Minggu, 03 November 2019

Joko Pinurbo dan Haus Hujannya

   

    Joko Pinurbo atau sering disapa Jokpin adalah penyair yang memiliki gaya kepenulisan yang unik. Kesederhanaannya dalam berpuisi selalu membuat kita merasa getir ketika membaca puisinya, puisi-puisi yang memang menggambarkan sebuah kehidupan nyata yang sering dan tidak akan asing kita lihat atau kita alami. 

     Tidak hanya tentang kegetiran hidup yang ia suguhkan, Jokpin pun sering memunculkan humor dalam puisi-puisi yang ia buat. Dalam sebuah diskusi tentang berpuisi beliau pernah menjelaskan bahwa humor yang sering ia suguhkan itu terinspirasi dari humornya Alm. Gusdur. Di mana humor yang Gusdur sendiri sering lontarkan yaitu sebuah humor yang menurut Jokpin merupakan permainan logika tingkat tinggi. begitupun humor yang ia suguhkan dalam puisi-puisinya "Humor dalam puisi saya adalah hasil belajar di mana isinya tentang permainan logika." Jelas beliau.


     Salah satu puisi Jokpin yang menarik menurut penulis adalah puisi Haus Hujan. Di mana puisi tersebut secara sepintas menggambarkan seseorang yang malah sering tidur di waktu hujan tiba, Dalam puisi tersebut hujan seolah menjadi makhluk hidup yang kesepian yang malah mendengar derainya sendiri tanpa ada seorangpun yang peduli. yang menggelitik dalam puisi tersebut ketika ang hujan berbicara "Segala yang dingin dan menggiurkan berasal dariku dan harus kembali kepadaku. sudah bekukah hatimu? jauh-jauh aku datang hanya untuk kau tinggal tidur." 


     Dalam puisi Haus Hujan yang ditulis Jokpin bukan hanya sindiran tentang orang-orang yang tidur saat hujan, tapi dapat kita liat di bait keduanya terdapat sebuah penyesalan si Ia. Ia yang saat hujan tiba malah tidur mendengkur, tetapi pada saat si tokoh Ia bangun ia mencari hujan, dan hujan tersebut tidak ia temukan terkecuali sebuah tapak-tapak hujan di halaman buku.


     Puisi tersebut menggambarkan ironisnya sebuah kenikmatan hidup yang manusia sia-siakan dan berujung dengan sebuah penyesalan. Hal tersebut memang sebuah peristiwa yang memang rawan terjadi. Tetapi Jokpin mampu mengemasnya dalam sebuah karya yang menawan dan memiliki kesan tersendiri. Dalam puisi tersebut kita diajak berimajinasi, hujan yang memiliki tingkah laku seperti manusia seolah benar-benar hidup dan ada sebagai manusia. Mungkin dari hal tersebut kita bisa memikirkan bagaimana jika saja benda mati memiliki tingkah laku dan terutama memiliki perasaan seperti manusia.

     Sebagai seorang penyair Joko Pinurbo merupakan seseorang yang memiliki peran perubahan besar dalam kesusatraan di Indonesia. Gaya menulis puisi yang khas ia lakoni bukan seolah-olah hanya menulis, tetapi jauh dari sana ia telah memberi sebuah keoptimisan hidup melalui sajak-sajaknya yang tak lepas dari sebuah humor menggelitik yang menjadi identitas setiap karyanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar