Jumat, 09 Agustus 2019
Lelaki Jadulku #Tamat
Diana terbangun dari tidurnya, dari mimpi indah yang mengobati lelahnya mengerjakan tugas sekolah. Notifikasi dengan kata “Malam!,” sang kekasih di handphone perempuan itupun masih menyembul, sebelum beberapa detik muncul pesan baru kekasihnya “Selamat pagi!”
Jam 7 senin pagi Diana masih saja berbaring di atas ranjang, bersama demam dan lamunan yang baru saja terjadi di alam mimpinya. Ia memutuskan untuk izin tidak sekolah hari ini dengan alasan sakit, dan menghabiskan satu hari penuh untuk menatap tiap tetes hujan yang memantul dari dedaunan ke muka kaca jendela kamarnya.
Ia baru benar-benar sadar bahwasanya semua hal indah yang ia rasakan ternyata sekedar mimpi. Dan ternyata Arga pun hanya bagian dari mimpi perempuan itu.
Seketika Diana meloncat dari kasurnya dan mengambil seragam sekolahnya. Saku
kemeja seragam sekolah itu ia masukan tangannya, seperti sedang mencari sesuatu, entah uang atau apa. Dan hasilnya nihil, Diana tak menemukan apapun.
Kini benak Diana mengualang kembali ingatannya tentang mimpi semalam. Mimpi di waktu pertama kali ia bertemu laki-laki aneh di ruang UKS yang memberinya kertas bertliskan “OBAT.” Ia ingat-ingat laki-laki itu, bagaimana wajahnya, bagaimana gondrong rambutnya, bagaimana kucel penampilannya, dan bagaimana kesederhanaan seorang Arga membuat perempuan itu pelan-pelan jatuh cinta.
Perlahan ia pun mulai mengingat bahwa dalam mimpinya, Diana memutuskan hubungan dengan Randi. Dari sana ia mulai mengingat beberapa hari ke belakang ia melihat notifikasi di HP kekasihnya tersebut terdapat sapaan mesra dari pengirim yang bernama Bunga, terlebih akhir-akhir ini diana merasa ada yang berbeda dari Randi.
Suasana semakin membuat Diana larut dalam dilema, ia benar-benar membutuhkan sosok Arga sekarang juga. Laki-laki aneh yang siap membuat perempuan itu tertawa kapan saja. Sayang, sosok Arga hanya mampir dalam mimpi perempuan itu tanpa benar-benar hadir dalam kehidupan nyatanya.
Pelan-pelan Diana meneteskan air matanya, entah apa penyebabnya, yang jelas ia seperti ingin sesekali menangis sembari menatap tetes hujan yang kian menderas. Ia seperti melihat sosoknya sendiri dalam deras hujan, terlihat begitu mengkhawatirkan, terlihat begitu bodoh, cengeng hanya karena memikirkan ulah laki-laki. Sampai akhirnya Diana sadar bahwa kehidupannya memang bukan melulu cinta-cintaan, bukan melulu soal pasangan.
Perempuan itu sadar bahwa sekarang ia sudah cukup larut dalam sebuah cerita percintaan yang klise, sampai akhirnya muncul sebuah angan yang begitu besar yang hendak mengubah semuanya dari sekarang.
Diana sadar, ia sudah cukup lama melupakan tentang mimpinya jadi seorang penulis ternama. Aktivitas akademik di sekolah seolah mengekang waktunya, ditambah Randi yang justru sekarang malah ikut menimbun masalah di pikirannya.
Ia memandang sebuah piala di antara piala-piala akademik yang berjejer yautu piala yang bertuliskan Juara 1 lomba cipta puisi.
Ia sekarang ingat bahwa sebagian kebiasaan Arga adalah kebiasaan dirinya sendiri waktu sekolah dasar dan SMP, kebiasaan yang agak sedikit buruk tapi ia benar-benar menikmatinya. Tidur di UKS sambil baca buku puisi, kesiangan setiap hari karena setiap malam berusaha mengirim naskah ke media cetak walaupun tidak satupun berhasil. Tanpa menunduk setiap hari memandang layer HP. Dan hanya menghabiskan waktu libur untuk menonton doraemon, sampai ia benar-benar hapal lagu doraemon tersebut.
Perempuan itupun sekarang tahu akan kehadiran Arga si penulis amatir dalam mimpinya yang tak lain mengingatkan Diana akan mimpinya tersebut.
Arga memang sekedar dari bagian mimpi, tapi perempuan itu percaya bahwa mencintai sosok Arga adalah tak lain yaitu mencintai dirinya sendiri dalam mewujudkan sebuah mimpi.
Tak lama berselang waktu Diana membuka dan menyalakan laptopnya, sebuah judul ia ketik dengan perlahan seiring dengan tetes hujan yang kian mereda dan senyuman di wajahnya yang kian merona “Lelaki Jadulku”
Tamattt……………………………….
Langganan:
Postingan (Atom)
