Rabu, 17 April 2019

Lelaki Jadulku #5



“Diana! Aku bisa jelasin kok!” Laki-laki itu memohon pada perempuan yang sedang duduk di tengah teman perempuan lainnya. Ia kemudian duduk di kursi tepat berhadapan dengan Diana.

Karin menarik tangan Diana ”Yuk ah balik ke kelas,” Ajaknya kepada teman perempuan lainnya. Kawanan perempuan itu lantas berdiri dan beranjak membelakangi laki-laki yang baru saja menghentikan hangat suasana mereka.

Keadaan hening menghampiri Randi yang baru saja perhomohonannya ditolak keras oleh seorang perempuan. Ia menarik napas panjang, dan kembali melangkah pergi menuju Kelasnya.

Randi, ia adalah siswa laki-laki populer di SMA 1 Tasikmalaya. Tidak hanya tampan yang bisa membuat siapa saja jatuh hati, tapi ia juga juara kelas berturut-turut dari kelas unggulan. Ditambah Randi adalah kapten dalam team basket sekolahnya yang selalu saja menjuarai tiap pertandingan antar sekolah. Ia adalah bintang di sekolah, tapi tidak di hati Diana kali ini.

Ditengah lorong Randi berjalan dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya menabrak seorang siswa didepannya yang tengah diam berdiri membaca buku.

“Eh mang, kade atuh leumpang teh ah. Hayoh ngahuleng, bisi kasurupan Suharto,” Tegur siswa laki-laki yang tertabrak Randi yang artinya eh, hati-hati kalo jalan. Ngalamun mulu, takut kesurupan Suharto.

  Tanpa bergumam apapun Randi melangkahkan kakinya seolah tidak terjadi apa-apa.

Bel bunyi sebagai tanda pembelajaran sekolah sudah berakhir menjadi alasan kenapa semua siswa bersorak bahagia. Biru langit menghiasi sore di mana seorang siswa laki-laki baru saja menaiki angkutan umum.

“Ehhh kamu, Diana Sriradyasastro Diningrat Sultan Hamengkubuwono, selamat pagi!” Ucap siswa itu yang tak lain adalah Arga.

Tanpa sengaja Diana dan Arga berada pada satu angkutan umum yang sama. Diana terlihat begitu senang, seolah melihat badut yang siap kapan saja menghiburnya.

“Nama aku pendek, lagian sekarang itu sore!” Perempuan itu menjawab ucapan Arga.

“Oh nama kamu pendek, kalo gitu haiii Pendek!” Balas laki-laki itu.

Diana memasang muka cemberut, yang seolah siap melahap apa saja yang ada di depan matanya. Dan kebetulan yang di depannya adalah muka Arga. “Kamu kok nyebelin banget yah?”

Laki-laki itu malah lirik kiri kanan, seolah tidak mendengar apa yang perempuan itu ucapkan kepadanya.

“Ihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!” Perempuan itu seolah habis kesabaran sampai mencubit paha Arga.

“Ehhhhhhhh kamu, dari kapan di sini? Udah lama?” Laki-laki itu malah balik bertanya sambil senyum, dan seolah baru mendapati Diana di sana.

“Euhhhh kamu, eh emang rumah kamu di mana?” Tanya Diana.

“Di planet ini, hhhhe, becanda, itu deket perempatan di depan, dari situ belok kiri, abis itu belok kanan, terus luruuuusssssss, nah itu taman kota,”

“Ihhhhhh serius!” Diana menyela penjelasan Arga.

“Eh dengerin dulu, itu rumah aku deket situ tau.” Ujar Arga.

“Ohhhh gitu hhhe, maaf soalnya dari tadi becanda mulu sih. Eh rumah aku deket tuh di situ. Udah yahhh, dahhhhhh!” Diana beranjak dari tempat duduk angkutan sembari menyetop abang supir dan lalu turun dari angkutan tersebut.

“Dahhhhhhh, sampai ketemu besok, ehhhh Rabu, besok kan libur ya,” Ucap Arga sambil melihat Diana yang senantiasa tersenyum menghiasi sore itu.

 Arga yang masih dalam angkutan umum tersebut menatap Diana dari dalam dan melambaikan tangan seiring dengan laju kendaraan yang meninggalkan tempat perempuan itu berdiri. Duduk di paling ujung tempat duduk, Arga membenamkan matanya pada langit sore yang siap mengakhiri hari tersebut.  Perlahan tatapannya kini beralih pada tas di depannya, ia baru sadar ternyata tas Diana tertinggal di kendaraaan itu.



Bersambung.................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar