Senin, 01 April 2019

Lelaki Jadulku #4



   Upacara hari senin adalah alasan kenapa setiap siswa harus tiba lebih awal dari pada hari lainnya. Pagi itu Diana terlambat tiba di sekolah, gerbang dikunci dan yang lebih buruknya tidak ada siapapun di balik gerbang sana yang memungkinkan untuk menolongnya agar bisa mengikuti upacara walaupun terlambat. Tidak seperti biasanya gadis itu terlambat datang ke sekolah. Entah apa yang menjadi faktor utamanya.

“Aku sayang sekali Doraemon,” Seorang siswa laki-laki baru saja baru saja keluar dari angkutan umum sambil menyanyikan lagu dari kartun serial Jepang, yaitu Doraemon.

Gadis yang masih saja berdiri di depan gerbang langsung membalikan badannya ke arah laki-laki yang sedang bernyanyi sambil loncat-loncat itu. Diana begitu heran, kenapa ada siswa seperti itu di sekolahnya. Setiap siswa yang datang terlambat ke sekolah biasanya sangat terihat was-was dan buru-buru, tapi orang yang satu ini malah justru sebaliknya. Ketika siswa laki-laki itu semakin mendekat, gadis yang sedang melihatnya begitu kaget. Ternyata laki-laki itu adalah siswa yang waktu hari rabu lalu ada di UKS dengannya.

“Sizuka! Kenapa kamu terlambat?” Laki-laki itu bertanya dengan ekspersi syok pada perempuan di depannya yang tidak lain adalah Diana. Ia begitu cuek dengan baju yang tidak sama sekali dimasukannya ke dalam celana.

“Kamu yang waktu itu di UKS kan?” Diana tanya balik laki-laki itu.
 “Hehehe iya, yuk ah masuk!” Laki-laki itu mengajak perempuan di depannya untuk masuk ke sekolah.

“Gerbangnya dikunci.”  Perempuan itu memberi tahu laki-laki yang sedang memegang pintu gerbang.

Ia tidak mendengar apa yang Diana katakan, tiba-tiba ia berteriak ”Tolong! Tolong!” Suara kencangnya memecah khidmat upacara bendera di lapangan tengah yang sedang dilakukan para siswa-siswi dan guru-guru lainnya. Semua guru keluar dari lapangan dan berlari menuju gerbang, sedangkan siswa lainnya mencoba mengintip dari pingir lapangan yang jaraknya sekitar 50 meter dari gerbang dan terhalang oleh bangunan kelas.

“Ada apa Ga?” Tanya salah seorang guru yang baru saja sampai di depan gerbang dengan muka panik.

“Gawat pak, pokoknya gawat pak.” Jawab pria aneh itu.

Diana hanya bisa berdiri di tepi gerbang dengan muka bingungnya, laki-laki yang tadi ia lihat sedang ceria dan gembira, tiba-tiba sekarang menjadi histeris.

Salah seorang guru baru saja keluar dari pos satpam, dan sebuah kunci berada di tangannya. Sambil setengah lari ia berusaha untuk lebih cepat sampai, sebelum akhirnya ia sampai dan membuka kunci gerbang itu. Laki-laki yang berada di luar gerbang itu, menarik perempuan di sampingnya masuk melewati gerbang yang baru saja dibuka. Kemudian berlari ke arah barisan upacara dengan cepat.

“Ada gawat apa Arga,” Tanya guru-guru yang waktu itu tengah memperhatikan keduanya.

“Gawat bu, kami kesiangan!” Jawab Arga kencang sambil berlari menuju barisan upacara dengan muka cengengesan.

Semua guru menghela nafas dalam-dalam, seolah mencoba untuk memendam rasa kesal yang begitu besar di hati mereka. Salah seorang dari mereka langsung memegang pengeras suara. Dan memanggil nama siswa yang baru saja ikut berbaris.

“Arga Trisno, anda tidak perlu mengikuti upacara. Silahkan anda langsung pergi ke ruang BP.” Kalimat itu berdengung di telinga semua siswa yang tengah berada di lapangan.

Diana menatap laki-laki di sampingnya yang baru saja menariknya itu, kini ia baru saja mengetahui siapa namanya. Perempuan itu berdiri senantiasa menatap laki-laki yang melangkahkan kakinya ke arah lain dengan tatapan heran.

Laki-laki itu membalikan badannya dan menatap perempuan yang tengah menatapnya “Dadah Sizuka!” Manusia bernama Arga itu melambaikan tangan dan tersenyum pada Diana.

Beribu-ribu pertanyaan tentang laki-laki yang baru saja ia temui hinggap di kepala perempuan yang sedang melamun di tengah ramainya perbincangan beberapa perempuan di meja kantin. Matanya menatap minuman yang sedang ia sedot, tangannya menyangga putihnya dagu yang amat terlihat buruk jika harus jatuh ke dalam mangkok yang berisikan bakso.

“Woy ngalamun wae!” Suara salah seorang perempuan membuyarkan lamunan Diana yang artinya woy ngelamun mulu.

“Eh Wina, enggak ah,” Sahut Diana yang baru saja kaget.

“Eh tadi kok kamu bisa bareng si Arga ke sekolah?” Tanya Karin yang tengah duduk di samping kanan perempuan itu.

“Ihhhh, jangan deket-deket sama si Arga, kelewat bandel tuh anaknya. Baru juga kena skor, eh tadi pagi udah bikin masalah lagi,” Sela pindi yang baru saja menyedot habis jus alpukatnya.

“Eh tapi bandel-bandel juga ganteng kok, eh iya aku pernah denger emang sih Arga itu bandel dan gaulnya sama anak-anak yang gitu semua. Tapi katanya dia enggak ngerokok loh,” Sahut Wina dengan nada memuji laki-laki yang sedang menjadi topik pembicaraan.

“Ah gak percaya ah, jaman sekarang laki-laki yang gak bandel aja kayak ketua osis kita tuh  pada ngerokok,” Ujar Karin.

 “Ih iya Rin bener tau Arga emang kayak gitu, malahan katanya dia pernah tuh berantem gara-gara temennya maksa ngajak dia ngerokok. Katanya kalo lagi ngumpul sama temen-temennya, dia enggak ngerokok, tapi malah ngemut permen lolipop,” Tutur  Pindi yang setengah bisik-bisik.

Diana hanya tersenyum dan tertawa dengan temannya ketika salah seorang dari mereka bilang kalau Arga suka Permen lolipop. Riang suasana kantin seketika Hening di waktu seorang siswa laki-laki menghampiri mereka. Laki-laki itu tidak lain ialah Randi.


Bersambung...........

2 komentar: