
Rokok membunuhmu, begitu kata pepatah baligo kesehatan di tembok-tembok tempat umum. Hmmmmm yang salah itu rokok atau pembelinya sih? Atau produsen rokoknya. Heran, kalo begiitu berarti rokok itu pembunuh, kalo pembunuh kok rokoknya gak dipenjara? Apa susahnya?
Terakhir aku merokok itu sejak SD kelas 6, ya waktu itu rokok buat kita laki-laki seumuranku bukan kebutuhan, tapi gaya biar gaul katanya. Orang yang tidak ikut merokok di antara kami pasti akan diejek laki-laki lemah, lucu yah. Padahal lebih lemah laki-laki yang merokok tapi belinya pake uang orang tua. Hahhah iya gak sih? Ehh maaf bukannya menasihati, aku juga sempat mengalaminya kok.
Menginjak bangku sekolah menengah pertama aku mulai berhenti, entah apa yang membuatku berhenti waktu itu, yang jelas aku lupa. Kalau tidak salah waktu itu sepertinya gara-gara aku dengar ceramah dari guru agama di sekolah. Secara tidak sadar ternyata itu sangat berpengaruh besar, di mana jaman sekarang banyak anak SMA seumuranku yang begitu ketergantungan dengan rokok. Hmmm coba kalau waktu itu aku tidak sempat mendengar ceramah guru di sekolah, pasti aku salah satunya.
Alasanku berhenti dan tidak merokok sekarang tidak lain karena berpikir sepertinya terlalu percuma kalau uang yang kita punya berubah menjadi asap. Kalau mau asap, kenapa tidak beli korek saja, lalu membakar sampah? Mudahkan, ditambah murah meriah kok. Mending aku belikan yang lain saja, sepertinya martabak lebih sehat dari marlboro.
Tanpa embel-embel kesehatan, sepertinya ini sekedar sudut pandang setiap orang saja kok. Kata kawan-kawanku sekarang rokok buat mereka bukan gaya, tapi kebutuhan. Katanya mereka bisa baru tenang kalau sudah menghisap tembakau itu. Ternyata seberpengaruh itu ya rokok bagi kehidupan mereka.
Kata kawan-kawanku sangatlah sulit berhenti tidak merokok, tiga hari saja mereka tidak merokok, rasanya sama seperti tidak makan. Haduhhhhh. Kalau aku, tiga hari saja tanpa kabar darimu, rasanya sama seperti tidak hidup. Hahahahaha, percayalah hidup tidak selebay itu kok. Eh maaf.
Kembali ke topik pembicaraan, hmmmm mungkin merokok atau tidak itu bukan masalah ya. Terlebih hal tersebut merupakan kebiasaan masing-masing setiap orang. Orang yang sering tidak mandi mungkin bisa terbiasa dengan hal tersebut, berbeda dengan orang yang rajin mandi mungkin mereka tidak akan nyaman dan terbiasa dengan kebiasaan tidak mandi. Yang salah itu justru ketika kita saling mempeedebatkan mana yang lebih baik antata perokok dan yang tidak. Toh rokok itu makruh, lebih baik merokok yang makruh daripada menjalani kehidupan yang makruh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar