Terik
mentari senantiasa mengeringkan genangan hujan yang ada. Tepat di pinggir jalan
seorang siswa berjalan santai menuju gerbang sekolah yang sudah digembok
penjaga.
“Assalamualaikum!”
Salam siswa laki-laki sambil mendekati dua orang satpam sekolah di balik
gerbang.
“Cik
atuh ari maneh Ga, jam sabelas karek datang. Ek sakola mah tadi ti isuk-isuk
datangna,” Jawab salah seorang satpam yang artinya ehhhh kamu Ga, jam sebelas
baru dateng, kalo mau sekolah tadi pagi-pagi datengnya.
“Pak
jawab heula atuh salamna, nanti bapak dosa,” Tegur siswa yang masih berdiri
sambil memegang besi gerbang yang berarti Pak jawab dulu dong salamnya, nanti
bapak dosa.
“Waalaikumsalam,”
Kedua satpam menjawab salam dengan keras, dan salah seorang dari mereka membuka
kunci gerbang.
Tak
lama setelah gerbang dibuka mereka tertawa kencang bersama-sama, entah apa yang
mereka bicarakan, yang jelas begitulah setiap kali kedua orang satpam itu jika bertemu seorang siswa bernama Arga.
Arga
Trisno, seorang siswa laki-laki bertubuh tinggi kurus dengan kulit sawo matang.
Entah kapan terakhir kali ia pangkas rambut ikalnya, potongan rambut laki-laki
itu memang bukan teladan bagi siswa-siswa yang ada di negara ini. Terlebih
kebiasaan datang siang ke sekolah. Tas kosong adalah beban punggung setiap kali
ia hendak ke sekolah, setiap kali ditanya kenapa cuma bawa tas kosong, pasti dia jawab “Kan ke sekolah mau menimba
ilmu, jadi ilmu dari sekolah saya bungkus dan masukin ke tas biar bisa dibawa
pulang.” Dan tidak lupa tanganya pasti tidak terlepas dari buku sastra baik itu
novel atau puisi lama.
“Arga
nilai matematikamu seratus tuh,” Ujar seorang wanita yang tengah berdiri di
depan pintu kelas.
“
Iya makasih Vin. Kalau ada guru bilangin, aku sakit lagi di UKS,” Jawab Arga
yang terlihat begitu cuek dengan hasil ulangannya sembari menyerahkan tas
kepada wanita di depannya yang bernama Vina.
“Karep
ah ieuh, rudet ngabanungan maneh mah.” Jawab Vina sambil pergi ke dalam kelas.
Tidak
seperti biasanya ruang UKS terbuka. Arga sedikit heran, tapi dengan kecuekannya
dia masuk seolah seperti penghuni sejati ruangan tersebut. Buku berjudul
Latihan Tidur karya Joko Pinurbo, ia buka
halaman yang baru saja kemarin ia baca. Sambil melangkah menuju kasur khusus
siswa sakit, ia baca satu persatu kata yang tertera di atas kertas buku yang ia
pegang. Ketika tangannya hendak memegang tepi kasur, ia malah memegang tangan
seorang wanita yang lelap tertidur.
“Astagpiruloh!”
Kaget Arga ketika menyentuh tangan siswi yang tertidur.
Perempuan
itu bangun dan hampir teriak, ketika matanya terrbuka melihat seorang pria tiba
di depan matanya.”Huuuuuuuuuhhhh, aku kira penjahat, kamu siswa penjaga UKS
yah?” Tanya perempuan itu dengan jantung yang masih berdegup kencang, bukan
karena jatuh cinta, tapi kaget.
“Aku
dokter di sini. Ada yang bisa bantu saya, eh ada yang bisa saya bantu?” Jawab
Arga sambil berlagak seperti dokter yang hendak mengobati pasiennya.
Wanita
yang tadinya kaget kini lekas tertawa “Hahahahaha, masa dokter kucel?” Tanya
perempuan itu sambil tertawa.
“Sebentar,”
Jawab Arga sambil berjalan untuk mengambil pena dan buku yang ada di meja UKS.
Wanita
itu tertawa kecil, ketika pria yang satu ruangan dengannya sedang menulis
sesuatu di atas meja dengan muka yang sangat serius.
“Nih,
obat buat kamu.”Arga menghampiri wanita yang lekas duduk di kasur sembari
menyodorkan sobekan kertas yang bertuliskan ”OBAT”.
“Dok,
ini obatnya diminum apa dimakan?” Tanya wanita itu sambil berpura-pura percaya
pada laki-laki di depannya.
“Simpan
saja di saku, nanti kalau kamu sakit lagi tinggal ambil dan liat aja obat itu,
pasti langsung sembuh,” Jawab Arga dengan muka sok serius.
“Diana
Astiradya, biasa dipanggil Dian atau Diana,” Ucap perempuan itu sambil
menyodorkan tangan sebagai tanda pernikahan. Eh perkenalan.
Arga
menjabat tangannya ”Dokter, biasa dipanggil Pak dokter atau Dok,” Sahut Arga
yang masih berlagak menjadi dokter.
Diana
yang tersenyum, kini tertawa lagi ”Kamu lucu.”
“Kamu
cantik, eh keceplosan maaf.” Sahut Arga yang sebenarnya memang disengaja.
. Pipi
Diana tiba-tiba memerah dan mulutnya seperti sulit lagi untuk berkata-kata. Tak
lama dari sana suara beberapa perempuan dari luar terdengar memanggil mengajak
Diana ke kelas “Dian, hayu ke kelas!” Hayu dalam bahasa Indonesia berarti ayo.
Diana
beranjak berdiri dari kasur, dengan sigap dia memang selalu terlihat senang
jika teman-temannya memanggil nama perempuan itu. Ketika hendak pergi, Diana
tersenyum kepada Arga yang melihatnya heran karena langsung sehat walafiat.
“Dadah,
makasih obatnya yah.” Diana beranjak
pergi sambil memasukan sobekan kertas ke saku bajunya.
Arga
hanya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan semangat, karena sekarang
ia bisa mulai tidur lelap di UKS.
Teman-teman
Diana menyambutnya di luar dengan pelukan persahabatan, “Akhirnya kamu
bangun dari kubur.” Ucap salah satu seorang temannya yang membuat semua tertawa.
Sekumpulan
wanita itu beranjak pergi meninggalkan halaman UKS dengan hangatnya gelak tawa
di antara mereka. Cerahnya hari menjadi latar waktu di mana hati Diana mulai
gembira.
“Dian,
maaf yah kita gak sempet nemenin kamu, soalnya bu Siti masuk. Kamu tadi di UKS
sendirian yah?” Tanya salah seorang teman sambil memita maaf.
“Iya
tenang aja, lagian tadi aku ada yang nemanin kok Rin.” Jawab Diana sambil
senyum-senyum pada salah seorang temannya bernama Karin.
“Randi
si brengsek itu udah berani lagi nemuin kamu, waduh kurang ajar tuh orang, gak
tau diri, bisanya cuma maenin perasaan cewek aja. Playboy g&bl*k tuh orang,”
Gerutu Karin yang didukung oleh emosi teman lainnya.
“Ihhhh
bukan Randi kok.” Sahut Diana.
“Lah
terus siapa?” Tanya Pindi yaitu salah seorang temannya yang tepat berada di
samping kiri Diana.
Langkah
Diana terhenti, ia sadar kalau saja tadi ia lupa menanyakan siapa nama
laki-laki itu.
Bersambung..........

Tidak ada komentar:
Posting Komentar