“Assalamualaikum,
assalamualaikum!” Salam seorang dari luar pintu rumah.
“Waalaikumsalam,” Jawab
perempuan paruh baya sembari membuka pintu rumah.
“Apa benar ini rumah
Diana?” Tanya laki-laki yang baru saja mendapati sang pemilik rumah.
Ibu-ibu
di depannya mengangguk sambil mengerutkan dahi “Ini apa yah?” Tanyanya sambil
menunjuk sebuah kotak berukuran kardus minuman.
“Ini
bu, saya kurir dari JNE sini mengantarkan paketan ini untuk seorang yang benama
Diana, apa Diana itu nama ibu?” Jelas laki-laki tersebut.
“Ohhhhh
gitu, bukan pak bukan, Diana itu anak perempuan saya, udah tua gini masa
paket-paketan, gak ngerti lah.”
“Oh
iya Bu, ini saya buru-buru mau anter barang lain. Bisa Ibu tanda tangan di
sini?” Laki-laki itu menyodorkan sobekan kertas dan pulpen pada seorang ibu-ibu
di depannya.
Sebuah
coretan tanda tangan pun sudah berada si atas sobekan kertas tersebut. Hal itu
seolah menjadi syarat seorang kurir kalau saja hendak meninggalkan rumah
penerima paket. Tak lama suara motor sudah saja ia nyalakan, dan beranjak pergi
meninggalkan halaman yang masih terdapat seorang perempuan paruh baya di
terlasnya.
“Wihhhh
apa tuh mah?” Suara berat seorang pria berumur dengan ibu di rumah itu baru
saja mengagetkannya.
“Ehhh
Bapak aya ngareureuwas,” (Ehh bapak, kaget tau!)
“Paket
dari mana mah?”
“Gak
tau, katanya buat Diana. Yuk ah masuk pak, Ibu mau ngasih ini ke Diana nya,”
Ajak si Ibu pada suaminya tersebut.
Seekor
gadis, ehhh seorang gadis cantik baru saja terbangun dari tidur, sinar mentari
menembus jendela dan kini hinggap di wajahnya, ia menggeliat sebelum akhirnya
dahi perempuan itu ia kerutkan.
“Diana,
ada paket nih buat kamu!” Sang ibu memanggilnya dari arah ruang keluarga.
Diana
sontak bingung, karena dirinya tidak memesan barang atau membeli barang online.
Ia beranjak pergi ke arah suara sang ibu.
“Paket
dari siapa bu?” Perempuan itu betanya pada ibunya.
“Lhoo,
kirain kamu mesen barang, ibu juga gak tau. Tapi tadi kata kurirnya ini buat
kamu.” Jawab sang Ibu, dengan wajah bingung.
“Jangan-jangan
bommmm!” Ucap sang ayah yang baru saja masuk rumah.
“Ihhhhhhhh Pak, jangan
gitu takut. Yaudah Diana buka aja sok paketnya.” Suruh sang Ibu yang penasaran
atas apa yang ada di dalamnya.
Tanpa berpikir panjang
Gadis itu membuka satu persatu bungkus plastik yang menutupi kardus tersebut.
Kini ia tengah mendapati kardus yang siap di buka untuk mengetahui apa isinnya.
“Ohhhhhhhhhhh mahh pak,
ini tas Diana. OHH iya kemaren tas aku ketinggalan di angkot,” Ucap Diana yang
kelihatan begitu senang mendapati tasnya kembali.
“Hmmmmmm, tapi yang
balikinnya siapa ya, kok bisa tau rumah kamu?” Tanya sang ayah.
“Iya yah pak, sampe
bisa tau alamat kita.” Ujar Ibu.
“Hhhhhee kamaren aku
pulang bareng sama temen aku, namanya Arga. Kayaknya dia deh,” Jawab sang putri.
Tanpa aba-aba Diana
langsung beranjak pergi dari ruang keluarga menuju kamar tidurnya dengan
membawa kardus dan tasnya tersebut dengan sumringah. Kini kasur adalah
tujuannya lagi. Sepasang suami-istri terlihat begitu bingung mendapati putri
tunggalnya langsung pergi ke kamar kembali dengan begitu mendadak gembira.
Seorang gadis yang baru
saja duduk di atas kasur langsung mengorek-ngorek isi kardus yang sudah
dibawanya. Tepat di bagian ujung kardus ia mendapati dua amplop yang berwarna
hitam dan pink. Tanpa berkata-kata ia langsung membuka keduanya.
Salah satu amplop
berwarna pink berisi surat, tapi satu amplop lagi yang berwarna hitam berisi
uang logam Rp.100. Gadis itu kebingungan apa arti keduanya, hingga ia
sepertinya harus membaca surat dengan cermat untuk memahami apa maksud seseorang
yang telah mengirimnya itu, walaupun tulisannya akan tampak buruk di mata
manusia yang membacanya.
Assalamualaikum,
Waalaikumsalam.
Salam
sejahtera,
Dengan
surat ini saya mewakili bangsa Indonesia, untuk menyampaikan beberapa informasi
terkait penemuan barang seseorang yang tertinggal di angkutan umum. kamu pasti
lagi serius baca surat ini. Saking seriusnya sampe hampir lupa jawab salam. Hhhhaa, ini tas kamu ketinggalan
di angkot pas pulang sekolah. Dasar masih muda kok pelupa. Pelupa itu bahaya,
apalagi kalo sampe lupa bernafas. Hhee garing yahhh.
Hmmmmm,
kamu pasti lagi cari tau yah apa maksud surat satunya lagi yang isinya uang
logam. Jangan dipikirin apa maksudnya, simpen aja di celengan kamu, buat
kumpul-kumpul nanti kita beli rumah berdua. Hhhhhaaaa becanda kok Sizuka.
Kamu
pernah gak berpikir, kalo kita nanti bakal kayak uang logam seratus rupiah itu.
Semakin sedikit yang mempergunakannya, semakin kurang juga populasinya hhhhe.
Tapi di suatu saat di masa depan uang logam itu bakal dicari karena banyak yang
bilang itu antik, itu langka, itu unik, dan memiliki nilai sejarah. Ya seperti
manusia yang memiliki peran besar dalam suatu peradaban, seperti tokoh sejarah,
pahlawan, ilmuwan, dan penemu. Mereka memiliki andil besar dalam kehidupan,
tapi perlahan mereka mulai dilupakan, selang beberapa waktu lama kemudian
mereka baru dicari-cari lagi sekalipun sudah mati, setidaknya banyak orang yang
mengenang mereka di masa depan. Dan ya, setiap orang pasti mempunyai uang logam
antiknya masing-masing, entah siapa yang menjadi uang logamnya, yang pasti uang
logam tersebut pernah berperan dalam kehidupan mereka.
Udah
dulu ahh, aku mau berkomunikasi sama tuhan dulu.
Dadahhhhh,
jangan lupa bernafas
Waalaikumsalam.
Eh
wassalamualaikum.
Ingatan Diana kini
kembali menyusuri masa lalunya, surat yang baru saja ia baca membuat dia ingat
akan Randi. Kenangan memang tidak tau sopan santun, mereka hadir di mana saja,
lewat apa saja, dan kapan saja. Surat itu membawa gadis itu tenggelam pada
ingatan akan ucapan mantan kekasihnya kalau
nanti kita cuma jadi masa lalu, jangan dilupain yah, masa depan itu kurang
indah kalo gak ada kenangan. Tapi logika Diana membantah hal tersebut,
apanya yang indah toh dia sendiri yang sudah memperburuk ceritanya. Hubungan
anak manusia memanglah rumit, begitulah mungkin lamunan yang sedang hingap pada
benak Diana.
Dua buah amplop kembali
gadis itu menatapnya, kini ia merasa heran. Padahal dengan Arga dia baru saja
kenal, tapi lewat surat ini Arga seolah memahami apa yang sedang di alami
perempuan itu.
Bersambung....................................


