Selamat datang di beranda yang menjelma bukan sebagai makalah,, artikel ilmiah, essai, kritik, ataupun itu. Ini hanyalah halaman yang berisi pemikiran subjektif saja dan hanya diberi bumbu-bumbu objektif sebagai penyedap rasanya. Ngomong naon sih.
Jika sebuah budaya merupayakan kehidupan sekelompok masyarakat yang
tercipta atas proses peradaban yang Panjang, lantas apa bisa budaya tersebut disebut masiha da dengan pola pikir masyarakat sendiri yang sudah berbeda? Di halaman ini saya bukan bermaksud untuk berspekulasi bahwa budaya-budaya bangsa kita sudah tidak berlaku. Tapi dengan kondisi dimana cara berpikir pralogis selalu saja dibantah dengan Ilmu Pengetahuan yang konon katanya merupakan hal yang empiriris bagaimana cara budaya tersebut bisa utuh jiwanya? Terlebih budaya sendiri hakikatnya bukan objek visual saja, tapi juga melibatkan pemikiran dan tingkah laku sosial masyarakat tersebut. Heuheuh teu? Sok geura tilik-tilik.
Okeh, disini kita kesampingkan dulu yah pertautan terhadap agama. Karena jujur saya bukan ustad, aslina.
Kita ambil contoh, ketika masyarakat pesisir pantai selatan mengadakan pesta laut, mereka mempercayai kegiatan tersebut ialah ritual untuk meminta keselamatan nelayan terhadap tokoh mitos Nyi Roro Kidul. Jika saja pola berpikir pralogis tersebut hilang dari masyarakat pesisir pantai, otomatis pesta laut hanya akan menjadi acara rutin tahunan saja atau mungkin ditinggalkan. Lantas apa masih bisa salah satu ritual yang sudah menjadi budaya dari dulu tersebut menjadi budaya yang seutuhnya dengan hanya mengandalkan proses visualnya saja. Bisa, ganti saja tokoh Nyi roro kidul Tersebut dengan tuhan. Heeh kela kan tadi ge, mengesampingkan pertautan terhadap agama, jang contoh ieu mah, kalem lur da lain ateis di dieu ge.
Levy-Bruhl dalam bukunya yang berjudul Les Fonctions mentales dans les societies inferieures menegaskan bahwa menurutnya orang-orang primitif (masyarakat tradisional yang masih menjunjung tinggi kebudayan-kebudayaannya) tak memiliki kapasitas untuk berefleksi yang bisa dibandingkan dengan orang barat dan secara khusus, tak mengindahkan asas nonkontradiksi dalam menyusun penalaran. Di mana kejadian-kejadian senantiasa dilekatkan dengan penyebab yang sejatinya tidak berhubungan dengannya. Seperti contoh kematian bagi mereka bukanlah hal yang alami, melainkan memiliki satu penyebab yang harus diwaspadai. Kalem urang kampung ulah ngegas pedah disebut primitif, sayah ge cicing di kampung da.
Yang ditegaskan Pak Levy di sana secara langsung disebutkan ada dua pola pikir, yaitu pralogis dan modern/barat. Kalem asa teu ngenah da ai kudu disebut pola pikir primitif mah. Keterangan keduanya bisa dibaca lagi di paragrap sebelumnya. Nah yang mesti kita khawatirkan ialah jika cara berpikir modern sudah bertabrakan dengan cara berpikir pralogis. Dan datang banyak orang, lagi tabrakan bukannya ditolongin eh malah bikin pidio sama dipoto-poto “Innalilahi, sudah terjadi kecelakaan.”. oke sorry kita balik lagi bertabraknya kedua pola pikir ini dampak buruknya yaitu ketika kita sudah mulai menyalah-nyalahkan pola pikir pralogis, di mana pola pikir tersebut yang sudah secara tidak langsung menciptakan budaya sekaligus menggerakan dan menggiatkan kehidupan sosial yang ada pada bangsa kita (Geger,2018) .
Bimbi, tak mau kenal lagi kampungnya. Tah cek Titiek Puspa ge, ngeri kan mun nepi ka kitu? Tapi akan menjadi sebuah tanda tanya besar dalam benak kita untuk melestarikan budaya kita sendiri. Apa masih harus kita melestarikan budaya seutuhnya dengan cara berpikir pralogis melihat modernisasi dan pengetahuan yang konon katanya empiris tidak bisa dipungkiri lagi adanya.
Sok siah kumaha tah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar