mendarat di kasur yang dia anggap surga. Baru saja ia selesai berurusan dengan tugas-tugas sekolah. Ditemani suara kendaraan di malam hari, ia setengah terlelap sebelum akhirnya notifikasi WhatsApp menjadi perhatian utama telinga perempuan itu.
“Diana!” Sapa sesorang via WhatsApp yang bernama Randi.
Perempuan itu, langsung terbangun dari posisi tidurnya. Ia duduk di atas kasur sambil cengengesan menatap pesan yang baru saja tiba. Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas lelah yang seolah menjadi musim kemarau seketika hilang terkena hujan gembira.
“Iya, apa?” Balas perempuan itu.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang telah menjadikannya abu,”
Seketika wajahnya berubah menjadi lesu kembali, dan melanjutkan posisi tidur yang sempat ia jeda karena pesan dari pacarnya.
Puisi kutipan dari sang pacar adalah hal yang memang terlalu sering bahkan bosan ditemui perempuan itu. Ia mungkin tidak membutuhkan kutipan kata-kata romantis, ia hanya butuh perlakuan tulus dan nyata tanpa dramatis.
Diana Astiradya adalah nama perempuan itu, wajah kuning langsatnya adalah idaman setiap perempuan seumurannya. Halis hitam yang begitu jelas, terlihat begitu serasi dengan mata yang berbulu centik, ditambah warna cokelat bulat matanya yang mampu membuat siapa saja mendadak terpana.
Perempuan yang lahir pada pertengahan Agustus tahun 2000 itu berasal dari orang tua yang memiliki latar budaya yang berbeda, Ibunya keturunan jawa, sedang Ayahnya keturunan sunda. Mungkin itu adalah salah satu faktor kenapa ia begitu mencintai Indonesia yang berbhineka tunggal ika. Sampai titik antusiasnya mengantarkan pada jiwa sosial yang sangatlah melekat pada dirinnya.
“Kok gak dibales?” Tanya sang pacar di kolom chat.
“Aku mau tidur, dah!” Balas Diana.
“Malam,” Sebuah pesan balasan masuk
Begitulah yang perempuan itu dapati setiap malam, sebelum akhirnya ia terlelap masuk dalam dunia mimpi, dan terbangun kembali karena rutinitas pendidikan yang wajib ia lakukan selaku pelajar yang teladan.
“Teeeeetttttttttttttttttt!” Bunyi bel baru saja berdengung di telinga pelajar SMA 1 Tasikmalaya, memecah rintik hujan yang sedang kebanyakan siswa-siswi nikmati di pertengahan bulan musim kemarau tepatnya Juni.
Perempuan berambut sebahu, setengah berlari buru-buru karena tidak ingin terlambat masuk kelas. Hampir saja Diana ditahan satpam penjaga gerbang. Di koridor menuju kelas,
tiba-tiba salah seorang perempuan sengaja menabrak Diana. Entah apa maksudnya, yang jelas perempuan itu seperti terlihat kesal pada perempuan anggun yang ditabraknya.
“Kalo jalan liat-liat dong! Pake nabrak segala,” Solot perempuan yang sengaja
menabrak Diana.
“Iya maaf, soalnya aku buru-buru lagi jalan ke kelas” Jawab Diana sambil meminta maaf.
“Maaf, maaf, makannya kalo jalan liat-liat, dasar tukang rebut pacar orang, gak tau diri banget sih jadi cewek murahan,”
Diana kaget mendengar ucapan perempuan di depannya, sebelum akhirnya ia merasa kepalanya begitu pusing, dan mulai lemas sampai ia jatuh pingsan di koridor sekolah.
Bersambung.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar