Karena kejadian seorang guru yang dirampok, semua guru yang berada di sekolah menengok pak Sardi yang sekarang sedang trauma di rumah. Semua siswa bubar, membawa kesenangan yang mendadak tiba. Seperti suara jatuhnya ratusan uang receh di tengah keheningan, suara motor dan sorak pun mulai memecah tengah hari yang cerah itu.
Diana berjalan menuju gerbang bersama teman-temannya, mereka ketawa-ketiwi. Mungkin sedang senang karena hari ini pulang lebih pagi. Dan di tengah perbincangan mereka, seketika temannya menanyakan tentang Arga kepada Diana. Tema obrolan pun kini berubah. (Maklum gelagat calon-calon ibu gosip)
Di tengah perjalanan dan perbincangan yang bertemakan Arga. Satu pertanyaan timbul seolah menjadi lonceng di kepala Diana. Ia baru sadar belum punya no telp/ WA Arga, padahal sudah lumayan agak lama ia kenal. Apa benar cinta itu bisa melupakan segalanya, sampai-sampai lupa bahwa hubungan cinta pun seharusnya diimbangi dengan komunikasi. Ah cinta, Diana sendiri pun tidak tahu-menahu apa dia sedang mengalami jatuh cinta atau tidak. Mungkin sekadar suka. Dan kemudian dalam pikirannya ia berjanji, jika saja bertemu dengan seekor Arga dia akan meminta no telp/wa nya.
Seorang siswa laki-laki tiba-tiba lari kencang dari belakang, tangannya mengarah ke belakang. Larinya menyerupai ninja-ninja di film Naruto. Ia lari menuju kerumunan laki-laki yang berada di depan warung sebrang sekolah sambil teriak. "Kagebunshin No Jutsu." Teriaknya begitu kencang, membuat siswa-siswi yang ia lewati kaget mendengarnya.
Diana tersenyum melihat laki-laki itu. Entah lucu, entah karena laki-laki itu sedang bermekaran di hatinya. Arga memang selalu bersikap hangat, tapi kadang juga receh.
"Cieeeeeeeeee punya gebetan Naruto tuh." Ucap pindi yang sambil mengangkat kedua alisnya dan menatap kawanannya.
Diana berlari ke arah laki-laki yang lari tadi, ia memanggil namanya sampai laki-laki itu menghampiri Diana. Perempuan itu hendak meminta no telp/Wa Arga, tapi laki-laki itu malah menggelengkan kepalanya. Sembari menyodorkan kertas yang bertuliskan sebuah alamat email.
Perempuan itu kini tau, kenapa tidak ada nama laki-laki itu di media sosial. Ternyata Arga sendiri pun sama sekali tidak memiliki HP android seperti manusia lainnya, bahkan belum pernah memiliki barang tersebut. Arga hanya memiliki satu perangkat komputer di rumahnya yang ia pakai untuk kirim naskah ke media cetak. Dan ia hanya memiliki akun Google guna berkirim pesan dengan pihak media cetak lewat email.
Melihat keadaan sosial yang semakin suram karena teknologi canggih yang bernama Handphone, Arga seolah menjadi bibit unggul yang tidak terkena virus tersebut. Mungkin Arga adalah salah-satunya manusia yang tidak menunduk setiap waktu untuk memandang layar Handphone untuk saling hujat di media sosial, untuk menghabiskan waktunya hidup dalam game online, untuk berkirim pertanyaan "Udah makan?" Dalam WA. Di masa sekarang, handphone seolah menjadi kebutuhan pokok. Seolah manusia tanpa Handphone itu manusia yang tidak bisa hidup. Tapi pernyataan tersebut tidak berlaku bagi makhkuk bernama Arga. Ia sudah terbiasa dengan hal tersebut dari jauh-jauh dulu.
Diana sedikit tercengan dengan pernyataan Arga yang tidak memiliki handphone. Ia hampir tidak percaya hal tersebut.
Selang beberapa waktu akhirnya Arga pamit untuk menghampiri teman-temannya di warung sebrang. Ia menanggalkan senyuman di benak perempuan yang usai menjadi lawan bicaranya. Menanggalkan seberkas kenangan yang hendak malam ini Diana pikirkan dengan hati yang kasmaran.
Matahari saat itu semakin meninggi, siswa-siswi kembali ke rumah dan kembali mengheningkan sekolah.
Bersambung....................

Tidak ada komentar:
Posting Komentar