Upacara
hari senin adalah alasan kenapa setiap siswa harus tiba lebih awal dari pada
hari lainnya. Pagi itu Diana terlambat tiba di sekolah, gerbang dikunci dan
yang lebih buruknya tidak ada siapapun di balik gerbang sana yang memungkinkan
untuk menolongnya agar bisa mengikuti upacara walaupun terlambat. Tidak seperti
biasanya gadis itu terlambat datang ke sekolah. Entah apa yang menjadi faktor
utamanya.
“Aku sayang sekali
Doraemon,” Seorang siswa laki-laki baru saja baru saja keluar dari angkutan
umum sambil menyanyikan lagu dari kartun serial Jepang, yaitu Doraemon.
Gadis yang masih saja
berdiri di depan gerbang langsung membalikan badannya ke arah laki-laki yang
sedang bernyanyi sambil loncat-loncat itu. Diana begitu heran, kenapa ada siswa
seperti itu di sekolahnya. Setiap siswa yang datang terlambat ke sekolah
biasanya sangat terihat was-was dan buru-buru, tapi orang yang satu ini malah
justru sebaliknya. Ketika siswa laki-laki itu semakin mendekat, gadis yang
sedang melihatnya begitu kaget. Ternyata laki-laki itu adalah siswa yang waktu
hari rabu lalu ada di UKS dengannya.
“Sizuka! Kenapa kamu
terlambat?” Laki-laki itu bertanya dengan ekspersi syok pada perempuan di
depannya yang tidak lain adalah Diana. Ia begitu cuek dengan baju yang tidak sama
sekali dimasukannya ke dalam celana.
“Kamu yang waktu itu di
UKS kan?” Diana tanya balik laki-laki itu.
“Hehehe iya, yuk ah masuk!” Laki-laki itu
mengajak perempuan di depannya untuk masuk ke sekolah.
“Gerbangnya dikunci.” Perempuan itu memberi tahu laki-laki yang
sedang memegang pintu gerbang.
Ia tidak mendengar apa
yang Diana katakan, tiba-tiba ia berteriak ”Tolong! Tolong!” Suara kencangnya
memecah khidmat upacara bendera di lapangan tengah yang sedang dilakukan para
siswa-siswi dan guru-guru lainnya. Semua guru keluar dari lapangan dan berlari
menuju gerbang, sedangkan siswa lainnya mencoba mengintip dari pingir lapangan
yang jaraknya sekitar 50 meter dari gerbang dan terhalang oleh bangunan kelas.
“Ada apa Ga?”
Tanya salah seorang guru yang baru saja sampai di depan gerbang dengan muka
panik.
“Gawat pak,
pokoknya gawat pak.” Jawab pria aneh itu.
Diana hanya bisa
berdiri di tepi gerbang dengan muka bingungnya, laki-laki yang tadi ia lihat
sedang ceria dan gembira, tiba-tiba sekarang menjadi histeris.
Salah seorang
guru baru saja keluar dari pos satpam, dan sebuah kunci berada di tangannya.
Sambil setengah lari ia berusaha untuk lebih cepat sampai, sebelum akhirnya ia
sampai dan membuka kunci gerbang itu. Laki-laki yang berada di luar gerbang
itu, menarik perempuan di sampingnya masuk melewati gerbang yang baru saja
dibuka. Kemudian berlari ke arah barisan upacara dengan cepat.
“Ada gawat apa
Arga,” Tanya guru-guru yang waktu itu tengah memperhatikan keduanya.
“Gawat bu, kami
kesiangan!” Jawab Arga kencang sambil berlari menuju barisan upacara dengan
muka cengengesan.
Semua guru
menghela nafas dalam-dalam, seolah mencoba untuk memendam rasa kesal yang
begitu besar di hati mereka. Salah seorang dari mereka langsung memegang
pengeras suara. Dan memanggil nama siswa yang baru saja ikut berbaris.
“Arga Trisno,
anda tidak perlu mengikuti upacara. Silahkan anda langsung pergi ke ruang BP.”
Kalimat itu berdengung di telinga semua siswa yang tengah berada di lapangan.
Diana menatap
laki-laki di sampingnya yang baru saja menariknya itu, kini ia baru saja
mengetahui siapa namanya. Perempuan itu berdiri senantiasa menatap laki-laki
yang melangkahkan kakinya ke arah lain dengan tatapan heran.
Laki-laki itu
membalikan badannya dan menatap perempuan yang tengah menatapnya “Dadah
Sizuka!” Manusia bernama Arga itu melambaikan tangan dan tersenyum pada Diana.
Beribu-ribu
pertanyaan tentang laki-laki yang baru saja ia temui hinggap di kepala
perempuan yang sedang melamun di tengah ramainya perbincangan beberapa perempuan
di meja kantin. Matanya menatap minuman yang sedang ia sedot, tangannya
menyangga putihnya dagu yang amat terlihat buruk jika harus jatuh ke dalam
mangkok yang berisikan bakso.
“Woy ngalamun
wae!” Suara salah seorang perempuan membuyarkan lamunan Diana yang artinya woy
ngelamun mulu.
“Eh Wina, enggak
ah,” Sahut Diana yang baru saja kaget.
“Eh tadi kok
kamu bisa bareng si Arga ke sekolah?” Tanya Karin yang tengah duduk di samping
kanan perempuan itu.
“Ihhhh, jangan
deket-deket sama si Arga, kelewat bandel tuh anaknya. Baru juga kena skor, eh
tadi pagi udah bikin masalah lagi,” Sela pindi yang baru saja menyedot habis
jus alpukatnya.
“Eh tapi
bandel-bandel juga ganteng kok, eh iya aku pernah denger emang sih Arga itu
bandel dan gaulnya sama anak-anak yang gitu semua. Tapi katanya dia enggak
ngerokok loh,” Sahut Wina dengan nada memuji laki-laki yang sedang menjadi
topik pembicaraan.
“Ah gak percaya
ah, jaman sekarang laki-laki yang gak bandel aja kayak ketua osis kita tuh pada ngerokok,” Ujar Karin.
“Ih iya Rin bener tau Arga emang kayak gitu,
malahan katanya dia pernah tuh berantem gara-gara temennya maksa ngajak dia
ngerokok. Katanya kalo lagi ngumpul sama temen-temennya, dia enggak ngerokok, tapi
malah ngemut permen lolipop,” Tutur
Pindi yang setengah bisik-bisik.
Diana hanya
tersenyum dan tertawa dengan temannya ketika salah seorang dari mereka bilang
kalau Arga suka Permen lolipop. Riang suasana kantin seketika Hening di waktu
seorang siswa laki-laki menghampiri mereka. Laki-laki itu tidak lain ialah
Randi.
Bersambung...........

wkwk Arga lucu y
BalasHapusArga itu cucunya Mr. Bean.
Hapus