Minggu, 09 Juni 2019

Lelaki Jadulku #8

        Pembicaraan beberapa siswa-siswi mengisi lorong yang sebelumnya hening. Diana yang baru tiba agak merasa aneh dengan situasi yang ia lihat, terlebih di ruang guru begitu banyak kerumunan siswa-siswi dan guru-guru. Dengan perasaan penasaran ia menghampiri kerumunan itu, dan kini pandangannya tertuju pada siswa laki-laki yang bonyok habis wajahnya ditambah kusut baju putihnya. Tidak lain itu adalah Arga, yang entah telah berbuat apa sampai begitu.

        Diana menembus kerumunan dan menghampiri laki-laki itu, dengan hati yang penuh khawatir ia bertanya setengah memarahi laki-laki di depannya.
"Jadi laki-laki itu dewasa dong, berantem aja bisanya. Gak bisa mikir pake otak dingin dulu apa? Atau mau sok jadi jagoan?"

        Arga diam tak bergumam satu kata pun.

        "Lho, lho tenang geulis. Enggak kayak yang kamu pikir Diana." Seorang guru tiba dari ruangan uks kantor, sambil menenangkan Diana.

        "Lahhh, terus kenapa bu Dina? Dia kan tukang bikin onar."

        "Bentar dulu yah," Guru itu berjalan menuju kerumunan siswa yang menyaksikan percakapan di dalam kantor tersebut, dan tidak lama dari sana semua siswa pun bubar.

        "Di tengah perjalanan ke sekolah, Pak Sardi disergap rampok di gang. Entah bagaimana ceritanya Arga pun ada di sana, dan Pak Sardi terselamatkan, tapi tas dan barang-barangnya diambil rampok itu dan Arga sendiri habis dikeroyok 3 perampok itu. Kalau saja Tidak ada Arga di sana, bisa-bisa pak Sardi yang tua itu yang habis dikeroyok." Jelas Ibu guru itu.

        "Badai menggemuruh di ruang tidurmu. Hujan menderas, lalu kilat, petir, dan ledakan-ledakan waktu dari dadamu. Sebegitu hidupnya yah bait puisi Jokpin di kamu." Ucap mulut laki-laki yang tengah babak-belur sambil sedikit tersenyum menatap Diana.

        "Walah-walah guru matematika kayak Ibu gini mana ngerti maksud dari kata-kata kamu itu." Gumam candaan Ibu guru yang tengah membersihkan luka di muka Arga.

        Perempuan yang tengah berdiri itu lekas tersenyum, matanya terlihat berkaca-kaca. Entah perasaan apa yang telah membuatnya masuk dalam keadaan seperti itu, dalam kondisi yang terlalu melankolis.

        "Bu dina masih jadi obat nyamuk nihh!" Teriak guru-guru yang tengah lalu lalang di ruang guru waktu itu sambil tertawa pekikikan.

        Arga dan Diana Tersenyum.

        "Lah bu, aku kira ibu nyamuknya." Ujar Arga sambil setengah tertawa.

        "Wahh kurang ajar, mau Ibu kasih soal khusus hah nanti ulangan?" Balas Ibu guru itu sambil mencubit pinggang siswa laki-laki yang duduk didepannya.

        Suasana seketika berubah menjadi begitu hangat, di waktu gerimis menyelimuti pagi. Dua pasang mata saling menatap, berharap tidak ada yang berpaling di antara keduanya yang terpisah udara dan Ibu Matematika.

        "Udah nih tatap-tatapannya? Masuk gih nanti malah dimarahin guru yang masuk lho." Gumam Ibu Dina yang beranjak dari duduknya sambil menepuk bahu Arga.

        "Lahh bu, aku kayak gini masa masuk kelas. Harusnya ibu anter yuk ke UKS." Mohon siswa laki-laki itu kepada Ibu guru yang tengah membantunya berdiri.

        Diana hanya tersenyum melihat dua manusia di depannya. Arga dan Bu Dina terlihat seperti ibu dan anaknya sendiri. Ya memang, bu Dina sendiri adalah guru yang begitu dekat dengan Arga, dekat karena Arga sendiri sering membuat onar sehingga bu Dina sendiri yang bertanggung jawab ketika Arga dipanggil ke ruang BP.

        "Ya sudah bu, saya permisi duluan ke kelas." Dengan sedikit terburu-buru Diana pamit meninggalkan seberkas senyum, takut kalau ada guru yang sudah masuk kelas. 

        "Iya iya, ibu juga ini mau anter anak kucing ke rumah sakit." Balas Bu dina dengan candaannya dengan setengah tertawa.

        "Lohh kok anak kucing bu?" Tanya arga

        "Lah tadi juga kamu bilang Ibu nyamuk," jawab si Ibu.

        Keduanya kemudian saling berbalas tawa yang suaranya mengabaikan hujan yang kian deras. Deras akan omong kosong pelaku politik yang baru saja turun dari mimbar perdebatan. (Naha jadi kana politik.)





Bersambung.............................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar