Senin, 03 Juni 2019
Lelaki Jadulku #7
Keluarga selalu menjadi alasan di balik kata pulang setiap orang. Tapi bagi sebagian orang yang tidak merasakannya, mungkin pulang cuma kata yang menyimpan segudang perasaan malang.
Orang tua Arga berpisah saat ia menginjak umur 11 tahun. Entah apa yang menjadi latar belakang keduanya, yang pasti Arga hanya anak laki-laki yang masih membutuhkan pelukan hangat keluarga, terlebih ia anak tunggal.
Arga tidak ikut ke salah satu dari dua orang tuanya tersebut, ia hanya mengikuti sepi dan entah yang akan menggiringnya pada sebuah perjalanan hidup. Anak laki-laki itu tinggal sendiri di rumah peninggalan orang tuanya tersebut, dengan uang yang selalu orang tuanya kirim tiap bulan. Dasar, mungkin sebagian orang pikir uang adalah buah kasih sayang.
Di malam itu, seperti biasa Arga baru selesai membuat beberapa puisi dan mengirimnya ke media cetak. Bakat menulisnya mungkin adalah warisan dari sang ayah. Entah berapa karya yang sudah dipublikasi, itulah rutinitas dan cara laki-laki itu menyambung hidupnya selain dari uang orang tuanya. (Arga cuma mengirim puisinya ke media cetak, ya maklum dia jomb.)
Puisi seolah menjadi rumah bagi laki-laki itu. Tempat keluh kesah lika-liku hidupnya, sekaligus tempat sumber penutup rasa keroncong laparnya. Arga memang tidak pernah menyebut dirinya bercita-cita jadi penulis atau penyair, tapi kesehariannya tidak pernah terlepas dari dunia sastra. Bahkan di kamarnya, terpampang poster seperti Chairil Anwar, Marah Rusli, dan banyak lainnya. Kamarnya mungkin lebih pantas disebut gudang buku, buku di mana-mana. Bahkan etalase besar pun masih tidak cukup untuk menyimpan buku. Di kasurnya selalu saja ada buku yang terbuka lembarannya, buku yang belum tuntas ia baca.
Laki-laki itu mungkin bisa dibilang kuno. Ia hanya bergelut dengan buku saja di saat remaja sekarang sedang musimnya bergelut dengan media sosial di smartphone nya. Ia hanya berkirikm e-mail dengan pihak media cetak saja di saat remaja sekarang saling kirim pesan dengan pasangannya.
Entah apa yang sedang terjadi dengan orang tuanya sekarang, Arga sama sekali tidak tahu. Dia sudah hampir kehilangan komunikasi selama satu bulan lebih dengan keduanya. Dan Arga sekarang sekedar menjadi rumput liar yang menjalar sendiri di pemukiman sepi.
Bersambung.............
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar