya ke tubuh sang ibu tersebut, sampai semua prajurit bergerak membunuh siapapun yang berada di sana.

Di salah satu jalan Başrov yang katanya begitu indah, kini hanya menyisakan mayat-mayat warga yang terbunuh tanpa dosa pagi itu. Tak ada lagi suara terkecuali hembusan angin yang seolah menghilangkan hujan di tengah hari yang bergerak menuju petang itu. Peti Denver tergeletak begitu saja di tengah mayat-mayat yang mati mengenaskan. Peti yang hitam kelam, yang seolah menyanyikan nyanyian burung-burung kematian.

Peti yang sedari tadi tergeletak itu, entah apa yang terjadi. Tiba-tiba seperti terbuka dengan sendirinya, semakin terbuka semakin jelas terlihat jasad Denver yang kian pucat. Senja yang mengintip dari balik dedaunan tak sengaja menyorot mata jasad tersebut. Beberapa luka-luka yang terdapat dibagian lengan dan leher Denver kini terlihat menghilang, diiringi membukanya mata dan hela-hembus nafas yang perlahan muncul dari jasad remaja yang sudah dipastikan mati kala itu.

Bayang-bayang peristiwa masa lalu tersebut menemani Dudung dalam perjalanannya menuju suatu tempat yang ia tuju malam ini. Semakin lama, bayang-bayang tersebut semakin jelas di benak Dudung. Semua hal ia coba untuk melupakan awal mula semua ini terjadi sampai ia mengganti identitas dirinya dari seorang yang bernama Denver.

Tak lama berselang, Dudung pun Kembali membenamkan pandangannya ke dalam sebuah kertas lusuh yang bertuliskan.

“You just come to a place called Bandung. -Rosseti ”

 

 

Kamis, 16 Juni 2022

The man who called "D"

     Kabut tengah mengerumuni malam yang sedang menyusun satu-persatu butiran cahaya di atasnya, seorang lelaki yang tertidur pulas pun langsung terbangun terjerembab dalam kehidupan yg hendak ia jumpai setelah beberapa waktu lamanya. Ia hanya terbangun dengan kain putih yg tersimpul menyerupai pakaian dalam di pinggangnya. Matanya tersorot cahaya bulan yang mengintip dari sela kabut yang bergerak entah ke arah mana, sedang angin berhembus dari jendela yang tiba-tiba terbuka sampai menyibak rambut panjang yang berkilauan menyandingi bias cahaya-cahaya kecil di langit malam itu. 

     "Sempakku awet juga" gumamnya dalam hati sembari melihat ke arah kain yang menyimpul disekitaran pinggangnya.

     Laki-laki itu beranjak, menelusuri lorong yg menyerupai labirin dan memasuki ruangan yg penuh dengan kertas-kertas lusuh di dalamnya. Satu lembaran kertas ia ambil, kertas yg bertuliskan identitas seseorang yg tak lain ialah identitas dirinya sendiri. Tertera sebuah nama dengan tulisan khas seseorang yg membentuk rapih dan terlihat anggun

     Tak lama ia langsung mendekati subuah cermin besar yang terdapat di ruangan tersebut lalu berkata pada dirintya sendiri "nanti pagi kau harus pergi ke nusantara, hahahaha! "D

     Dalam sebuah kastil yg terpencil dalam di tengah hutan, gema suara tertawa laki-laki itu mempertebal kabut di langit secara perlahan. Dingin tiba-tiba membekam burung-burung di pepohonan, senyap tiba-tiba tak ada lain suara, selain tertawa. Lembar kertas yangg lelaki itu pegang pun ia tanggalkan di meja, kertas yang bertuliskan sebuah nama 


"Dudung Kusmayadi

Rabu, 08 Juli 2020

Di Pangkalan

     Malam pun memulai perjalanan, dan satu batang kretek telah dibakar seorang laki-laki paruh baya. Kini ia mengepulkan asapnya, berharap semua endapan yang menumpuk di kepalanya ikut terbakar dan ikut mengasap keluar.

     Hamid seorang ojek pangkalan tengah memerhatikan wujud kehidupannya sendiri yang kian purnama sengsara. Ia sekarang menggarisbawahi bahwa sebuah keutuhan keluarga mustahil ada dengan keberadaan sengsara. Dan itulah yang membuat istrinya sendiri baru-baru ini pergi meninggalkannya utuh sebatang kara. Malam ini hamid hanya ditemani motor bebek peninggalan almarhum ayahnya, motor sekaligus inventarisnya sendiri agar kretek yang selalu dibakarnya senantiasa ada. 

     Tengah malam yang sepinya semakin utuh kini tiba-tiba pecah dengan seseorang yang lari sembari menjingjing tas dari jalanan gelap tepat dibelakang pangkalan yang Hamid tengah berada di sana sendiri. Pria itu seperti terburu-buru entah karena apa, dan langsung meminta Hamid untuk mengantarkannya. Tak butuh waktu lama, Hamid langsung menyelah motor dan keduanya pergi meninggalkan pangkalan yang sepinya kini utuh kembali. Di tengah perjalanan Hamid begitu bingung, dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi dengan peumpangnya. Ia menerka-nerka jangan-jangan laki-laki itu adalah maling yang sengaja kabur dari kampung warga, atau mungkin pelaku kejahatan yang hendak pergi meninggalkan tkp agar tidak diketahui dan dijadikan tersangka. Tanpa basa-basi ia pun menanyakannya.

     “Pak, ada apa? kenapa tadi lari dan terlihat seperti terburu-buru?”

     “Kamu gak perlu tahu, antarkan saja saya secepatnya ke alamat ini!” suruh pria itu sambil menyodorkan alamat yang tertera di sobekan kertas lusuhnya. 

     Tanpa pikir Panjang, Hamid pun langsung menancap gas secepatnya. Kini ia paham, mungkin pria ini buru-buru menghampiri anggota keluarganya yang sedang di rawat di rumah sakit terdekat. 

     Gerimis kini memulai gemerciknya, yang seolah menyuruh berteduh kepada siapa saja yang menghadangnya. Hamid menepi sejenak ke bahu jalan untuk mengenakan jas hujan, dan menyuruh pria yang bersamanya mengenakan jas hujan untuk penumpang yang Hamid sodorkan. Keduanya pun kembali bergegas. Di tengah perjalanan Hamid baru sadar, bahwa pria ini belum pernah ia lihat di kampungnya. Tapi karena rumah sakit kini sudah di depan mata, Hamid pun tak menghiraukannya. Toh yang penting menurutnya sekarang ia dapat bayaran dari pekerjaan sebagai ojeknya.

     Pria itu pun turun, tetapi bukannya membayar Hamid, kini ia justru meminta hamid untuk menemaninya masuk ke rumah sakit yang ia tuju. Dengan berat hati seorang ojek yang bertubuh  kurus kering itu pun mengiyakan permintaan penumpanya tersebut, ia berpikir mungkin saja ia lupa membawa uang dan akan dibayar oleh sanak keluarga yang ada di sana. Keduanya langsung berjalan menyusuri Lorong-lorong rumah sakit yang begitu gelap dan sama sekali tidak ada pencahayaan lampu di sana. Dan hamid di bawa masuk ke sala satu ruangan oleh pria tersebut dan langsung menguncinya, ketika pria itu menyalakan lampu. Hamid amat terkejut dengan apa yang ada di ruangan itu.

     Di depan mata tukang ojek itu jelas terlihat, potongan-potongan tubuh manusia, dan ia langsung lemas tak berdaya dan jatuh begitu saja melihat semuanya. Penumpang prianya kini membuka tas yang tadi dijinjingnya, dan Hamid kini amat terkejut untuk kedua kalinya melihat satu persatu potongan anggota tubuh manusia diambil oleh pria penumpangnya tersebut dari tas jinjingnya. Tanpa pertanyaan pria di depan Hamid tersebut sperti menjawab tanda tanya yang ada dalam kepala hamid. 

     “Aku Dokter di rumah sakit ini, tak usah cemas, kalua mau pingsan, pingsan saja, nanti kusembuhkan.”

   Tanpa kata, Hamid langsung berteriak dan berdiri berusaha mebuka pintu, tapi seolah tak ada seoang pun di luar yang menghiraukan pertolongannya. Kini penumpang pria itu menghampiri Hamid sembari membawa pisau yang kini ada tepat di tangan kanannya. 

     “Nanti ku bayar, tak usah berisik di sini.” Suruh pria itu dengan senyuman dan suara berbisik. 

     Hamid hanya bisa terengah-engah dan membiarkan hidupnya selesai setelah pisau yang kini tepat ada di lehernya menggerek habis waktu dan membuatnya purnama abadi dalam kematian. Kini ia sama sekali tak berdaya dan memejamkan mata, mengingat kenangan-kenangan rekaman hidupnya sendiri, kesengsaraan yang setia menemani sampai mati, wajah istri yang beberapa minggu meninggalkannya, dan nama tuhannya yang sudah lama ia lupa menyebutnya dan baru kali ini lagi muncul di kepalanya. Ia meneteskan air mata. Betapa mengenaskan kehidupannya sendiri, sampai mati tak da seorang pun yang mengetahui kecuali tuhannya sendiri. 

     Detak jantung hamid kini berdetak sepeti mesin waktu yang seolah akan meledak, keringat bercucuran deras, ia hanya pasrah. Dan seketika ia pun terbangun dari mimpi malamnya, ia kini tersadar di pangkalan ojek yang masih utuh kesepiannya. Hamid begitu terkejut, dan itu semua ternyata mimpi. Untuk menangkan alam pikirannya, ia pun mulai membakar satu batang kretek dan mengepulkan asap, mengepulkan rasa lega terbangun dari mimpi buruknya.

     Berselang beberapa waktu, Hamid pergi dengan motornya dari pengkalan ojek. Malam yang begitu sepi kini menyalakan bulan di atasnya dan seolah-olah berkata sepiku tak pernah benar-benar ada bagi makhluk-Nya yang ditemani sengsara.


Minggu, 19 April 2020

Bapak


Bapak,
Anak laki-lakimu yang sekarang besar
Tak lebih besar daripada doa yang berisi sarung dan rokok-rokokmu.
Ia kadang lupa cara mengingat kumis, rambut, dan wajahmu.

Bapak, 
kali ini kau menjelma ilalang panjang di kepalanya.

4 April 2019

Senin, 13 April 2020

Melestarikan Budaya dengan Pola Pikir Pralogis , Haruskah?


     Selamat datang di beranda yang menjelma bukan sebagai makalah,, artikel ilmiah, essai, kritik, ataupun itu. Ini hanyalah halaman yang berisi pemikiran subjektif saja dan hanya diberi bumbu-bumbu objektif sebagai penyedap rasanya. Ngomong naon sih.

     Jika sebuah budaya merupayakan kehidupan sekelompok masyarakat yang
tercipta atas proses peradaban yang Panjang, lantas apa bisa budaya tersebut disebut masiha da dengan pola pikir masyarakat sendiri yang sudah berbeda? Di halaman ini saya bukan bermaksud untuk berspekulasi bahwa budaya-budaya bangsa kita sudah tidak berlaku. Tapi dengan kondisi dimana cara berpikir pralogis selalu saja dibantah dengan Ilmu Pengetahuan yang konon katanya merupakan hal yang empiriris bagaimana cara budaya tersebut bisa utuh jiwanya? Terlebih budaya sendiri hakikatnya bukan objek visual saja, tapi juga melibatkan pemikiran dan tingkah laku sosial masyarakat tersebut. Heuheuh teu? Sok geura tilik-tilik. 

     Okeh, disini kita kesampingkan dulu yah pertautan terhadap agama. Karena jujur saya bukan ustad, aslina.

     Kita ambil contoh, ketika masyarakat pesisir pantai selatan mengadakan pesta laut, mereka mempercayai kegiatan tersebut ialah ritual untuk meminta keselamatan nelayan terhadap tokoh mitos Nyi Roro Kidul. Jika saja pola berpikir pralogis tersebut hilang dari masyarakat pesisir pantai, otomatis pesta laut hanya akan menjadi acara rutin tahunan saja atau mungkin ditinggalkan. Lantas apa masih bisa salah satu ritual yang sudah menjadi budaya dari dulu tersebut menjadi budaya yang seutuhnya dengan hanya mengandalkan proses visualnya saja. Bisa, ganti saja tokoh Nyi roro kidul Tersebut dengan tuhan. Heeh kela kan tadi ge, mengesampingkan pertautan terhadap agama, jang contoh ieu mah, kalem lur da lain ateis di dieu ge. 

     Levy-Bruhl dalam bukunya yang berjudul Les Fonctions mentales dans les societies inferieures menegaskan bahwa menurutnya orang-orang primitif (masyarakat tradisional yang masih menjunjung tinggi kebudayan-kebudayaannya)  tak memiliki kapasitas untuk berefleksi yang bisa dibandingkan dengan orang barat dan secara khusus, tak mengindahkan asas nonkontradiksi dalam menyusun penalaran. Di mana kejadian-kejadian senantiasa dilekatkan dengan penyebab yang sejatinya tidak berhubungan dengannya. Seperti contoh kematian bagi mereka bukanlah hal yang alami, melainkan memiliki satu penyebab yang harus diwaspadai. Kalem urang kampung ulah ngegas pedah disebut primitif, sayah ge cicing di kampung da. 

     Yang ditegaskan Pak Levy di sana secara langsung disebutkan ada dua pola pikir, yaitu pralogis dan modern/barat. Kalem asa teu ngenah da ai kudu disebut pola pikir primitif mah. Keterangan keduanya bisa dibaca lagi di paragrap sebelumnya. Nah yang mesti kita khawatirkan ialah jika cara berpikir modern sudah bertabrakan dengan cara berpikir pralogis. Dan datang banyak orang, lagi tabrakan bukannya ditolongin eh malah bikin pidio sama dipoto-poto “Innalilahi, sudah terjadi kecelakaan.”. oke sorry kita balik lagi bertabraknya kedua pola pikir ini dampak buruknya yaitu ketika kita sudah mulai menyalah-nyalahkan pola pikir pralogis, di mana pola pikir tersebut yang sudah secara tidak langsung menciptakan budaya sekaligus menggerakan dan menggiatkan kehidupan sosial yang ada pada bangsa kita (Geger,2018) .

     Bimbi, tak mau kenal lagi kampungnya. Tah cek Titiek Puspa ge, ngeri kan mun nepi ka kitu? Tapi akan menjadi sebuah tanda tanya besar dalam benak kita untuk melestarikan budaya kita sendiri. Apa masih harus kita melestarikan budaya seutuhnya dengan cara berpikir pralogis melihat modernisasi dan pengetahuan yang konon katanya empiris tidak bisa dipungkiri lagi adanya. 

Sok siah kumaha tah?

Minggu, 03 November 2019

Joko Pinurbo dan Haus Hujannya

   

    Joko Pinurbo atau sering disapa Jokpin adalah penyair yang memiliki gaya kepenulisan yang unik. Kesederhanaannya dalam berpuisi selalu membuat kita merasa getir ketika membaca puisinya, puisi-puisi yang memang menggambarkan sebuah kehidupan nyata yang sering dan tidak akan asing kita lihat atau kita alami. 

     Tidak hanya tentang kegetiran hidup yang ia suguhkan, Jokpin pun sering memunculkan humor dalam puisi-puisi yang ia buat. Dalam sebuah diskusi tentang berpuisi beliau pernah menjelaskan bahwa humor yang sering ia suguhkan itu terinspirasi dari humornya Alm. Gusdur. Di mana humor yang Gusdur sendiri sering lontarkan yaitu sebuah humor yang menurut Jokpin merupakan permainan logika tingkat tinggi. begitupun humor yang ia suguhkan dalam puisi-puisinya "Humor dalam puisi saya adalah hasil belajar di mana isinya tentang permainan logika." Jelas beliau.


     Salah satu puisi Jokpin yang menarik menurut penulis adalah puisi Haus Hujan. Di mana puisi tersebut secara sepintas menggambarkan seseorang yang malah sering tidur di waktu hujan tiba, Dalam puisi tersebut hujan seolah menjadi makhluk hidup yang kesepian yang malah mendengar derainya sendiri tanpa ada seorangpun yang peduli. yang menggelitik dalam puisi tersebut ketika ang hujan berbicara "Segala yang dingin dan menggiurkan berasal dariku dan harus kembali kepadaku. sudah bekukah hatimu? jauh-jauh aku datang hanya untuk kau tinggal tidur." 


     Dalam puisi Haus Hujan yang ditulis Jokpin bukan hanya sindiran tentang orang-orang yang tidur saat hujan, tapi dapat kita liat di bait keduanya terdapat sebuah penyesalan si Ia. Ia yang saat hujan tiba malah tidur mendengkur, tetapi pada saat si tokoh Ia bangun ia mencari hujan, dan hujan tersebut tidak ia temukan terkecuali sebuah tapak-tapak hujan di halaman buku.


     Puisi tersebut menggambarkan ironisnya sebuah kenikmatan hidup yang manusia sia-siakan dan berujung dengan sebuah penyesalan. Hal tersebut memang sebuah peristiwa yang memang rawan terjadi. Tetapi Jokpin mampu mengemasnya dalam sebuah karya yang menawan dan memiliki kesan tersendiri. Dalam puisi tersebut kita diajak berimajinasi, hujan yang memiliki tingkah laku seperti manusia seolah benar-benar hidup dan ada sebagai manusia. Mungkin dari hal tersebut kita bisa memikirkan bagaimana jika saja benda mati memiliki tingkah laku dan terutama memiliki perasaan seperti manusia.

     Sebagai seorang penyair Joko Pinurbo merupakan seseorang yang memiliki peran perubahan besar dalam kesusatraan di Indonesia. Gaya menulis puisi yang khas ia lakoni bukan seolah-olah hanya menulis, tetapi jauh dari sana ia telah memberi sebuah keoptimisan hidup melalui sajak-sajaknya yang tak lepas dari sebuah humor menggelitik yang menjadi identitas setiap karyanya.