Senin, 25 Maret 2019

Lelaki Jadulku #2




            Terik mentari senantiasa mengeringkan genangan hujan yang ada. Tepat di pinggir jalan seorang siswa berjalan santai menuju gerbang sekolah yang sudah digembok penjaga.

            “Assalamualaikum!” Salam siswa laki-laki sambil mendekati dua orang satpam sekolah di balik gerbang.

            “Cik atuh ari maneh Ga, jam sabelas karek datang. Ek sakola mah tadi ti isuk-isuk datangna,” Jawab salah seorang satpam yang artinya ehhhh kamu Ga, jam sebelas baru dateng, kalo mau sekolah tadi pagi-pagi datengnya.

            “Pak jawab heula atuh salamna, nanti bapak dosa,” Tegur siswa yang masih berdiri sambil memegang besi gerbang yang berarti Pak jawab dulu dong salamnya, nanti bapak dosa.

            “Waalaikumsalam,” Kedua satpam menjawab salam dengan keras, dan salah seorang dari mereka membuka kunci gerbang.

            Tak lama setelah gerbang dibuka mereka tertawa kencang bersama-sama, entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas begitulah setiap kali kedua orang satpam itu  jika bertemu seorang siswa bernama Arga.

            Arga Trisno, seorang siswa laki-laki bertubuh tinggi kurus dengan kulit sawo matang. Entah kapan terakhir kali ia pangkas rambut ikalnya, potongan rambut laki-laki itu memang bukan teladan bagi siswa-siswa yang ada di negara ini. Terlebih kebiasaan datang siang ke sekolah. Tas kosong adalah beban punggung setiap kali ia hendak ke sekolah, setiap kali ditanya kenapa cuma bawa tas kosong,  pasti dia jawab “Kan ke sekolah mau menimba ilmu, jadi ilmu dari sekolah saya bungkus dan masukin ke tas biar bisa dibawa pulang.” Dan tidak lupa tanganya pasti tidak terlepas dari buku sastra baik itu novel atau puisi lama.

            “Arga nilai matematikamu seratus tuh,” Ujar seorang wanita yang tengah berdiri di depan pintu kelas.  

            “ Iya makasih Vin. Kalau ada guru bilangin, aku sakit lagi di UKS,” Jawab Arga yang terlihat begitu cuek dengan hasil ulangannya sembari menyerahkan tas kepada wanita di depannya yang bernama Vina.

            “Karep ah ieuh, rudet ngabanungan maneh mah.” Jawab Vina sambil pergi ke dalam kelas.

            Tidak seperti biasanya ruang UKS terbuka. Arga sedikit heran, tapi dengan kecuekannya dia masuk seolah seperti penghuni sejati ruangan tersebut. Buku berjudul Latihan Tidur  karya Joko Pinurbo, ia buka halaman yang baru saja kemarin ia baca. Sambil melangkah menuju kasur khusus siswa sakit, ia baca satu persatu kata yang tertera di atas kertas buku yang ia pegang. Ketika tangannya hendak memegang tepi kasur, ia malah memegang tangan seorang wanita yang lelap tertidur.

            “Astagpiruloh!” Kaget Arga ketika menyentuh tangan siswi yang tertidur.

            Perempuan itu bangun dan hampir teriak, ketika matanya terrbuka melihat seorang pria tiba di depan matanya.”Huuuuuuuuuhhhh, aku kira penjahat, kamu siswa penjaga UKS yah?” Tanya perempuan itu dengan jantung yang masih berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi kaget.

            “Aku dokter di sini. Ada yang bisa bantu saya, eh ada yang bisa saya bantu?” Jawab Arga sambil berlagak seperti dokter yang hendak mengobati pasiennya.

            Wanita yang tadinya kaget kini lekas tertawa “Hahahahaha, masa dokter kucel?” Tanya perempuan itu sambil tertawa.

            “Sebentar,” Jawab Arga sambil berjalan untuk mengambil pena dan buku yang ada di meja UKS.

            Wanita itu tertawa kecil, ketika pria yang satu ruangan dengannya sedang menulis sesuatu di atas meja dengan muka yang sangat serius.

            “Nih, obat buat kamu.”Arga menghampiri wanita yang lekas duduk di kasur sembari menyodorkan sobekan kertas yang bertuliskan ”OBAT”.

            “Dok, ini obatnya diminum apa dimakan?” Tanya wanita itu sambil berpura-pura percaya pada laki-laki di depannya.

            “Simpan saja di saku, nanti kalau kamu sakit lagi tinggal ambil dan liat aja obat itu, pasti langsung sembuh,” Jawab Arga dengan muka sok serius.

            “Diana Astiradya, biasa dipanggil Dian atau Diana,” Ucap perempuan itu sambil menyodorkan tangan sebagai tanda pernikahan. Eh perkenalan.

            Arga menjabat tangannya ”Dokter, biasa dipanggil Pak dokter atau Dok,” Sahut Arga yang masih berlagak menjadi dokter.

            Diana yang tersenyum, kini tertawa lagi ”Kamu lucu.”

            “Kamu cantik, eh keceplosan maaf.” Sahut Arga yang sebenarnya memang disengaja.

.           Pipi Diana tiba-tiba memerah dan mulutnya seperti sulit lagi untuk berkata-kata. Tak lama dari sana suara beberapa perempuan dari luar terdengar memanggil mengajak Diana ke kelas “Dian, hayu ke kelas!” Hayu dalam bahasa Indonesia berarti ayo.

            Diana beranjak berdiri dari kasur, dengan sigap dia memang selalu terlihat senang jika teman-temannya memanggil nama perempuan itu. Ketika hendak pergi, Diana tersenyum kepada Arga yang melihatnya heran karena langsung sehat walafiat.

            “Dadah, makasih obatnya yah.”  Diana beranjak pergi sambil memasukan sobekan kertas ke saku bajunya.

            Arga hanya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan semangat, karena sekarang ia bisa mulai tidur lelap di UKS. 

            Teman-teman Diana menyambutnya di luar dengan pelukan persahabatan, “Akhirnya kamu bangun dari kubur.” Ucap salah satu seorang temannya yang membuat semua tertawa.

            Sekumpulan wanita itu beranjak pergi meninggalkan halaman UKS dengan hangatnya gelak tawa di antara mereka. Cerahnya hari menjadi latar waktu di mana hati Diana mulai gembira.

            “Dian, maaf yah kita gak sempet nemenin kamu, soalnya bu Siti masuk. Kamu tadi di UKS sendirian yah?” Tanya salah seorang teman sambil memita maaf.

            “Iya tenang aja, lagian tadi aku ada yang nemanin kok Rin.” Jawab Diana sambil senyum-senyum pada salah seorang temannya bernama Karin.

            “Randi si brengsek itu udah berani lagi nemuin kamu, waduh kurang ajar tuh orang, gak tau diri, bisanya cuma maenin perasaan cewek aja. Playboy g&bl*k tuh orang,” Gerutu Karin yang didukung oleh emosi teman lainnya.

            “Ihhhh bukan Randi kok.” Sahut Diana.

            “Lah terus siapa?” Tanya Pindi yaitu salah seorang temannya yang tepat berada di samping kiri Diana.

            Langkah Diana terhenti, ia sadar kalau saja tadi ia lupa menanyakan siapa nama laki-laki itu. 



          Bersambung..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar