“Diana! Aku bisa
jelasin kok!” Laki-laki itu memohon pada perempuan yang sedang duduk di tengah
teman perempuan lainnya. Ia kemudian duduk di kursi tepat berhadapan dengan
Diana.
Karin menarik tangan
Diana ”Yuk ah balik ke kelas,” Ajaknya kepada teman perempuan lainnya. Kawanan
perempuan itu lantas berdiri dan beranjak membelakangi laki-laki yang baru saja
menghentikan hangat suasana mereka.
Keadaan hening
menghampiri Randi yang baru saja perhomohonannya ditolak keras oleh seorang
perempuan. Ia menarik napas panjang, dan kembali melangkah pergi menuju
Kelasnya.
Randi, ia adalah siswa
laki-laki populer di SMA 1 Tasikmalaya. Tidak hanya tampan yang bisa membuat
siapa saja jatuh hati, tapi ia juga juara kelas berturut-turut dari kelas
unggulan. Ditambah Randi adalah kapten dalam team basket sekolahnya yang selalu
saja menjuarai tiap pertandingan antar sekolah. Ia adalah bintang di sekolah,
tapi tidak di hati Diana kali ini.
Ditengah lorong Randi
berjalan dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya menabrak seorang siswa
didepannya yang tengah diam berdiri membaca buku.
“Eh mang, kade atuh
leumpang teh ah. Hayoh ngahuleng, bisi kasurupan Suharto,” Tegur siswa
laki-laki yang tertabrak Randi yang artinya eh, hati-hati kalo jalan. Ngalamun
mulu, takut kesurupan Suharto.
Tanpa
bergumam apapun Randi melangkahkan kakinya seolah tidak terjadi apa-apa.
Bel bunyi sebagai tanda
pembelajaran sekolah sudah berakhir menjadi alasan kenapa semua siswa bersorak
bahagia. Biru langit menghiasi sore di mana seorang siswa laki-laki baru saja
menaiki angkutan umum.
“Ehhh kamu, Diana
Sriradyasastro Diningrat Sultan Hamengkubuwono, selamat pagi!” Ucap siswa itu
yang tak lain adalah Arga.
Tanpa sengaja Diana dan
Arga berada pada satu angkutan umum yang sama. Diana terlihat begitu senang,
seolah melihat badut yang siap kapan saja menghiburnya.
“Nama aku pendek,
lagian sekarang itu sore!” Perempuan itu menjawab ucapan Arga.
“Oh nama kamu pendek,
kalo gitu haiii Pendek!” Balas laki-laki itu.
Diana memasang muka
cemberut, yang seolah siap melahap apa saja yang ada di depan matanya. Dan
kebetulan yang di depannya adalah muka Arga. “Kamu kok nyebelin banget yah?”
Laki-laki itu malah
lirik kiri kanan, seolah tidak mendengar apa yang perempuan itu ucapkan
kepadanya.
“Ihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!”
Perempuan itu seolah habis kesabaran sampai mencubit paha Arga.
“Ehhhhhhhh kamu, dari
kapan di sini? Udah lama?” Laki-laki itu malah balik bertanya sambil senyum,
dan seolah baru mendapati Diana di sana.
“Euhhhh kamu, eh emang
rumah kamu di mana?” Tanya Diana.
“Di planet ini, hhhhe,
becanda, itu deket perempatan di depan, dari situ belok kiri, abis itu belok
kanan, terus luruuuusssssss, nah itu taman kota,”
“Ihhhhhh serius!” Diana
menyela penjelasan Arga.
“Eh dengerin dulu, itu
rumah aku deket situ tau.” Ujar Arga.
“Ohhhh gitu hhhe, maaf
soalnya dari tadi becanda mulu sih. Eh rumah aku deket tuh di situ. Udah yahhh,
dahhhhhh!” Diana beranjak dari tempat duduk angkutan sembari menyetop abang
supir dan lalu turun dari angkutan tersebut.
“Dahhhhhhh, sampai
ketemu besok, ehhhh Rabu, besok kan libur ya,” Ucap Arga sambil melihat Diana
yang senantiasa tersenyum menghiasi sore itu.
Arga yang masih dalam angkutan umum tersebut
menatap Diana dari dalam dan melambaikan tangan seiring dengan laju kendaraan
yang meninggalkan tempat perempuan itu berdiri. Duduk di paling ujung tempat
duduk, Arga membenamkan matanya pada langit sore yang siap mengakhiri hari
tersebut. Perlahan tatapannya kini
beralih pada tas di depannya, ia baru sadar ternyata tas Diana tertinggal di
kendaraaan itu.
Bersambung.................................

Tidak ada komentar:
Posting Komentar