Rabu, 17 April 2019

Lelaki Jadulku #6



“Assalamualaikum, assalamualaikum!” Salam seorang dari luar pintu rumah.

“Waalaikumsalam,” Jawab perempuan paruh baya sembari membuka pintu rumah.

“Apa benar ini rumah Diana?” Tanya laki-laki yang baru saja mendapati sang pemilik rumah.

            Ibu-ibu di depannya mengangguk sambil mengerutkan dahi “Ini apa yah?” Tanyanya sambil menunjuk sebuah kotak berukuran kardus minuman.

            “Ini bu, saya kurir dari JNE sini mengantarkan paketan ini untuk seorang yang benama Diana, apa Diana itu nama ibu?” Jelas laki-laki tersebut.
            “Ohhhhh gitu, bukan pak bukan, Diana itu anak perempuan saya, udah tua gini masa paket-paketan, gak ngerti lah.” 

            “Oh iya Bu, ini saya buru-buru mau anter barang lain. Bisa Ibu tanda tangan di sini?” Laki-laki itu menyodorkan sobekan kertas dan pulpen pada seorang ibu-ibu di depannya.

            Sebuah coretan tanda tangan pun sudah berada si atas sobekan kertas tersebut. Hal itu seolah menjadi syarat seorang kurir kalau saja hendak meninggalkan rumah penerima paket. Tak lama suara motor sudah saja ia nyalakan, dan beranjak pergi meninggalkan halaman yang masih terdapat seorang perempuan paruh baya di terlasnya.

            “Wihhhh apa tuh mah?” Suara berat seorang pria berumur dengan ibu di rumah itu baru saja mengagetkannya.

            “Ehhh Bapak aya ngareureuwas,” (Ehh bapak, kaget tau!)

            “Paket dari mana mah?”

            “Gak tau, katanya buat Diana. Yuk ah masuk pak, Ibu mau ngasih ini ke Diana nya,” Ajak si Ibu pada suaminya tersebut. 

            Seekor gadis, ehhh seorang gadis cantik baru saja terbangun dari tidur, sinar mentari menembus jendela dan kini hinggap di wajahnya, ia menggeliat sebelum akhirnya dahi perempuan itu ia kerutkan.

            “Diana, ada paket nih buat kamu!” Sang ibu memanggilnya dari arah ruang keluarga.

            Diana sontak bingung, karena dirinya tidak memesan barang atau membeli barang online. Ia beranjak pergi ke arah suara sang ibu.

            “Paket dari siapa bu?” Perempuan itu betanya pada ibunya.

            “Lhoo, kirain kamu mesen barang, ibu juga gak tau. Tapi tadi kata kurirnya ini buat kamu.” Jawab sang Ibu, dengan wajah bingung.

            “Jangan-jangan bommmm!” Ucap sang ayah yang baru saja masuk rumah.

“Ihhhhhhhh Pak, jangan gitu takut. Yaudah Diana buka aja sok paketnya.” Suruh sang Ibu yang penasaran atas apa yang ada di dalamnya.

Tanpa berpikir panjang Gadis itu membuka satu persatu bungkus plastik yang menutupi kardus tersebut. Kini ia tengah mendapati kardus yang siap di buka untuk mengetahui apa isinnya.

“Ohhhhhhhhhhh mahh pak, ini tas Diana. OHH iya kemaren tas aku ketinggalan di angkot,” Ucap Diana yang kelihatan begitu senang mendapati tasnya kembali.

“Hmmmmmm, tapi yang balikinnya siapa ya, kok bisa tau rumah kamu?” Tanya sang ayah.
“Iya yah pak, sampe bisa tau alamat kita.” Ujar Ibu.

“Hhhhhee kamaren aku pulang bareng sama temen aku, namanya Arga. Kayaknya dia deh,” Jawab sang putri.

Tanpa aba-aba Diana langsung beranjak pergi dari ruang keluarga menuju kamar tidurnya dengan membawa kardus dan tasnya tersebut dengan sumringah. Kini kasur adalah tujuannya lagi. Sepasang suami-istri terlihat begitu bingung mendapati putri tunggalnya langsung pergi ke kamar kembali dengan begitu mendadak gembira.

Seorang gadis yang baru saja duduk di atas kasur langsung mengorek-ngorek isi kardus yang sudah dibawanya. Tepat di bagian ujung kardus ia mendapati dua amplop yang berwarna hitam dan pink. Tanpa berkata-kata ia langsung membuka keduanya.

Salah satu amplop berwarna pink berisi surat, tapi satu amplop lagi yang berwarna hitam berisi uang logam Rp.100. Gadis itu kebingungan apa arti keduanya, hingga ia sepertinya harus membaca surat dengan cermat untuk memahami apa maksud seseorang yang telah mengirimnya itu, walaupun tulisannya akan tampak buruk di mata manusia yang membacanya.

Assalamualaikum,

Waalaikumsalam.

Salam sejahtera,

Dengan surat ini saya mewakili bangsa Indonesia, untuk menyampaikan beberapa informasi terkait penemuan barang seseorang yang tertinggal di angkutan umum. kamu pasti lagi serius baca surat ini. Saking seriusnya sampe hampir lupa  jawab salam. Hhhhaa, ini tas kamu ketinggalan di angkot pas pulang sekolah. Dasar masih muda kok pelupa. Pelupa itu bahaya, apalagi kalo sampe lupa bernafas. Hhee garing yahhh.

Hmmmmm, kamu pasti lagi cari tau yah apa maksud surat satunya lagi yang isinya uang logam. Jangan dipikirin apa maksudnya, simpen aja di celengan kamu, buat kumpul-kumpul nanti kita beli rumah berdua. Hhhhhaaaa becanda kok Sizuka.

Kamu pernah gak berpikir, kalo kita nanti bakal kayak uang logam seratus rupiah itu. Semakin sedikit yang mempergunakannya, semakin kurang juga populasinya hhhhe. Tapi di suatu saat di masa depan uang logam itu bakal dicari karena banyak yang bilang itu antik, itu langka, itu unik, dan memiliki nilai sejarah. Ya seperti manusia yang memiliki peran besar dalam suatu peradaban, seperti tokoh sejarah, pahlawan, ilmuwan, dan penemu. Mereka memiliki andil besar dalam kehidupan, tapi perlahan mereka mulai dilupakan, selang beberapa waktu lama kemudian mereka baru dicari-cari lagi sekalipun sudah mati, setidaknya banyak orang yang mengenang mereka di masa depan. Dan ya, setiap orang pasti mempunyai uang logam antiknya masing-masing, entah siapa yang menjadi uang logamnya, yang pasti uang logam tersebut pernah berperan dalam kehidupan mereka.

Udah dulu ahh, aku mau berkomunikasi sama tuhan dulu.

Dadahhhhh, jangan lupa bernafas

Waalaikumsalam.

Eh wassalamualaikum.

Ingatan Diana kini kembali menyusuri masa lalunya, surat yang baru saja ia baca membuat dia ingat akan Randi. Kenangan memang tidak tau sopan santun, mereka hadir di mana saja, lewat apa saja, dan kapan saja. Surat itu membawa gadis itu tenggelam pada ingatan akan ucapan mantan kekasihnya kalau nanti kita cuma jadi masa lalu, jangan dilupain yah, masa depan itu kurang indah kalo gak ada kenangan. Tapi logika Diana membantah hal tersebut, apanya yang indah toh dia sendiri yang sudah memperburuk ceritanya. Hubungan anak manusia memanglah rumit, begitulah mungkin lamunan yang sedang hingap pada benak Diana.

Dua buah amplop kembali gadis itu menatapnya, kini ia merasa heran. Padahal dengan Arga dia baru saja kenal, tapi lewat surat ini Arga seolah memahami apa yang sedang di alami perempuan itu.




Bersambung....................................

Lelaki Jadulku #5



“Diana! Aku bisa jelasin kok!” Laki-laki itu memohon pada perempuan yang sedang duduk di tengah teman perempuan lainnya. Ia kemudian duduk di kursi tepat berhadapan dengan Diana.

Karin menarik tangan Diana ”Yuk ah balik ke kelas,” Ajaknya kepada teman perempuan lainnya. Kawanan perempuan itu lantas berdiri dan beranjak membelakangi laki-laki yang baru saja menghentikan hangat suasana mereka.

Keadaan hening menghampiri Randi yang baru saja perhomohonannya ditolak keras oleh seorang perempuan. Ia menarik napas panjang, dan kembali melangkah pergi menuju Kelasnya.

Randi, ia adalah siswa laki-laki populer di SMA 1 Tasikmalaya. Tidak hanya tampan yang bisa membuat siapa saja jatuh hati, tapi ia juga juara kelas berturut-turut dari kelas unggulan. Ditambah Randi adalah kapten dalam team basket sekolahnya yang selalu saja menjuarai tiap pertandingan antar sekolah. Ia adalah bintang di sekolah, tapi tidak di hati Diana kali ini.

Ditengah lorong Randi berjalan dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya menabrak seorang siswa didepannya yang tengah diam berdiri membaca buku.

“Eh mang, kade atuh leumpang teh ah. Hayoh ngahuleng, bisi kasurupan Suharto,” Tegur siswa laki-laki yang tertabrak Randi yang artinya eh, hati-hati kalo jalan. Ngalamun mulu, takut kesurupan Suharto.

  Tanpa bergumam apapun Randi melangkahkan kakinya seolah tidak terjadi apa-apa.

Bel bunyi sebagai tanda pembelajaran sekolah sudah berakhir menjadi alasan kenapa semua siswa bersorak bahagia. Biru langit menghiasi sore di mana seorang siswa laki-laki baru saja menaiki angkutan umum.

“Ehhh kamu, Diana Sriradyasastro Diningrat Sultan Hamengkubuwono, selamat pagi!” Ucap siswa itu yang tak lain adalah Arga.

Tanpa sengaja Diana dan Arga berada pada satu angkutan umum yang sama. Diana terlihat begitu senang, seolah melihat badut yang siap kapan saja menghiburnya.

“Nama aku pendek, lagian sekarang itu sore!” Perempuan itu menjawab ucapan Arga.

“Oh nama kamu pendek, kalo gitu haiii Pendek!” Balas laki-laki itu.

Diana memasang muka cemberut, yang seolah siap melahap apa saja yang ada di depan matanya. Dan kebetulan yang di depannya adalah muka Arga. “Kamu kok nyebelin banget yah?”

Laki-laki itu malah lirik kiri kanan, seolah tidak mendengar apa yang perempuan itu ucapkan kepadanya.

“Ihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!” Perempuan itu seolah habis kesabaran sampai mencubit paha Arga.

“Ehhhhhhhh kamu, dari kapan di sini? Udah lama?” Laki-laki itu malah balik bertanya sambil senyum, dan seolah baru mendapati Diana di sana.

“Euhhhh kamu, eh emang rumah kamu di mana?” Tanya Diana.

“Di planet ini, hhhhe, becanda, itu deket perempatan di depan, dari situ belok kiri, abis itu belok kanan, terus luruuuusssssss, nah itu taman kota,”

“Ihhhhhh serius!” Diana menyela penjelasan Arga.

“Eh dengerin dulu, itu rumah aku deket situ tau.” Ujar Arga.

“Ohhhh gitu hhhe, maaf soalnya dari tadi becanda mulu sih. Eh rumah aku deket tuh di situ. Udah yahhh, dahhhhhh!” Diana beranjak dari tempat duduk angkutan sembari menyetop abang supir dan lalu turun dari angkutan tersebut.

“Dahhhhhhh, sampai ketemu besok, ehhhh Rabu, besok kan libur ya,” Ucap Arga sambil melihat Diana yang senantiasa tersenyum menghiasi sore itu.

 Arga yang masih dalam angkutan umum tersebut menatap Diana dari dalam dan melambaikan tangan seiring dengan laju kendaraan yang meninggalkan tempat perempuan itu berdiri. Duduk di paling ujung tempat duduk, Arga membenamkan matanya pada langit sore yang siap mengakhiri hari tersebut.  Perlahan tatapannya kini beralih pada tas di depannya, ia baru sadar ternyata tas Diana tertinggal di kendaraaan itu.



Bersambung.................................

Senin, 01 April 2019

Lelaki Jadulku #4



   Upacara hari senin adalah alasan kenapa setiap siswa harus tiba lebih awal dari pada hari lainnya. Pagi itu Diana terlambat tiba di sekolah, gerbang dikunci dan yang lebih buruknya tidak ada siapapun di balik gerbang sana yang memungkinkan untuk menolongnya agar bisa mengikuti upacara walaupun terlambat. Tidak seperti biasanya gadis itu terlambat datang ke sekolah. Entah apa yang menjadi faktor utamanya.

“Aku sayang sekali Doraemon,” Seorang siswa laki-laki baru saja baru saja keluar dari angkutan umum sambil menyanyikan lagu dari kartun serial Jepang, yaitu Doraemon.

Gadis yang masih saja berdiri di depan gerbang langsung membalikan badannya ke arah laki-laki yang sedang bernyanyi sambil loncat-loncat itu. Diana begitu heran, kenapa ada siswa seperti itu di sekolahnya. Setiap siswa yang datang terlambat ke sekolah biasanya sangat terihat was-was dan buru-buru, tapi orang yang satu ini malah justru sebaliknya. Ketika siswa laki-laki itu semakin mendekat, gadis yang sedang melihatnya begitu kaget. Ternyata laki-laki itu adalah siswa yang waktu hari rabu lalu ada di UKS dengannya.

“Sizuka! Kenapa kamu terlambat?” Laki-laki itu bertanya dengan ekspersi syok pada perempuan di depannya yang tidak lain adalah Diana. Ia begitu cuek dengan baju yang tidak sama sekali dimasukannya ke dalam celana.

“Kamu yang waktu itu di UKS kan?” Diana tanya balik laki-laki itu.
 “Hehehe iya, yuk ah masuk!” Laki-laki itu mengajak perempuan di depannya untuk masuk ke sekolah.

“Gerbangnya dikunci.”  Perempuan itu memberi tahu laki-laki yang sedang memegang pintu gerbang.

Ia tidak mendengar apa yang Diana katakan, tiba-tiba ia berteriak ”Tolong! Tolong!” Suara kencangnya memecah khidmat upacara bendera di lapangan tengah yang sedang dilakukan para siswa-siswi dan guru-guru lainnya. Semua guru keluar dari lapangan dan berlari menuju gerbang, sedangkan siswa lainnya mencoba mengintip dari pingir lapangan yang jaraknya sekitar 50 meter dari gerbang dan terhalang oleh bangunan kelas.

“Ada apa Ga?” Tanya salah seorang guru yang baru saja sampai di depan gerbang dengan muka panik.

“Gawat pak, pokoknya gawat pak.” Jawab pria aneh itu.

Diana hanya bisa berdiri di tepi gerbang dengan muka bingungnya, laki-laki yang tadi ia lihat sedang ceria dan gembira, tiba-tiba sekarang menjadi histeris.

Salah seorang guru baru saja keluar dari pos satpam, dan sebuah kunci berada di tangannya. Sambil setengah lari ia berusaha untuk lebih cepat sampai, sebelum akhirnya ia sampai dan membuka kunci gerbang itu. Laki-laki yang berada di luar gerbang itu, menarik perempuan di sampingnya masuk melewati gerbang yang baru saja dibuka. Kemudian berlari ke arah barisan upacara dengan cepat.

“Ada gawat apa Arga,” Tanya guru-guru yang waktu itu tengah memperhatikan keduanya.

“Gawat bu, kami kesiangan!” Jawab Arga kencang sambil berlari menuju barisan upacara dengan muka cengengesan.

Semua guru menghela nafas dalam-dalam, seolah mencoba untuk memendam rasa kesal yang begitu besar di hati mereka. Salah seorang dari mereka langsung memegang pengeras suara. Dan memanggil nama siswa yang baru saja ikut berbaris.

“Arga Trisno, anda tidak perlu mengikuti upacara. Silahkan anda langsung pergi ke ruang BP.” Kalimat itu berdengung di telinga semua siswa yang tengah berada di lapangan.

Diana menatap laki-laki di sampingnya yang baru saja menariknya itu, kini ia baru saja mengetahui siapa namanya. Perempuan itu berdiri senantiasa menatap laki-laki yang melangkahkan kakinya ke arah lain dengan tatapan heran.

Laki-laki itu membalikan badannya dan menatap perempuan yang tengah menatapnya “Dadah Sizuka!” Manusia bernama Arga itu melambaikan tangan dan tersenyum pada Diana.

Beribu-ribu pertanyaan tentang laki-laki yang baru saja ia temui hinggap di kepala perempuan yang sedang melamun di tengah ramainya perbincangan beberapa perempuan di meja kantin. Matanya menatap minuman yang sedang ia sedot, tangannya menyangga putihnya dagu yang amat terlihat buruk jika harus jatuh ke dalam mangkok yang berisikan bakso.

“Woy ngalamun wae!” Suara salah seorang perempuan membuyarkan lamunan Diana yang artinya woy ngelamun mulu.

“Eh Wina, enggak ah,” Sahut Diana yang baru saja kaget.

“Eh tadi kok kamu bisa bareng si Arga ke sekolah?” Tanya Karin yang tengah duduk di samping kanan perempuan itu.

“Ihhhh, jangan deket-deket sama si Arga, kelewat bandel tuh anaknya. Baru juga kena skor, eh tadi pagi udah bikin masalah lagi,” Sela pindi yang baru saja menyedot habis jus alpukatnya.

“Eh tapi bandel-bandel juga ganteng kok, eh iya aku pernah denger emang sih Arga itu bandel dan gaulnya sama anak-anak yang gitu semua. Tapi katanya dia enggak ngerokok loh,” Sahut Wina dengan nada memuji laki-laki yang sedang menjadi topik pembicaraan.

“Ah gak percaya ah, jaman sekarang laki-laki yang gak bandel aja kayak ketua osis kita tuh  pada ngerokok,” Ujar Karin.

 “Ih iya Rin bener tau Arga emang kayak gitu, malahan katanya dia pernah tuh berantem gara-gara temennya maksa ngajak dia ngerokok. Katanya kalo lagi ngumpul sama temen-temennya, dia enggak ngerokok, tapi malah ngemut permen lolipop,” Tutur  Pindi yang setengah bisik-bisik.

Diana hanya tersenyum dan tertawa dengan temannya ketika salah seorang dari mereka bilang kalau Arga suka Permen lolipop. Riang suasana kantin seketika Hening di waktu seorang siswa laki-laki menghampiri mereka. Laki-laki itu tidak lain ialah Randi.


Bersambung...........