Aku pikir akademik bukan satu-satunya cara menilai seseorang. Sebab tidak semua orang mahir dan selalu mendapat nilai bagus di bidang akademik. Nilai akademik seseorang pun menurutku bukan penentu apa orang tersebut akan sukses atau tidak, toh rezeki sudah diatur tuhan tanpa perlu hapal rumus trigonometri.
Iya, aku mengungkapkan hal seperti ini karena akulah salah satu orang yang buruk dalam bidang akademik itu. Entah apa yang menjadi latar belakangnya, yang pasti otakku sendiri sulit bahkan sangat sulit sekali memahami pelajaran, terutama hitungan; matematika, fisika, atau kimia. Sudah bisa kutebak, kalau saja ulangan, nilai yang kudapat pasti tidak pernah lebih dari 40. "Belajar sudah, berdoa sudah, mendengarkan guru sudah, terus kenapa dapat nilai besar masih susah?" Kadang pertanyaan itu selalu saja muncul di kepalaku, seolah-olah seperti ribuan anak panah yang menyerang dari dari arah musuh yang datang tiba-tiba. Tapi bagiku hal tersebut bukan titik penyesalan, melainkan awal berpikir untuk tidak memaksakan diri pada hal yang memang bukan untuk dipasangkan pada diri kita.
"Hmmmm, mungkin fisika bukan jodoh, mungkin matematika juga, mungkin kimia juga, mungkin hampir seluruh pelajaran pun juga bukan jodoh." Begitu caraku berpikir, sampai akhirnya aku sadar akan beberapa hal penting yang ada pada diriku. "Lho, aku kan bisa main musik, kenapa tidak bercita-cita jadi musisi saja? Lho, aku kan hobi olahraga karate, kenapa tidak bercita-cita jadi atlet saja? Lho, aku juga kan hobi menulis, kenapa tidak bercita-cita jadi penulis saja? Untuk apa juga aku bercita-cita jadi arsitek kalau memang bukan cita-citaku." Cara berpikir seperti itulah yang selalu mengajakku untuk belajar cara bersyukur dan memahami bahwa tuhan pasti selalu memberi harapan kepada setiap makhluknya.
Saya pertegas, saya tidak setuju untuk menilai seseorang dari nilai akademiknya. Banyak jalan menuju masa depan dan kebaikan. Bukan berarti bagiku pendidikan tidak penting, pendidikan penting kok. Dari sarana pendidikan yaitu sekolah, sekalipun ilmu yang didapat tidak seberapa tapi begitu banyak kawan, relasi, ataupun kenalan yang bisa kita dapatkan. Toh mendapatkan teman tidak serumit mendapatkan nilai X pada aljabar. Maka dari itu aku bersyukur bisa bersekolah, ya karena dari sana juga aku mendapatkan kawan-kawan yang begitu banyak. Teman memang bukan segalanya, tapi teman bisa jadi awal dari segalanya.
Kembali ke pokok bahasan. Memang benar, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mungkin ini lah yang disebut bahwa manusia bukan makhluk yang sempurna, selalu ada titik lemahnya. Kalau semua siswa sama pintarnya, lantas siapa yang ranking pertamanya? Kalau semua orang adalah bos, lantas siapa bawahannya? Percayalah tuhan selalu menciptakan keseimbangan yang begitu harmoni.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar